Kamis, 24 Mei 2012

Riwayat Sidharta Gautama

Kisah kehidupan Sidharta Gautama atau lebih dikenal dengan Sang Buddha atau Buddha Gotama atau Samana Gotama atau Sang Bhagava ini diambil dari beberapa sumber diantaranya Dhammacakka, Info Buddhis, Samaggi-Phala, dan Bhagavantisi

Kota Kapilavatthu
Ayah Sidharta Gautama adalah pemimpin suku Sakya, yang bernama Suddhodana. Raja Suddhodana mempunyai dua orang istri yaitu Maha Maya dan Prajapati(adik dari Maha Maya), mereka anak seorang raja dari suku Koliya (11 mil sebelah timur Kapilawastu). Ibu kandung Sidharta Gautama adalah seorang Ratu yang bernama Maha Maya. Mereka hidup di India, di sebuah kota yang disebut Kapilavatthu (kurang lebih 100 mil dari Utara timur Benares, luasnya 2000-3000 mil2, sekarang bernama Nepal di kaki pegunungan Himalaya. 

Ratu Maha Maya dan Raja Suddhodana
Ibu dari Pangeran Siddhattha (Bodhisattva). Mahāpadāna Sutta; Digha Nikaya 14. Ia adalah putri dari Raja Anjana dari suku Koliyā dengan Yasodharā, putri dari Raja Jayasena dari suku Sākya. Mahāmāyā atau disebut Māyā memiliki tiga saudara kandung yaitu: Suppabuddha [Ayah dari Devadatta dan Yasodhara], Dandapāni, dan Mahāpajāpatī Gotami. Mahāmāyā lahir di Devadaha.

Saat Ratu Maya berusia 45 tahun, ia hamil. (Mahāvamsa ii. hal .15 - dst) Mahāmāyā memiliki kualitas-kualitas yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi ibu bagi seorang Bodhisatta (calon Buddha), antara lain: ia tidak memiliki napsu yang berlebihan, ia tidak minum minuman yang memabukkan, ia berlatih pāramitā (kesempurnaan) selama ratusan ribu kappa, dan sejak lahir tidak pernah melakukan pelanggaran panca sila (lima kemoralan).

Pada masa awal pembuahan kandungan, ia mengikuti perayaan tahunan Uttarāsālhanakkhatta. Ia melakukan puasa, dan dalam tidurnya malam itu ia bermimpi: empat raja dewa mengangkat dan membawa dirinya duduk dikursi kerajaan menuju Manosilātala, di dekat Danau Anotatta di Himalaya. Di sana, ia ditempatkan di bawah naungan sebatang pohon sāla. Lalu, para istri dari keempat raja dewa itu mendekati dan memandikannya di danau tersebut. Mereka memakaikan busana surgawi, mengurapinya dengan minyak wangi, dan meriasinya dengan bunga-bunga surgawi. Mereka membiarkan dirinya tidur di dalam wisma keemasan yang terletak di sebuah gunung perak yang tidak jauh dari danau tersebut. Dalam mimpi itu, tampak olehnya seekor gajah putih yang membawa sekuntum teratai dengan belalainya yang berkilau. Gajah itu muncul dan mengelilinginya tiga kali searah jarum jam, lalu memasuki kandungannya melalui sisi kanan tubuhnya. Akhirnya, gajah itu menghilang, dan sang ratu terjaga dari tidurnya.

Ratu memberitahukan mimpi ini kepada Raja. Kemudian Raja lalu memanggil para brahmana untuk menanyakan arti mimpi tersebut. Para brahmana menerangkan bahwa Ratu akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi seorang Cakkavatti (Raja dari semua Raja) atau seorang Buddha. Memang sejak hari itu Ratu mengandung, dan Ratu Maya dapat melihat dengan jelas bayi dalam kandungannya yang duduk dalam sikap meditasi dengan muka menghadap ke depan.

Lahirnya Sidharta Gautama
Sepuluh bulan kemudian di bulan Vaisak, Ratu mohon perkenan dari Raja untuk dapat bersalin di rumah ibunya di Devadaha. Dalam perjalanan ke Devadaha, tibalah rombongan Ratu di Taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) yang indah sekali. Di kebun itu Ratu memerintahkan rombongan berhenti untuk beristirahat. Dengan gembira Ratu berjalan-jalan di taman dan berhenti di bawah pohon Sala. Pada waktu itulah Ratu merasa perutnya agak kurang enak. Dengan cepat dayang-dayang membuat tirai di sekeliling Ratu. Ratu berpegangan pada dahan pohon Sala dan dalam sikap berdiri itulah Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki (Jātaka i.h.49-dst). Ketika itu tepat purnama sidhi. (kelak Raja Asoka mendirikan suatu Pilar untuk memperingati hal ini).

Sesaat ia dilahirkan, Ia berjalan tujuh langkah dengan jari telunjuk tangan kanan menunjuk ke langit, dan jari telunjuk tangan kiri menunjuk ke bumi, yang artinya Akulah teragung, pemimpin alam semesta, guru para dewa dan manusia. Saat ia menapakkan kakinya ke bumi, timbullah tujuh kuntum bunga padma yang besar dibawah setiap langkahnya. Setiap ia telah melangkahkan kakinya, ia menghadap ke sepuluh penjuru. Para dewa yang mendampingi menjatuhkan bunga dan air suci untuk memandikannya.

Pada hari yang sama Sidharta Gautama dilahirkan, muncul (timbul) pula dalam dunia ini: Putri Yasodhara [Andak dari SuppaBuddha, saudara dari Devadatta, Yasodhara dikenal juga sebagai Rahulamata/Baddha kaccana, Istri Sidartha/ibu dari Rahula], Ananda [Anak dari Amitodana, saudara termuda Raja Suddhodana], yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha, Kanthaka, yang kelak menjadi kuda Pangeran Siddhattha, Channa, yang kelak menjadi kusir Pangeran Siddhattha, Kaludayi, yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilavatthu, Seekor gajah istana, Pohon Bodhi, di bawah pohon ini Pangeran Siddhattha kelak mendapatkan Penerangan Agung, Nidhikumbhi, kendi tempat harta pusaka.

Tidak jauh dari taman itu didalam rimba Asita, seorang Pertapa bernama Asita, yang mempunyai kemampuan membaca perubahan tanda-tanda alam dan masuk kealam para Dewa. Ia mengetahui ada kejadian luar biasa pertanda kelahiran seseorang yang Luar biasa. Saat itu Ia juga pergi ke Alam para Deva, Ia juga keheranan melihat para dewa sangat bersukacita pada hari itu dan mendapatkan konfirmasi ulang bahwa telah lahir seorang Calon Buddha. Ia kemudian menuju Istana. Ketika tiba, Ia melihat adanya 32 tanda dari seorang Mahapurisa (Manusia Agung) pada bayi tersebut, ia kemudian bersukacita dan memberikan hormat.

Melihat hal ini Raja pun turut memberi penghormatan kepada putranya. Setelah Petapa tersebut bergembira tidak berapa lama kemudian Ia menangis sehingga membuat kaget dan khawatir semua orang akan nasib Bayi itu Namun Petapa Asita menjelaskan bahwa ia menangis karena menyesal mengetahui umurnya sudah dekat hingga tidak berkesempatan mendapatkan berkah mendengar dan mengetahui Pengajaran Bayi itu kelak [Buddhaghosa, seorang Biksu India abad ke 5 M, menyatakan bahwa Asita mempunyai corak kulit hitam (SnA.ii.483), nama keduanya adalah Kanha Devala (SnA.ii.487) atau Kanha Siri (Sn.v.689) atau Siri Kanha (SnA.487) atau Kāla Devala (J.i.54)]. Petapa Asita kemudian terlahir di alam Arupa (Sn., pp.131-36; SnA.ii.483ff.; J.i.54f)]

Lima hari setelah lahirnya Sang bayi, Raja Suddhodana memanggil sanak keluarganya berkumpul, bersama-sama dengan seratus delapan orang Brahmana untuk merayakan kelahiran anak pertamanya dan juga untuk memilih nama yang baik. Nama yang kemudian dipilih adalah Siddhattha yang berarti "Tercapailah segala cita-citanya". Diantara para Brahmana terdapat 8 orang Brahmana yang mahir dalam meramal nasib, yaitu: Rama, Dhaja, Lakkhana, Manti, Kondañña, Bhoja, Suyama dan Sudatta. Para 7 peramal meramalkan bahwa Sang bayi kelak akan menjadi Cakkavati (Raja dari semua Raja) atau akan menjadi Buddha. Hanya Kondañña (Brahmana yang termuda) sajalah yang mengatakan dengan pasti bahwa Sang bayi kelak akan menjadi Buddha. Raja Suddhodana, menjadi khawatir karena Pertapa Asita (Kaladeva) juga telah meramalkan bahwa jika pangeran sudah melihat orang tua, orang sakit, orang meninggal, dan seorang Brahmana/Pertapa, maka pangeran akan meninggalkan istana untuk menjadi Pertapa, bukan menjadi seorang Raja.

Tujuh hari setelah Pangeran Siddhattha dilahirkan, Ratu Maha Maya wafat dan kemudian terlahir di surga Tusita sebagai putra dewa dengan nama Mayadevaputta (Kitab Komentar Theragāthā i.502) atau Santusita. Adik Ratu Maha Maya yaitu Maha Pajapati Gotami yang juga merupaan isteri Raja Suddhodana menggantikan posisi Ratu Maha Maya sebagai ratu sekaligus ibu bagi si pangeran kecil. Dari Maha Pajapati Gotami, Raja Sudhodana mempunyai lagi seorang putra bernama Nanda (yang lahir beberapa hari setelah Pangeran Siddhattha lahir) dan seorang putri bernama Nanda [Sundari Nanda]. Maha Pajapati Gotami merawat Pangeran Siddhattha seperti merawat putranya sendiri Pangeran Nanda.

Prajapati Gotami Mengurus Pangeran Siddharta yang masih bayi
Adik Ratu Maha Maya, Prajapati Gotami mengurus pangeran yang masih bayi dengan cinta kasih seperti mengurus anaknya sendiri. Pangeran Siddhartha adalah anak yang sehat dan bahagia. Saat berusia 8 tahun, Ia mempunyai Guru bernama Visvamitra.
[Note: Rama, salah satu Avatar Wisnu, juga mempunyai guru yang berama Visvamitra.]

Pangeran Siddharta merupakan murid yang terpandai di kelasnya dan yang terbaik dalam segala permainan. Ia sangat cepat memahami segala sesuatunya dan melebihi dari apa yang diajarkan tanpa melihat buku sehingga Gurunya heran kemudian bersujud dihadapan muridnya dan berkata: "Bukan aku, hanya Kaulah yang menjadi Guru, terimalah hormatku". Pada umur 12 tahun, Pangeran Sidharta telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu: sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama). Dia juga menguasai Tevijja [3 Veda: Irubbeda/Iruveda=Rg; yaju & sāma(Miln 178; DA i.247; SnA 447)].

Cinta kasih Pangeran Siddharta
Pangeran Siddharta, karena Ia adalah seorang pangeran, hidupnya adalah lebih menyenangkan dan bisa saja ia memilih untuk mengabaikan masalah-masalah orang lain. Namun hal ini justru tidak dilakukan oleh Pangeran Sidharta, Ia terkenal sebagai seorang yang sangat simpatik dan mudah merasa simpati terhadap orang lain. Ia sangat baik kepada semua orang, kudanya dan terhadap binatang-binatang lain.

Pangeran Siddharta Melindungi Seekor Ular
Pangeran Siddhartha selalu menjaga agar tidak melakukan hal yang dapat mengganggu semua makhluk. Sebagai contoh, suatu hari pangeran Siddharta melihat seorang anak kota memukul seekor ular dengan kayu. Pangeran Siddharta segera menghentikannya, dan memberitahu kepadanya agar tidak melukai ular itu.

Menyelamatkan Angsa Yang Dipanah Oleh Devadatta
Suatu hari, pangeran Siddhartha sedang bermain dengan teman-temannya di taman istana. Salah satu dari mereka adalah sepupunya, Pangeran Devadatta. Pangeran Siddhartha adalah seorang yang lembut dan baik, sedangkan pangeran Devadatta adalah seorang yang kejam dan suka membunuh makhluk lain. Ketika mereka sedang bermain, pangeran Devadatta membidik seekor angsa dengan panahnya. Angsa itu terluka parah. namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut serta memberikan obat pada lukanya.

Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut.

Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke makamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut. Setelah diajukan ke makamah para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, “Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddhattha!”

Perayaan Membajak
Pangeran Siddhartha suka mengamati sesuatu yang terjadi dan berpikir mengenai berbagai hal. Suatu hari ayahnya mengajaknya ke perayaan membajak sawah tahunan. Sang raja memulai upacara dengan menunggang sepasang kerbau yang telah dihias indah. Pangeran Siddhartha duduk di bawah pohon jambu dan mengamati semua orang. Pangeran Siddharta memperhatikan ketika orang-orang sedang senang, sepasang kerbau itu harus bekerja keras dan membajak sawah. Kerbau-kerbau itu tidak tampak senang sama sekali.

Melihat Kehidupan Yang Alami
Kemudian pangeran Siddhartha mengamati makhluk lain disekitarnya. Ada seekor kadal sedang memakan semut-semut. Tetapi ular segera datang, menangkap kadal, dan memakannya. Kemudian, tiba-tiba seekor burung datang dari langit dan memangsa ular itu. Pangeran Siddhartha sadar bahwa semua makhluk ini senang sebentar, tetapi berakhir menderita.

Pangeran Siddhartha ditemukan sedang bermeditasi
Pangeran Siddhartha merenungi apa yang dilihatnya. Meskipun Ia bahagia, ada sejumlah penderitaan dalam hidup. Sehingga hatinya merasa begitu bersimpati terhadap semua makhluk. Ketika sang raja dan para pembantunya menyadari sang pangeran tidak ada di antara kerumunan, Para pelayan pergi mencarinya. Mereka terkejut menemukan sang pangeran duduk dengan kaki bersila, dalam meditasi yang dalam. Dengan cepat mereka melaporkan peristiwa tersebut kepada Raja. Raja dengan diiringi para petani berbondong-bondong datang untuk menyaksikan peristiwa ganjil tersebut.

Benar saja mereka menemukan Pangeran kecil sedang bermeditasi dengan kaki bersila dan tidak menghiraukan kehadiran orang-orang yang sedang memperhatikannya. Karena Pangeran saat itu telah mencapai Jhana, yaitu suatu tingkatan pemusatan pikiran, maka sama sekali tidak terganggu oleh suara-suara yang berisik. Ada lagi satu keajaiban lain. Bayangan pohon jambu tidak mengikuti jalannya matahari tetapi tetap memayungi Pangeran kecil yang sedang bermeditasi. Melihat keadaan yang ganjil ini untuk kedua kalinya Raja Suddhodana memberi hormat kepada anaknya.

Sang Raja memberikan Siddhartha sebuah istana
Raja Suddhodana tidak ingin anaknya berpikir hal-hal yang mendalam mengenai kehidupan. Ia ingat bahwa orang-orang bijak (Bramana/Pertapa) telah memprediksikan bahwa anaknya akan meninggalkan istana dan menjadi seorang bhikkhu.

Jadi, dalam rangka menarik perhatiannya, sang raja kemudian mendirikan sebuah istana yang megah. Raja memerintahkan untuk membuat tiga kolam di halaman istana. Di kolam-kolam itu ditanami berbagai jenis bunga teratai (lotus). Satu kolam dengan bunga teratai yang berwarna biru (Upala), satu kolam dengan bunga yang berwarna merah (Paduma), dan satu kolam lagi dengan bunga yang berwarna putih (Pundarika).

Selain tiga kolam tersebut, Raja juga memesan wangi-wangian, pakaian dan tutup kepala dari negara Kasi, yang terkenal sebagai penghasil barang-barang bermutu terbaik. Pelayan-pelayan diperintahkan untuk melindungi Pangeran, baik siang maupun malam hari sebagai lambang dari keagungannya. Tetapi itu tidak menghentikan Pangeran Siddharta dari pemikiran mengenai penderitaan dan ketidakbahagiaan yang terjadi disekitarnya.

Mempelai wanita Siddhartha, Ratu Yasodhara
Saat Usia Sidharta 16 Tahun, Siddhartha tumbuh besar menjadi seorang pria muda yang tampan lagi kuat. Sekarang ia sudah cukup umur untuk menikah. Untuk menghentikan Siddhartha dari pikiran-pikirannya dan juga mencegahnya untuk meninggalkan rumah, Raja Suddhodana kemudian mengatur pernikahan anaknya dengan sepupunya yang cantik menawan, yaitu Putri Yasodhara.

Perlombaan Memanah, Pedang & menjinakkan kuda
Mengikuti tradisi, Ayah Yasodara (Suppabuddha, Raja Koliya) kemudian mengadakan perlombaan untuk mendapatkan Putrinya dan juga untuk membuktikan seberapa layak Siddhartha berhak mendapatkan Yasodhara. Saat perlombaan itu, yang menjadi lawannya adalah Dewadatta yang terkenal pandai memanah, Arjuna pandai menunggang Kuda dan Nanda pandai permainan Pedang. Pada pertandingan Panah, karena kuatnya tarikan lengan Siharta, maka beberapa kali Busur Panahnya Patah, sehingga ia kemudian mengambil suatu Busur panah yang tersimpan sudah sangat lama dalam suatu Biara. Busur itu terbuat dari Baja Hitam yang berbalut emas bernama "Sinhahanu". Busur itu sangat berat dan harus digotong oleh 4 orang. Dewadatta mencoba menarik busur itu namun tidak berhasil merentangkannya. Dengan Busur itu, ia kemudian memanah Tambur yang lebih jauh dari Dewadatta dan kemudian panah tersebut masuk kedalam suatu sumur.

Pada pertandingan berikutnya, Pedang Sidharta mampu menebas Pohon yang tebalnya 2 kali 9 Jari, karena kuat dan cepatnya Tebasan tersebut, Pohon itu tidak segera tumbang, setelah Angin meniupnya baru pohon Itu tumbang.

Sayembara terakhir adalah Menunggang Kuda, Sidharta menunggangi Kantaka dan menang, namun Nanda protes dan meminta untuk dicarikan kuda lainnya seperti kantaka. Didapatlah seekor kuda berbulu hitam yang terikat 3 rantai besi. Dewaddata, Arjuna dan Nanda berusaha menungganginya namun jatuh. Sidharta kemudian mencoba menjinakkan kuda liar. Siddhartha menjinakkan kuda tidak dengan memukulnya, seperti yang dilakukan peserta lainnya, melainkan dengan berbicara dengan kuda itu dan membelainya dengan lembut dan menungganginya.

Putri Yasodhara akhirnya menikah dengan Sidharta dalam upacara yang meriah. Pada banyak tahun kemudian, yaitu ketika Sidharta telah menjadi Buddha, ia berkata bahwa dalam banyak kehidupannya sebelumnya, Ia dan Yasodhara selalu menjadi Pasangan.

Istana yang menyenangkan
Masih dalam upaya untuk menghentikan pangeran Siddharta dari pikiran-pikirannya untuk meninggalkan rumah maka setelah menikah, Raja Suddhodana membangun sebuah istana yang dinamakan Wishramwan yang ditengah-tengahnya terdapat 3 Taman yang airnya berasal dari sungai Rohini (sekarang, bernama Kohana).

Di antara taman, di puncak bukit, didirikan paseban dengan tiang-tiang dan balok-balok yang diukir dengan hikayat jaman Kuno yaitu Krishna dan Radha, Sita dengan Rama dan Hanoman juga tentang Droupadi, ditengah-tengahnya ada patung Dewa Ganesha. Para penari dan penyanyi diminta untuk menghibur mereka, dan hanya orang-orang yang sehat dan muda saja yang diizinkan masuk ke dalam istana dan taman istana agar pangeran Siddhartha tidak dapat mengetahui bahwa semua orang bisa sakit, tua dan meninggal. Meskipun raja Suddhodana berusaha sedemikian rupa, pangeran Siddharta tetap tidak merasa bahagia dan tetap ingin mengetahui seperti apa kehidupan di luar tembok istana. Untuk itu ia meminta ijin Raja Sudhodana.

4 Tanda: Lanjut Usia
Akhirnya, Raja Suddhodana mengizinkan pangeran Siddhartha pergi mengunjungi kota-kota terdekat. Pangeran Siddhartha pergi bersama kusirnya, Channa. Dalam kunjungannya, pangeran Siddhartha melihat seorang kakek berambut putih yang berpakaian kumal. Itu sangat mengejutkannya karena pangeran Siddharta belum pernah melihat orang tua sebelumnya. Channa menjelaskan padanya bahwa itu adalah orang tua dan setiap orang kelak akan menjadi tua. Siddhartha merasa takut dan meminta Channa untuk membawanya pulang. Pada malam hari, Pangeran Siddharta tidak dapat tidur dan terus memikirkan mengenai ketuaan.

4 Tanda: Penyakit
Meskipun pangeran Siddhartha merasa haru, takut dengan ketuaan, ia ingin melihat lebih lanjut mengenai dunia luar. Pada kunjungan berikutnya, kali ini dengan menyamar, pangeran Siddharta melihat seseorang berbaring di tanah dan mengeluh. Merasa simpati, ia berlari ke orang itu. Channa memberitahu bahwa orang itu sakit dan setiap orang, bahkan orang-orang bangsawan seperti Siddhartha, atau sang raja, bisa sakit.

4 Tanda: Kematian
Pada kunjungan ketiganya, pangeran Siddhartha dan Channa melihat empat orang membawa seorang yang terbaring di atas papan. Channa memberitahu pangeran Siddhartha bahwa orang yang dibawa itu telah meninggal dan akan dikremasi (dibakar). Channa juga mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kematian, dan setiap orang akan mati pada suatu hari kelak. Ketika mereka kembali ke istana, pangeran Siddhartha terus berpikir mengenai apa yang telah dilihatnya. Akhirnya, pangeran Siddharta bertekad untuk mencari jalan keluar dari usia lanjut, penyakit dan kematian.

4 tanda: Seorang Pertapa
Beberapa saat kemudian, ketika pangeran Siddharta sedang menunggang kuda di dalam taman, ia melihat seorang pria berpakaian kuning. Pangeran Siddharta mengamati bahwa orang itu terlihat sangat damai dan bahagia. Channa menjelaskan bahwa orang tersebut adalah seorang pertapa. Pertapa itu telah meninggalkan keluarganya dan juga meninggalkan hasratnya akan kesenangan untuk mencari kebebasan dari penderitaan duniawi. Pangeran Siddharta terinspirasi dengan pandangan si pertapa itu dan mulai ingin meninggalkan istana untuk mencari kebebasan dengan cara yang sama (Beberapa Literatur, menyatakan bahwa Ia tidaklah bertemu dengan pertapa, namun muncul ketika ia merenung dibawah pohon jambu dan kemudian bercakap-cakap dengannya).

Tidak lama kemudian, datanglah dayang-dayang yang memberitahukan bahwa Putri Yasodhara telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Mendengar berita ini, Pangeran bukannya bergembira tetapi mukanya justru menjadi pucat. Pangeran mengangkat kepalanya menghadap langit yang tinggi dan kemudian berkata, "Rahulajato, bandhanam jatam."

Yang berarti : "Satu jerat telah terlahir, satu ikatan telah terlahir." Karena ucapan ini maka bayi yang baru lahir kemudian diberi nama "Rahula".

Dalam perjalanan pulang ke istana, melewati tempat kediaman para Bangsawan, Sidharta bertemu dengan Kisa(Krishna) Gotami, Ponakan dari Baginda Raja, yang karena kagumnya melihat Sidharta kemudian mengucapkan kata-kata sebagai berikut :

"Nibbuta nuna sa mata, Nibbuta nuna so pita, Nibbuta nuna sa nari, Yassa yam idiso pati."


Yang berarti : "Tenanglah ibunya, Tenanglah ayahnya, Tenanglah istrinya, Yang mempunyai suami seperti Anda."

Pangeran terkejut dan tergetar hatinya mendengar perkataan "Nibbuta" yang berarti: "tenang, padam semua nafsu-nafsu", Sehingga Beliau menghadiahkan Kisa Gotami sebuah kalung emas yang sedang dipakainya.

Pada saat itu, istrinya melahirkan seorang bayi yang diberi nama Rahula. Meskipun pangeran Siddhartha mencintai anaknya, ia tidak begitu gembira setelah kunjungan-kunjungannya itu. Pangeran Siddharta sadar bahwa sekarang menjadi lebih sulit baginya untuk meninggalkan istana. Yasodara pun mengetahui akan hal itu, sehingga dalam tidurnya Ia sering mengigau "Waktunya sudah sampai! Temponya sudah datang!"

Menjauh dari para penari
Sejak memutuskan ingin meninggalkan istana, pangeran Siddharta kehilangan ketertarikannya menonton tarian kesenangan - kesenangan sejenisnya. Ia terus berpikir mengenai bagaimana membebaskan dirinya dan yang lainnya dari penyakit, usia lanjut dan kematian. Akhirnya, Pangeran Siddharta memutuskan harus meninggalkan istana dan keluarganya dan menjadi seorang pertapa (tanpa rumah), dalam rangka memahami kehidupan dan apa yang menyebabkan penderitaan.

Siddhartha meninggalkan rumah
Suatu malam, ketika orang-orang istana sedang tidur, Ia berdiri mengawasi Yasodara yang ia cintai tengah pulas sambil memeluk Rahula. Ia berlutut dan mencium kaki Yasodara. Ia mengawasi sekali lagi paras yang cantik itu dan ucapkan perkataan selamat tinggal, Hatinya ingin memondong bayi untuk diciumnya sebelum berangkat tapi ia kawatir Ibu dan anak bangun, tiga kali ia bolak-balik keluar masuk kamar seperti tertarik besi sembrani. Inilah suatu pergulatan yang jarang dapat dikalahkan. Setelah berjanji akan kembali setelah berhasil, akhirnya ia pergi dan melewati tempat dayang-dayangnya yang muda dan cantik. Kemudian pangeran Siddhartha menuju ketempat kusirnya dan membangunkannya, Ia meminta Channa untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka.

Melihat Kapilavatthu untuk terakhir kalinya
Dalam kesunyian malam, Pangeran Siddhartha menunggang Kanthaka. Bersama Channa, ia meninggalkan istana dan kota Kapilavatthu. Setelah sampai di luar kota, Pangeran berhenti sejenak dan memutar kudanya untuk melihat kota Kapilavatthu untuk terakhir kali (di tempat itu kemudian didirikan sebuah cetiya yang dinamakan Kanthakanivattana-cetiya). Saat itu terang bulan di bulan Asalha. Perjalanan diteruskan melintasi perbatasan negara Sakya, Koliya, dan Malla, kemudian dengan satu kali loncatan menyeberangi Sungai Anoma.

Pangeran turun dari kuda, melepas semua perhiasannya dan memberikannya kepada Channa, mencukur kumisnya, memotong rambut di kepalanya dengan pedang dan melemparkannya ke udara (yang disambut oleh Dewa Sakka/Sakra(Indra) dan membawanya ke surga Tavatimsa untuk dipuja di Culamani-cetiya). Rambut yang tersisa sepanjang dua anguli (± dua inci) semasa hidupnya tetap sepanjang itu dan tidak tumbuh-tumbuh lagi.

Selanjutnya, Brahma Chatikara mempersembahkan keperluan seorang pertapa kepada Pangeran yang terdiri dari delapan jenis barang, yaitu: jubah luar, jubah dalam, kain bawah, ikat pinggang, mangkuk makanan, pisau, jarum, dan saringan air. Setelah menukar pakaiannya dengan jubah pertapa, Pangeran memerintahkan Channa untuk kembali ke istana. Pada awalnya, Channa dan Kanthaka menolak untuk kembali, tetapi pangeran Siddhartha menegaskan harus pergi dan berkata, "Jangan Channa, bawa pakaian dan perhiasan ini kembali, berikan kepada Ayahku dan sampaikan pesanku untuk Ayah, Ibu, dan Yasodhara untuk jangan terlalu bersusah hati. Aku akan mencari obat untuk menghentikan usia tua, sakit, dan mati.

Segera setelah aku memperolehnya, aku kembali ke istana untuk memberikannya kepada Ayah, Ibu, Yasodhara, Rahula, dan kepada semua orang yang ada di dunia ini."Dengan air mata bercucuran di wajahnya, Channa dan Kanthaka mengamati perginya pangeran Siddharta berjalan kaki menjauh. Kembalinya Channa bersama Kanthaka (tanpa Pangeran) ke Kapilavatthu disambut oleh Raja dan seluruh penghuni istana dengan ratapan dan tangisan. Channa menyerahkan perhiasan, pedang serta pakaian Pangeran kepada Baginda Raja, menyampaikan salam perpisahan Pangeran kepada Ibunya dan Yasodhara beserta segenap keluarga lainnya. Selanjutnya Channa memberitahukan bahwa Pangeran sekarang berada di tepi Sungai Anoma di negara Malla. Meskipun menyesali kepergian Pangeran Siddhattha, tetapi Raja tahu bahwa kepergiannya itu sesuai dengan ramalan pertapa Asita dan Kondañña dan mengharap-harap cemas bila kiranya Pangeran akan berhasil menjadi seorang Buddha. Mulai hari itu Raja selalu mengikuti keadaan Pangeran dengan menyuruh orang menyelidiki dan melaporkan kepada Raja segala sesuatu yang dikerjakan Pangeran dan dimana Beliau berada.

Hidup sebagai pertapa
Usianya saat itu 29 tahun, Siddhartha mulai menjalani kehidupan tanpa rumah sebagai seorang pertapa. Dari Kapilavatthu, Sidharta berjalan ke arah selatan menuju Rajagaha, ibukota negara Magadha. Raja negara ini bernama Bimbisara. Di sebuah Gunung yaitu Ratnagiri (disebelah timur) Ia mengambil tempat, setiap pagi hari ia kekota, Siddhartha mendapatkan makanannya dengan jalan seperti para pertapa lainnya yaitu terserah dari apa yang orang hendak berikan.

Simpati terhadap seekor domba yang terluka
Setelah makan, Siddhartha memutuskan untuk pergi ke pegunungan dimana orang-orang yang hidup menyendiri dan orang-orang bijak tinggal. Dalam perjalanannya menuju kesana, Siddharta melewati sekumpulan domba. Para penggembala mengarahkan domba-dombanya ke Rajagaha untuk dikorbankan dalam suatu upacara pembakaran. Satu domba kecil terluka. Karena simpati, Siddhartha menggendong domba itu dan mengikuti para penggembala domba kembali ke kota.

Menghentikan pengorbanan binatang
Di kota, dalam suat pemujaan di rumah pemujaan, terdapat api menyala di atas altar, Raja Bimbisara dan sekelompok pendeta sedang melakukan upacara mereka kepada Dewa Indra diseputaran api. Diseputaran Api itu telah banyak darah mengucur sebelumnya dan Ketika seorang pemimpin dari para pemuja api itu mengangkat pedangnya untuk membunuh domba pertama, Siddhartha menghampiri pendeta itu dan meminta kepada raja untuk menghentikannya kemudian membuka tali yang mengikat domab itu dan tidak ada seorangpun yang sanggup mencegahnya. Siddharta meminta ijin raja Bimbisara untuk berbicara dan ini merupakan kotbah pertama Sidharta yang ringkasnya adalah semua dapat bikin musnah jiwa-jiwa mahluk lain namun tidak ada yang dapat bikin hidup mahluk yang sudah mati, Bagi yang ingin dikasihani Dewa-dewa kita juga mesti mengasihani mahluk lainnya, manusia tidak nanti dapat membersihkan jiwa mereka dengan menggunakan darah,

Siapa yang menabur penderitaan memetik buah yang sama
Sambil menghampiri Raja dengan merangkapkan keua tangan, ia berkata pula bahwa Alangkah indahnya kalau semua mahluk hidup saling berbuat yang baik terhadap yang lain. Setelah "Jika manusia mengharapkan belas kasih, mereka seharusnya menunjukkan belas kasih. Sesuai dengan hukum sebab-akibat (karma), mereka yang membunuh makhluk lain akan, pada gilirannya, dibunuh. Jika kita mengharapkan kebahagiaan di masa depan, kita tidak boleh melukai semua makhluk. Siapapun yang menabur penderitaan akan menuai buah yang sama. Alangkah indahnya kalau semua mahluk hidup saling berbuat yang baik terhadap yang lain. Ucapan ini mengubah pikiran raja Bimbisara sepenuhnya, Raja Bimbisara kemudian membuat maklumat bahwa sejak saat itu dilarang menumpahkan darah binatang-binatang baik untuk persembahan para Dewa maupun dimakan dagingnya kemudian Ia mengundang Siddhartha untuk tinggal dan mengajari rakyatnya. Tetapi Siddhartha menolak, karena ia belum menemukan kebenaran yang dicarinya.

Siddhartha dengan Alara Kalama
Setelah Siddhartha meninggalkan Rajagaha, ia pergi untuk melihat orang bijak yang bernama Alara Kalama (Arada). Siddharta tinggal dengan orang bijak itu dan belajar dengan giat. namun dengan segera, Siddharta tahu sebanyak yang diketahui gurunya namun masih terdapat hal-hal mengganjal baginya Ia masih tidak mengetahui cara menuju kebebasan dari segala penderitaan. Oleh karena itu Siddharta berterima kasih kepada Alara Kalama dan pergi mencari guru lain.

Mencari kebenaran
Siddhartha kemudian belajar dengan orang bijak lain yang bernama Uddaka Ramaputta. Ia mempelajari bagaimana membuat pikirannya sangat tenang (diam) dan kosong dari segala pikiran dan emosi. Tetapi Siddharta masih juga tidak memahami misteri kehidupan dan kematian, Ia tidak menemukan kebebasan sepenuhnya dari penderitaan yang dicarinya. Sekali lagi, Siddhartha berterima kasih kepada gurunya dan pergi. Ia mendapat kenyataan bahwa kebanyakan pelajaran yang diberikan oleh guru-guru agama hanya diambil dari satu cabang bukan pokoknyai, kali ini, Siddharta memutuskan untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya dengan kebijakan dan usahanya sendiri.

Mencoba praktek tapabrata (hidup tanpa kenikmatan duniawi)
Ia kemudian menuju kearah utara pegunungan Windya. Pada waktu itu, banyak para Bhikkhu/Pertapa/Brahmana yang berkelana yang tergolong ke berbagai sekte. Mereka telah meninggalkan keluarganya untuk menjadi asetik (menjalani kehidupan tanpa kenikmatan duniawi). Mereka percaya bahwa dengan membuat diri mereka kelaparan atau menyiksa tubuhnya, mereka akan dilahirkan kembali di surga. Kepercayaan mereka adalah bahwa semakin mereka menderita dalam kehidupan ini, semakin besar kenikmatan yang akan mereka peroleh di masa depan. Sehingga beberapa diantaranya makan sedikit sekali, beberapa berdiri di atas satu kaki untuk waktu yang lama, dan yang lainnya tidur di atas papan yang berlapis paku-paku tajam.

Pangeran Siddhartha sang pertapa
Pangeran Siddhartha juga berusaha untuk menjadi seorang pertapa. Ia berpikir jika berlatih dengan keras, akan menjadi tercerahkan (yaitu, mengetahui cara dan mampu mengatasi penderitaan). Jadi Pangeran Siddharta menemukan tempat di Uruvela dekat sebuah sungai dan desa, dimana ia dapat mencuci dan mendapatkan makanan hariannya. Ada lima orang lainnya yang tinggal di sana, dan mereka menjadi kawan pangeran Siddhartha. Seperti pangeran Siddhartha, mereka juga berpraktek tapabrata. Nama kelima orang tersebut adalah Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama dan Assaji.

Penderitaan yang disebabkan oleh praktek ekstrim
Pangeran Siddhartha mempraktekkan berbagai bentuk tapabrata selama enam tahun. Ia mengurangi makannya terus menerus sampai tidak makan sama sekali. Pangeran Siddharta menjadi sangat kurus, Tentu saja, kesehatannya memburuk dan badannya kurus sekali. Kala perutnya ditekan maka tulang punggungnya dapat dipegang dan kalau punggungnya ditekan maka perutnya dapat dipegang. Ia merupakan tengkorak hidup dengan tulang-tulang dilapisi kulit dan dagingnya sudah tidak ada lagi. Warna kulitnya beruba menjadi hitam dan rambutnya banyak yang rontok. Kalau berdiri tidak bisa diam karena kakinya gemetaran tetapi Ia masih tidak ingin menyerah. Suatu hari, ketika meditasi sendirian pangeran Siddharta pingsan, terlalu letih oleh praktek-praktek tapabrata tersebut.

Pertolongan dari anak penggembala, Penari dan Penyanyi
Pada waktu itu, lewat seorang anak penggembala dengan seekor kambing. Ia melihat pangeran Siddhartha dan sadar bahwa tanpa makanan pangeran Siddhartha akan segera mati. Pada saat itu di Hindustanterdapat pantangan bahwa kapbila bersentuhan dengan kasta rendah maka hilanglah kesucian kaum Brahmana. Ia peras susu kambing tersebut dan dikucurkan kemulut Sidharta hati-hati agar tidak menyenggol badannya. Setelah siuman, Sidharta meminta lagi susu kambing itu dan anak tersebut menolak lantaran ia sebagai kasta Sudra, Lalu Sidharta Berkata " Darah manusia tidak mengenal perbedaan, begitu pula airmata, Siapa manusia yang lakukan perbuatan benar ialah seorang suci"

Anak Gembala itu tercengang karena anggapan itu belum pernah ia dapatkan sebelumnya dan memberinya susu kambing. Siddhartha mulai merasa lebih baik. Pangeran Siddharta sadar bahwa tanpa pertolongan anak gembala itu, ia dapat tewas sebelum mencapai pencerahan. Ia kemudian melihat bahwa cara ini tidak membawanya ke Penerangan Agung. kemudian timbul dalam batinnya tiga buah perumpamaan yang sebelumnya tak pernah terpikir.

Pertama:
Kalau sekiranya sepotong kayu diletakkan di dalam air dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, "Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas." Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang masih terikat kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan batinnya masih ingin menikmatinya pasti tak akan berhasil.

Kedua:
Kalau sekiranya sepotong kayu basah diletakkan di tanah yang kering dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, "Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas." Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria tetapi batinnya masih ingin menikmatinya pasti juga tidak akan berhasil.

Ketiga:
Kalau sekiranya sepotong kayu kering diletakkan di tanah yang kering dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, "Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas." Orang ini pasti dapat membuat api dari kayu kering itu. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan batinnya juga tidak terikat lagi, maka pertapa dan Brahmana itu berada dalam keadaan yang baik sekali untuk memperoleh Penerangan Agung.

Namun, pelajaran-pelajaran dari orang-orang berbagai kasta belumlah usai, Suatu ketika lewatlah kawanan penyanyi yang terdiri dari perempuan muda dan beberapak lelaki dan mendendangkan suatu lagu yang kurang lebih berbunyi "Kalau sitar dipentang terlalu keras, talinya putus, lagu pergi, kalau tali terlalu kendor iapun tidak bisa bersuara, ia punya nada tidak boleh terlalu kendor atau terlalu kencang, orang yang memainkan mesti bisa menimbang dan memperkirakannya".

Sidartha terheran-heran dan berkata "Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) harus menerima pelajaran dari seorang penari ronggeng. Karena bodoh aku telah menarik demikian keras tali kehidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendur.".

Pertolongan Anak Tani, Nandabala yang memberikan Tajin & Sujata menawarkan susu beras
Ketika Sidharta pergi mandi, Ia tidak kuat berbangkit di air hampir tenggelam dan untunglah ada suatu cabang pohon ia merayap naik dan dengan perlahan berlalu dari sungai. menuju tempat pertapaannya, tidak berapa lama kemudian ia roboh dengan tubuh tidak bergerak. Kelima Pertapa yang bersamanya mengira bahwa ia sudah mati. Kebetulan hari itu ada seorang anak perempuan bernama Nandabala dan Sidharta diberikan nasi Tajin olehnya. Kelima Pertapa tadi tidak senang dan menganggap bahwa Siddhartha telah menjadi rakus sehingga mereka meninggalkannya sendirian. Sidharta bersedih karena mereka telah menduga secara keliru dan tidak ada lagi kawan yang mau mendekati dan menunjukan simpati pada Sidharta. Sejak saat itu, pangeran Siddhartha mulai makan dengan normal. Kesehatannya segera pulih sepenuhnya. Sekarang jelas baginya bahwa tapabrata bukan cara menuju pencerahan. Bagaimanapun, kelima kawannya melanjutkan praktek-praktek tapabrata mereka. Tempat ia tinggal berdekatan dengan seorang Tani bernama Senani dan mempunyai Istri bernama Sujata, Suatu pagi, Ia memberikan persembahan kepada Dewa, Ia melihat Sidharta tengah bersemedi dan menganggapnya sebagai Dewa, kemudian Sujata mempersembahkan Siddhartha beberapa susu beras yang lezat.

Berjanji untuk mendapatkan kebenaran
Setelah makan, Sidharta bertanya maksud dan tujuan Sujata memberikan persembahan itu. Sujata menjawab bahwa ia membuat haturan terima kasih untuk membayar kaul telah diberikan anak lelaki. Sidartha menyatakan bahwa Ia bukan Dewa hanya manusia biasa dan memberi berkat kepada anak itu. Sidharta bertanya apakah ia merasa cukup beruntung dan penghidupan seperti ini yang ia harapkan.

Sujata menjawab, "Aku tidak mengharapkan banyak, ia merasa cukup beruntung hany dengan memandang wajah suaminya, senyuman bayi-nya. Setiap hari, aku dengan senang hati mengurus pekerjaan rumah tangga, sesudah sembahyang pada Dewa, aku memasak, ketika Suami-ku kembali dari pekerjaan dan merebahkan kepalanya di pangkuakua maka aku kipas2kan badannya yang kegerahan itu, membuat senang kupingnya dengan nyanyian yang lemah lembut, mempersembahkan suguhan dan kue, ketika bintang-bintang muncul kami pergi tidur.

Sehabis ke kuil, berbincang-bincang dengan beberapa sahabat, Jadi bagaimanakah aku tidak merasa beruntung karena nantinya aku dipimpin oleh roh suamiku ke sorga, sebab dalam kitab2 suci dikatakan bahwa barang siapa yang menanam pohon dipinggir jalan buat berteduh orang yang lewat, atau menggali sumur untuk orang yang kehausan, mempunyai putra lelaki, maka saat Ia meninggal akan mendapat berkah.

Apa yang dikatakan oleh kitab-kitab itu aku percaya, karena aku tidak mempunyai kepintaran yang dapat bercakap2 dengan para Dewa, tahu segala doa-doa yang manjur, Aku juga pikir bahwa kebaikan mestinya datang dari perbuatan baik dan kejahatan datangnya dari perbuatan jahat. Ini adalah hal yang pasti. Maka, bagi orang yang berkelakuan baik, kalau sudah datang waktunya untuk mati, apakah yang perlu ditakuti? Apakah bedanya nasib kita di hari nanti dengan yang sekarang ini? Barang kali di akhirat ada lebih baik, sebab sebutir padi kalau ditanam mengeluarkan 50 butir.

Ah Tuanku, aku tahu bahwa manusia suatu waktu akan mengalami kesusahan yang nantinya akan rebahkan mukanya di dalam lumpur. Kalau putra-ku mesti berangkat dulu, tetunya hatiku bakal hancur, malah aku mau bilang bahwa ingin hatiku ini jadi hancur betul-betul supaya aku dapat terus peluki rohnya hingga diakhirat sambil menantikan kedatangan suamiku, buat menyambutnya dan terus merawatnya. Tapi kalau suamiku mati dulu, maka aku akan nanti naik di atas pembakaran mayatnya, meletakan kepalanya dipangkuanku seperti biasanya dan memandang dengan girang nyala api yang membuat kita berdua bersama menjadi abu.

Didalam kitab suci sudah tertulis, kalau seorang istri meninggal dengan cara demikian, kecintaannya itu dapat memberikan surga untuk suaminya untuk banyak tahun beberapa ratus kali lipat dari sebanyak rambut yang ada di kepala istrinya. Itulah sebabnya aku tidak takut segala kesusahan dan kesedihan yang mengancam. Inilah juga sebabnya, Tuanku yang suci, dipenghidupanku yang penuh kegirangan ini, aku juga tidak melupakan orang-orang yang hidup miskin dan melarat, menjauhi yang jahat dan bercilaka, Kepada Dewa, aku memohon belas kasihnya. Buat aku sendiri, segala apa yang kurasa baik dan benar, aku lakukan dan hidup menurut kebenaran, dengan menaruh percaya pada apa yang datang dan hendak datang, maka nantinya akan datang dengan baik".

Sesudah mendengarkan keterangan Sujata, Sidharta menyahut, "Kau sudah berikan pengajaran kepada mereka yang mesti menjadi guru, Keteranganmu begitu sederhana dan terdapat sari kebenaran yang lebih nyata dengan kebajikan yang tinggi, Walaupun kau tidak kenal dengan aliran apapun, tapi kau sudah sampai jalan dari kebenaran dan kewajiban, oh, Bunga biarlah kau mekar dengan sempurna dan sebarkan keharumanmu dipojokan yang teduh! Itulah cahaya matahari kebenaran. Kau sudah puja aku, oh hati yang baik sekali, dengan tanpa sengaja kau sudah pelajari apa yang paling betul, Biarlah aku juga temukan apa yang aku cari! Aku pandang kau sebagai satu dewa, maka doakan Aku agar maksudku terlaksana".

Sujata kemudian berkata kepadanya: "Semoga engkau berhasil dalam mencapai harapan-harapanmu!"

Pertapa Gotama kemudian melanjutkan perjalanan dengan membawa mangkuk kosong. Ia menuju ke tepi Sungai Nerañjara dalam perjalanannya ke Gaya. Tiba di tepi sungai Pertapa Gotama melempar mangkuknya ke tengah sungai dan berkata, "Kalau memang waktunya sudah tiba, mangkuk ini akan mengalir melawan arus dan bukan mengikuti arus." Suatu keajaiban terjadi karena mangkuk itu ternyata mengalir melawan arus.

Pada hari yang sama, pangeran Siddhartha menerima penawaran jerami dari penjual jerami yang bernama Sotthiya, kemudian membuat tempat duduk dari bahan itu dan duduk bermeditasi di bawah sebuah pohon bodhi yang besar, menghadap timur. Pangeran Siddharta berjanji pada dirinya sendiri: "Dengan disaksikan oleh bumi, meskipun kulitku, urat-uratku dan tulang-tulangku akan musnah dan darahku habis menguap, aku bertekad untuk tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh Penerangan Agung dan mencapai Nibbana."

Meditasi di bawah pohon bodhi
Kemudian Pertapa Gotama melakukan meditasi Anapanasati, yaitu meditasi dengan menggunakan obyek keluar dan masuknya nafas. Ketika sedang bermeditasi, pangeran Siddhartha mengabaikan semua gangguan luar dan ingatan-ingatan kenikmatan dari masa lalu. Ia mengabaikan semua pemikiran duniawi dan mengarahkan pikirannya untuk menemukan kebenaran sejati mengenai kehidupan. Pangeran Siddharta bertanya kepada dirinya sendiri, "Bagaimana penderitaan dimulai? Bagaimana seseorang dapat terbebas dari penderitaan?"

Pada mulanya banyak imaginasi-imaginasi yang mengganggu muncul dalam pikirannya seperti keinginan kepada benda-benda duniawi, tidak menyukai kehidupan suci yang bersih dan baik, perasaan lapar dan haus yang luar biasa, keinginan yang sangat dan melekat kepada benda-benda, malas dan tidak suka mengerjakan apa-apa, takut terhadap jin-jin, hantu-hantu jahat, keragu-raguan, kebodohan, keras kepala, keserakahan, keinginan untuk dipuji dan dihormati dan hanya melakukan hal-hal yang membuat dirinya terkenal, tinggi hati dan memandang rendah kepada orang lain.Perlawanan batin yang hebat dari Pertapa Gotama melawan keinginan, nafsu-nafsu dan Godaan Mara digambarkan dalam syair:

Dengan seribu tangan, yang masing-masing memegang senjata
Dengan menunggang gajah Girimekkhala,
Mara bersama pasukannya meraung menakutkan
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan dana dan paramita yang lainnya
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.


Mara hadir disertai oleh bala tentaranya yang amat besar Balatentara Mara yang amat mengerikan ini mengelilingi Bodhisatva, dari depan sejauh dua belas yojana (1 yojana = 16 Km atau 7 Mil) , dari belakang sejauh dua belas yojana, dari kiri dan kanan selebar sembilan yojana.

Mara sendiri membawa seribu senjata yang amat berbahaya dan duduk menunggangi Gajah Girimekhala, yang amat besar dengan tinggi seratus lima puluh yojana. Diikuti dengan bala tentaranya yang berwajah amat menyeramkan, mereka semuanya membawa senjata dengan meraung menakutkan, siap menghalangi Siddhartha mencapai maksudnya.

Saat Mara mendatangi Bodhisatva dengan bala tentara yang begitu besar, maka para dewa, seperti Maha Brahma, Sakka, Rajanaga Mahakala dan para dewa lainnya, Menjadi saksi di tempat itu. Bodhisatva harus menghadapi sendiri Mara beserta bala tentaranya dengan berbekal kepada sepuluh Paramita yang telah sejak lama dilatihnya.Sepuluh Paramita itu adalah :

  1. Dana Paramita (Kesempurnaan Kerelaan Hati)
  2. Sila Paramita (Kesempurnaan Kemoralan)
  3. Nekkhama Paramita (Kesempurnaan Pelepasan Keduniawian)
  4. Panna Paramita (Kesempurnaan Kebijaksanaan)
  5. Viriya Paramita (Kesempurnaan Semangat)
  6. Khanti Paramita (Kesempurnaan Kesabaran)
  7. Sacca Paramita (Kesempurnaan Kebenaran)
  8. Adhitthana Paramita (Kesempurnaan Tekad)
  9. Metta Paramita (Kesempurnaan Cinta Kasih)
  10. Upekkha Paramita (Kesempurnaan Keseimbangan Batin)
Dengan sepuluh Paramita inilah, semua usaha Mara beserta bala tentaranya untuk menakut-nakuti Bodhisatva, dengan hujan besar yang disertai angin kencang dan halilintar yang menggelegar terus-menerus, juga diikuti dengan pemandangan-pemandangan lain yang amat mengerikan ternyata gagal semua. Akhirnya Mara dengan penuh kemarahan menyambit Bodhisatva dengan senjatanya yang terakhir yaitu Cakkavudha (Senjata paling saktinya). Tetapi senjata ini berubah menjadi payung yang amat indah (dalam literatur Hindu Cakra adalah Senjata Dewa Wisnu, sehingga ibarat menyerang kepada empuNya), yang dengan tenang bergantung dan memayungi Calon Buddha (Bodhisatva).

Bumi telah menjadi saksi bahwa Pertapa Gotama lulus dari semua percobaan-percobaan dan layak untuk menjadi Buddha. Gajah Girimekhala berlutut di hadapan Pangeran Sidharta dan Mara menghilang bersama-sama dengan bala tentaranya.

Akhirnya pikirannya menjadi sangat tenang bagai genangan air yang diam. Dalam keheningan meditasi yang dalam, Siddhartha konsentrasi pada bagaimana hidupnya dimulai.Sang Bodhisatva berkata, "Dengan melihat bala tentara pada semua sisi berbaris dengan Mara yang mengatur di atas Gajah Girimekhala. Aku maju ke depan untuk berperang, Mara tidak akan dapat mendorongKu dari posisiKu. Bala tentaramu dengan dunia beserta dewa-dewa tak terkalahkan. Dengan KebijaksanaanKu, Aku terus menghancurkan mereka, bagaikan Aku menghancurkan mangkok yang belum dibakar. Dengan mengawasi pikiranKu, dan dengan kesadaran yang kuat, Aku akan mengembara dari negara ke negara, sambil melatih banyak murid. Dengan rajin dan bersungguh-sungguh, dalam mempraktekkan AjaranKu, mereka tidak akan memperdulikanmu dan akan pergi ke tempat yang tidak ada lagi penderitaan."

[Note: Arti dari Dewa Mara(Devaputta), Nafsu(kilesa), Kamma(Abhisamkhara), Kelompiok (Khandha), Kematian (Maccu), kesusahan, kemalangan, Keengganan Hidup Suci(Arati), Hawa Nafsu(Raga), Nafsu Keinginan(Tanha), tiga terakhir disebut tiga putri Mara )]

Pencerahan sempurna
Mulanya, pangeran Siddhartha ingat akan kehidupannya sebelumnya. Kemudian, ia melihat bagaimana makhluk-makhluk hidup dilahirkan kembali berdasarkan hukum sebab dan akibat, atau karma. Ia melihat bahwa berbuat baik itu menjauhi penderitaan dan berbuat jahat itu menambahkan penderitaan.

Kemudian pangeran Siddharta melihat asal penderitaan adalah keserakahan, yang muncul dari pemikiran bahwa kita yang lebih penting dari orang lain. Akhirnya, ia menjadi bebas sepenuhnya dari pemikiran seperti ini Dengan Muka bercahaya, dengan penuh kebahagiaan ia lontarkan pekik kemenangannya,

"Dengan sia-sia Aku mencari Pembuat Rumah ini, Berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir, Menyakitkan, tumimbal lahir yang tiada habis-habisnya, Oh, Pembuat Rumah, sekarang telah Kuketahui, Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi, Semua atapmu telah Kurobohkan, Semua sendi-sendimu telah Kubongkar,Batin-Ku sekarang mencapai keadaan Nirvana Dan berakhirlah semua nafsu-nafsu keinginan.". Siddhartha menjadi Buddha, Sang Pencerahan Sempurna pada usia 35 tahun.

Setelah mencapai pencerahan sempurna, sang Buddha tetap duduk dalam kebahagiaan nirvana selama beberapa minggu.

Selama minggu pertama, Sang Buddha duduk bermeditasi di bawah pohon Bodhi dan menikmati keadaan Nibbana, yaitu keadaan yang terbebas sama sekali dari gangguan-gangguan batiniah, sehingga batin-Nya tenang sekali dan penuh kedamaian.

Selama minggu kedua, Sang Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi dan memandanginya terus-menerus dengan mata tidak berkedip selama satu minggu sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan kepada pohon yang telah memberi-Nya tempat untuk berteduh sewaktu berjuang untuk mencapai tingkat Buddha. Mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Sang Buddha dahulu, sekarang pun umat Buddha memberi penghormatan kepada pohon Bodhi.

Selama minggu ketiga, Sang Buddha berjalan mondar-mandir di atas jembatan emas yang diciptakan-Nya di udara karena melalui mata dewa-Nya, Sang Buddha mengetahui bahwa ada dewa-dewa di surga yang masih meragukan apakah Beliau benar telah mencapai Penerangan Agung.

Selama minggu keempat, Sang Buddha berdiam di kamar batu permata yang diciptakan-Nya. Di kamar permata itulah Sang Buddha bermeditasi mengenai Abhidhamma, yaitu ajaran mengenai ilmu jiwa dan metafisika. Batin dan badan jasmani-Nya telah menjadi demikian bersih, sehingga mengeluarkan sinar-sinar berwarna biru, kuning, merah, putih, jingga dan campuran kelima warna tersebut yang disebut Buddharasmi atau Sinar Buddha. Kini warna-warna tersebut diabadikan sebagai bendera umat Buddha.

Sejak saat itu dan selama hidup-Nya, Beliau dapat memancarkan enam sinar suci itu bilamana dikehendaki-Nya. Kadang-kadang Beliau mengirim sinar suci-Nya dengan warna-warna itu untuk mengubah tabiat para manusia. Enam warna sinar-Nya adalah :

1.Nila = biru. Berarti bakti atau pengabdian. Dia telah menjadi Buddha mempunyai sifat bakti dan pengabdian yang tiada taranya kepada manusia yang menderita.
2.Pita = kuning. Berarti kebijaksanaan, mahatahu, seorang Buddha adalah berpengetahuan luas dan mahatahu (Sarvakarajnata).
3.Rohita = merah. Berarti kasih sayang dan welas asih. Seorang Buddha mempunyai rasa maha kasih sayang dan maha welas asih yang tidak terbatas terhadap semua makhluk. Pada seorang Buddha sudah tidak ada lagi rasa benci, sentimen, kejam, iri hati, dan dengki, yang ada pada diri-Nya hanya maha welas asih kasihan tanpa perbedaan dan perasaan bahagia bila mengetahui atau melihat orang lain dapat hidup senang dan bahagia.
4.Avadata = putih Berarti suci. Seorang Buddha telah suci batin-Nya dan pikiran-Nya tidak dapat dikotori lagi oleh segala macam kekotoran dunia. Maka dari itu seorang Buddha atau Bodhisattva dilukiskan sebagai mutiara yang berada di atas bunga teratai (mani-padma). Bunga teratai meskipun tumbuh dirawa yang penuh lumpur, diatas bunga teratai itulah seorang Buddha atau Bodhisattva duduk atau berdiri laksana mutiara yang putih berkilauan, yang bebas dari segala kekotoran dan tidak dapat kena kotoran karena dialasi bunga teratai.
5.Manjistha = orange, jingga. Berarti giat, Seorang Buddha mempunyai semangat yang luarbiasa, giat menyebar Dharma kepada dewa dan manusia serta melakukan segala perbuatan baik yang berfaedah bagi orang banyak dan makhluk-makhluk lainnya.
6.Prabhasvara
= bersinar-sinar, sangat terang, cemerlang merupakan warna campuran dari kelima warna tersebut diatas; berarti campuran dari kelima sifat tersebut diatas.

Selama minggu kelima, Sang Buddha bermeditasi di bawah pohon Ajapala Nigrodha (pohon beringin), tidak jauh dari pohon Bodhi. Di sinilah tiga orang anak Mara yaitu Tanha, Arati, dan Raga masih berusaha untuk mengganggu-Nya. Mereka menampakkan diri sebagai tiga orang gadis yang elok dan menggiurkan yang dengan berbagai macam tarian yang erotis (penuh nafsu birahi), diiringi nyanyian yang merdu dan bisikan yang memabukkan, berusaha untuk merayu dan menarik perhatian Sang Buddha. Tetapi Sang Buddha menutup mata-Nya dan tidak mau melihat, sehingga akhirnya tiga orang dewi hawa nafsu meninggalkan Sang Buddha.

Selama minggu keenam, Sang Buddha bermeditasi di bawah pohon Mucalinda. Karena waktu itu turun hujan lebat, maka datanglah seekor ular kobra yang besar sekali dan melibatkan badannya tujuh kali memutari badan Sang Buddha dan kepalanya memayungi Sang Buddha supaya jangan sampai terkena air hujan. Waktu hujan berhenti, ular itu berubah bentuknya menjadi seorang anak muda. Pada waktu itulah Sang Buddha mengucapkan kata kata sebagai berikut, "Berbahagialah mereka yang bisa merasa puas. Berbahagialah mereka yang dapat mendengar dan melihat kesunyataan. Berbahagialah mereka yang bersimpati kepada makhluk-makhluk lain di dunia ini. Berbahagialah yang hidup di dunia dengan tidak melekat kepada apa pun dan mengatasi hawa nafsu. Lenyapnya 'Sang Aku' merupakan berkah yang tertinggi."

Selama minggu ketujuh, Sang Buddha bermeditasi di bawah pohon Rajayatana. Pada hari ke-50 pagi hari, setelah berpuasa selama tujuh minggu, dua orang pedagang lewat di dekat tempat Sang Buddha sedang duduk. Mereka, Tapussa dan Bhallika, menghampiri Sang Buddha dan mempersembahkan makanan dari beras dan madu. Sang Buddha agak tertegun sejenak karena mangkuk yang Beliau terima dari Sujata telah dihanyutkan di Sungai Neranjara dan sejak zaman dahulu tidak pernah seorang Buddha menerima makanan dengan kedua tangan-Nya.

Tiba-tiba empat orang dewa dari empat penjuru alam (Catumaharaja yaitu Dhatarattha dari sebelah Timur, Virulhaka dari Selatan, Virupakkha dari Barat, dan Kuvera dari Utara) datang menolong. Masing-masing datang dengan membawa satu mangkuk yang dipersembahkan kepada Sang Buddha. Sang Buddha menerima empat mangkuk tersebut dan dengan kekuatan gaib-Nya dijadikan satu mangkuk. Dengan demikian Sang Buddha dapat menerima persembahan dari Tapussa dan Bhallika. Setelah Sang Buddha selesai makan kedua pedagang itu memohon agar diterima sebagai pengikut. Mereka diterima sebagai upasaka-upasaka pertama yang berlindung kepada Sang Buddha dan Dhamma.

Kemudian mereka mohon diberikan suatu benda yang dapat mereka bawa pulang, Sang Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan dan memberikan beberapa helai rambut (Kesa Dhatu = Relik Rambut). Tapussa dan Bhallika dengan gembira menerima Kesa Dhatu tersebut dan setelah tiba di tempat mereka tinggal di kota Pokkharawata, Ukkala [Myanmar], mereka mendirikan sebuah pagoda untuk memuja Kesa Dhatu ini [Pagoda adalah Shwedagon berlokasi di Yangon, Myanmar, telah di pugar oleh banyak generasi sesudahnya dan menjadi Pagoda terbesar di dunia]

Sang Buddha memutuskan untuk mengajarSang Buddha mengetahui bahwa Maha Brahma Sahampati adalah Brahma yang sangat dihormati oleh Dewa-dewa [dan juga manusia] dan berpikir akan baik jika Brahma Sahampati melakukan permohonan untuk mengajarkan sehingga yang lain lebih mau mendengar Dhamma [Sangyutta Atthakata 1.155]. Sang Buddha lalu mengarahkan pikirannya agar terbaca oleh Brahma Sahampati, "Dhamma ini sungguh dalam, halus, sulit dilihat, tidak bisa dimengerti dengan pemikiran semata, hanya bisa dipahami oleh bijaksanawan bahkan sulit dimengerti oleh Dewa dan Manusia". Brahma Sahampati Yang agung menyadari pemikiran Buddha tersebut hadir di hadapan Buddha dan memohon kepada Buddha, "Semoga Sang Tathagata, demi belas kasih-Nya kepada para manusia, berkenan mengajar Dhamma. Dalam dunia ini terdapat juga orang-orang yang sedikit dihinggapi kekotoran batin dan mudah mengerti Dhamma yang akan diajarkan."

Hingga kini permohonan Brahma Sahampati kepada Sang Buddha tetap diperingati dengan permohonan kepada seorang bhikkhu untuk mengajar Dhamma yang berbunyi sebagai berikut:

"Brahma ca lokadhipati Sahampati, Katañjali andhivaram ayacatha, Santidha sattapparajakkhajatika, Desetu Dhammam anukampimam pajam."

Artinya: "Brahma Sahampati, Penguasa dunia ini Merangkap kedua tangannya dan memohon, Ada makhluk-makhluk yang dihinggapi sedikit kekotoran batin Ajarkanlah Dhamma demi kasih sayang kepada mereka. "

Sang Buddha melihat ke seputar Jagad dengan Buddha cakkhu (Mata sakti Buddha) dan melihat bahwa ada yang mampu memahami Dhamma walaupun di babarkan secara singkat; Ada yang mampu memahami Dhamma setelah dibimbing dan diberi penjelasan rinci; Ada yang mampu memahami Dhamma karena dibimbing dan mempraktikan Dhamma selama bertahun-tahun; Ada yang tak akan menyadari Dhamma dalam hidup ini namun akan memetik manfaat dalam kehidupan selanjutnya.

Maka Buddha lalu berkata: "Terbukalah pintu Kehidupan Abadi Bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan."[Sanyutta Nikaya 1.137f]. Brahma Sahampati merasa girang, karena Buddha telah meluluskan permintaannya itu dan kemudian menghilang.

Sang Buddha mencari orang-orang yang pernah bertapa denganNya
Dengan Mata batinya Sang Buddha melihat bahwa Guru-gurunya, Alara Kalama telah wafat 7 hari sebelumnya [Majjima Nikaya 1.170-1]; Uddaka Ramaputta baru wafat semalam. Kemudian Sang Buddha teringat akan kelima teman asetiknya, Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama and Assaji, mengetahui bahwa mereka tinggal di Sarnath, dekat Varanasi, Beliau segera pergi untuk mencari mereka.

Dalam perjalanan ke Sungai Gaya, Sang Buddha bertemu dengan seorang pertapa Ajivaka bernama Upaka yang sungguh-sungguh berniat mempelajari Dharma. Ketika dia melihat Buddha Gautama di jalan, karena keheranan Ia mendekat dan bersikap anjali, kemudian berkata, "Teman, bagian tubuh-Mu, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran-Mu begitu jernih, kulit-Mu juga begitu bersih dan bercahaya. Teman-Ku, dari siapakah Engkau belajar? Siapakah guru-Mu? Dhamma siapakah yang Engkau pelajari?" Buddha memberikan jawaban kepada Petapa Upaka dalam syair berikut:

(1) Sabbàbhibhå sabbàvidå’ham asmi;
sabbesu dhammesu ampalitto.
Sabba¤’jaho taõhà’kkhaye vimutto;
sayaÿ Abhi¤¤àya kam uddiseyyaÿ.


Upaka, Aku, Buddha, telah menguasai semua Dhamma di tiga alam dan memiliki Kesempurnaan dan pengetahuan yang lengkap mengenai segalanya; Aku juga telah terbebas dari noda kilesa, seperti keserakahan, perbuatan jahat, kebodohan, dan lain-lain sehubungan dengan tiga bentuk kelahiran (tebhåmaka Dhamma). Aku telah menyingkirkan semua tebhåmaka Dhamma. Aku juga telah aman dalam Nibbàna di mana taõhà padam. Sebagai seorang yang telah menembus semua Dhamma oleh diri sendiri, tanpa diajarkan oleh orang lain, siapa yang dapat Kusebut, ‘Dia adalah guru-Ku’, yang sebenarnya tidak ada.

(2) Na me àcariyo atthi;
sadiso me na vijjati.
Sadevakasmim lokasmiÿ;
n’atthi me patipuggalo.


Upaka, tidak ada guru bagi-Ku. (Tidak ada guru yang dapat melebihi-Ku). Bahkan tidak ada yang sebanding dengan-Ku. Tidak ada satu pun di dunia ini makhluk-makhluk, termasuk dewa, yang dapat menyamai-Ku dalam hal kualitas seperti sãla, dan lain-lain.

(3) Ahaÿ hi Arahà loke;
ahaÿ satthà anuttaro.
Eko’mhi Sammàsambhuddo;
sitibhåto’smi nibbuto.


Upaka, Aku adalah Arahanta di dunia ini, seorang yang layak menerima penghormatan istimewa. Aku juga seorang guru yang luar biasa dan tidak ada bandingnya bagi manusia dan dewa di dunia ini. Karena Aku dapat melihat dengan Sayambhu¥àõa semua Dhamma tanpa kesalahan, Aku adalah yang tertinggi yang telah mencapai Pencerahan Sempurna. Aku juga seorang yang telah memadamkan api kilesa.

(4) Dhammacakkaÿ pavattetuÿ;
gacchàmi kasiõaÿ puraÿ.
Andhibhåtasmiÿ lokasmiÿ;
àhanchaÿ amatadundubiÿ.


Upaka, Aku akan pergi ke Taman Rusa Isipatana dekat Vàràõasã di Negara Kasi untuk memutar Roda Dhamma. Aku akan menabuh genderang besar keabadian bagi semua dewa dan manusia yang, tanpa mata kebijaksanaan, meraba-raba seperti orang buta.

Setelah itu, Petapa Upaka berkata, “Temanku, Jika apa yang Engkau katakan itu benar, Engkau pastilah seorang yang memiliki kebijaksanaan yang tidak terbatas (Ananta ¥àõa) dan yang telah menaklukkan lima kejahatan (Màra).

Buddha menjawab:
(5) Màdisà ve Jinà honti;
ye pattà àsavakkhayaÿ.
Jità me pàpakà dhammà;
tasmà’ham Upaka jino.


Upaka, para Buddha seperti diri-Ku disebut penakluk (Jina) karena mereka telah mencapai Arahatta-Magga ¥àõa, padamnya empat àsava dan telah melenyapkan faktor-faktor jahat (akusala-Dhamma). Aku juga dikenal dengan nama Jina, karena, seperti para Buddha lainnya, Aku telah mencapai Pengetahuan mengenai padamnya àsava, âsavakkhaya (Arahatta-Magga) ¥àõa, dan melenyapkan akusala-Dhamma.

Selanjutnya, Petapa Upaka berkata, “Temanku, apa yang Engkau katakan pasti benar!”. Karena pertemuan itu, maka di kemudian hari, setelah lewat bertahun-tahun kemudian, Petapa Upaka akhirnya bertemu Buddha kembali, Ia menjadi muridnya, mencapai Anagami, wafat dan terlahir di alam Sudhavasa terbawah [Aviha] serta tak lama kemudian, Iapun mencapai Arahanta Pala [Riwayat Agung Para Buddha, Buku ke-1, Hal 693-698]

Bertemu dengan lima rekannya
Di Sarnath, ketika kelima pertapa asetik melihat kedatangan sang Buddha, mereka memutuskan untuk tidak menyambutnya atau berbicara kepadanya. Mereka masih berpikir bahwa ia rakus dan telah menyerah dalam usahanya mencari kebenaran. Tetapi sebagaimana Sang Buddha mendekat, mereka sadar bahwa ia dikelilingi oleh sinar dan terlihat sangat mulia. Mereka begitu terkejut sehingga mereka lupa akan keputusan sebelumnya. Mereka menyambutnya, menawarkannya air dan segera menyiapkan tempat duduk.

Sang Buddha meyakinkan 5 Rekannya
Setelah duduk, sang Buddha memberitahu mereka: "Wahai para Pertapa! Saya telah menyadari kebenaran akan berakhirnya penderitaan (nirvana), dan cara untuk mengakhiri penderitaan. Jika kalian belajar dan mempraktekkannya, kalian akan segera tercerahkan. Kalian harus bertanggungjawab untuk memahami hal-hal ini."

Pada mulanya, kelima Bhikkhu tersebut meragukan kata-kata Sang Buddha dan menanyakan banyak pertanyaan. Tetapi akhirnya mereka mulai mempercayainya dan mau mendengar ajaran Sang Buddha. Maka Sang Buddha memberikan khotbah-Nya yang pertama yang kelak dikenal sebagai Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma). Khotbah pertama diucapkan oleh Sang Buddha tepat pada saat purnama sidhi di bulan asalha.

Inilah ringkasan kotbah pertama yang legendaris itu, "Dua pinggiran yang ekstrim, oh Bhikkhu, yang harus dihindari oleh seorang bhikkhu. Pinggiran ekstrim pertama ialah mengumbar nafsu-nafsu yang bersifat rendah, hanya dilakukan oleh orang yang masih berkeluarga, sifat khas dari orang yang terikat kepada hal-hal duniawi, tidak mulia dan tidak berfaedah. Pinggiran ekstrim kedua ialah menyiksa diri, yang menimbulkan kesakitan yang hebat, tidak mulia dan tidak berfaedah. Jalan Tengah dengan menghindari kedua pinggiran yang ekstrim telah kuselami, sehingga kuperoleh Pandangan Terang, Kebijaksanaan, Ketenangan, Pengetahuan Tertinggi, Penerangan agung, dan Nibbana".

"Selanjutnya oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang Dukkha: dilahirkan, usia tua, sakit, mati, sedih, ratap tangis, gelisah, berhubungan dengan sesuatu yang tidak disukai, terpisah dari sesuatu yang disukai dan tidak memperoleh sesuatu yang didambakan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Lima Khanda (Lima Kelompok Kehidupan/Kegemaran) itu adalah penderitaan".

"Selanjutnya, oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang Asal Mula Dukkha: nafsu keinginan yang tidak habis-habisnya (tanha), melekat kepada kenikmatan dan nafsu-nafsu yang minta diberi kepuasan, keinginan untuk menikmati nafsu-nafsu indria, keinginan untuk hidup terus-menerus secara abadi dan keinginan untuk memusnahkan diri".

"Selanjutnya, oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang Lenyapnya Dukkha: nafsu-nafsu keinginan (tanha) yang secara menyeluruh dapat disingkirkan, dilenyapkan, ditinggalkan, diatasi, dan dilepaskan".

"Selanjutnya, oh Bhikkhu, inilah yang dinamakan Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha: Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Daya upaya Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar"."Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan, Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan Mulia tentang dukkha yang harus dimengerti dan yang telah Kumengerti".

"Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan, Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan Mulia tentang Asal Mula Dukkha yang harus dimengerti dan yang telah Kumengerti".

"Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan, Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan Mulia tentang Lenyapnya Dukkha yang harus dimengerti dan yang telah Kumengerti".

"Kemudian timbul dalam diri-Ku, oh Bhikkhu, Penglihatan, Pandangan, Kebijaksanaan, Pengetahuan dan Penerangan bahwa ini adalah Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha yang harus dimengerti dan yang telah Kumengerti"."

Selama pandangan-Ku terhadap Kesunyataan Mulia yang disebut di atas masih belum jelas benar mengenai tiga seginya dan dua belas jalannya, Aku belum dapat menuntut dan menyatakan dengan pasti bahwa Aku telah memperoleh Penerangan Agung yang tiada bandingnya di alam-alam para dewa, mara, brahma, pertapa, brahmana dan manusia".

"Dengan demikian timbul dalam diriKu Pandangan Terang dan Pengetahuan bahwa Aku sekarang telah terbebas sama sekali dari keharusan untuk terlahir kembali di dunia ini dan kehidupanKu yang sekarang ini merupakan kehidupan-Ku yang terakhir."

Berdirinya Sangha(5 orang Bikkhu)
Setelah Sang Buddha selesai berkhotbah, Kondañña memperoleh Mata Dhamma karena dapat mengerti (añña) dengan jelas makna khotbah tersebut dan menjadi seorang Sotapanna (makhluk suci tingkat kesatu). Añña Kondañña yang sekarang tidak meragu-ragukan lagi ajaran Sang Buddha mohon untuk dapat diterima sebagai murid. Sang Buddha meluluskan permohonan ini dan mentahbiskannya dengan kata-kata, "Mari (ehi) bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakan kehidupan suci dan singkirkanlah penderitaan."

Dengan demikian Añña Kondañña menjadi bhikkhu pertama yang ditahbiskan dengan ucapan "ehi bhikkhu".

Sejak hari itu Sang Buddha tinggal di Taman Rusa dan tiap hari Beliau memberikan uraian Dhamma kepada lima orang pertapa tersebut. Dua hari setelah itu, pertapa Vappa dan Bhaddiya memperoleh Mata Dhamma dan kemudian ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan menggunakan kalimat "ehi bhikkhu". Dan dua hari kemudian, pertapa Mahanama dan Assaji memperoleh Mata Dhamma dan ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan menggunakan kalimat "ehi bhikkhu".

Lima hari setelah memberikan khotbah pertama, Sang Buddha memberikan khotbah kedua dengan judul Anattalakkhanasutta. Singkatan dari khotbah ini adalah sebagai berikut:

Rupa (badan jasmani), oh Bhikkhu, Vedana (perasaan), Sañña (pencerapan), Sankhara (pikiran) dan Viññana (kesadaran) adalah Lima Khandha (lima kelompok kehidupan/kegemaran) yang semuanya tidak memiliki Atta (roh). Kalau sekiranya Khandha itu memiliki Atta (roh), maka ia dapat berubah sekehendak hatinya dan tidak akan menderita karena semua kehendak dan keinginannya dapat dipenuhi, misalnya 'Semoga Khandha-ku begini dan bukan begitu.'

Tetapi karena Khandha itu Anatta (tanpa roh), maka ia tidak dapat berubah sekehendak hatinya dan karena itu menderita sebab semua kehendak dan keinginannya tidak dapat dipenuhi, misalnya 'Semoga Khandha-ku begini dan bukan begitu.' Setelah mengajar kelima orang bhikkhu itu untuk menganalisa badan jasmani dan batin menjadi lima khandha, Sang Buddha lalu menanyakan pendapat mereka mengenai hal yang di bawah ini,

"Oh, Bhikkhu, bagaimana pendapatmu, apakah Khandha itu kekal atau tidak kekal?"
"Mereka tidak kekal, Bhante."
"Di dalam sesuatu yang tidak kekal, apakah terdapat kebahagiaan atau penderitaan?"
"Di sana terdapat penderitaan, Bhante."
"Mengenai sesuatu yang tidak kekal dan penderitaan, ditakdirkan untuk musnah, apakah tepat kalau dikatakan bahwa itu adalah 'milikku', 'aku' dan 'diriku' ?"
"Tidak tepat, Bhante."Selanjutnya Sang Buddha mengajar untuk jangan melekat kepada lima khandha tersebut dengan melakukan perenungan sebagai berikut:

Karena kenyataannya memang demikian, oh Bhikkhu, maka lima khandha yang lampau atau yang ada sekarang ini, kasar atau halus, menyenangkan atau tidak menyenangkan, jauh atau dekat, harus diketahui sebagai Khandha (Kelompok Kehidupan/Kegemaran) semata-mata. Selanjutnya engkau harus melakukan perenungan dengan memakai Kebijaksanaan bahwa semua itu bukanlah 'milikmu' atau 'kamu' atau 'dirimu'.

Siswa Yang Ariya yang mendengar uraian ini, oh Bhikkhu, akan melihatnya dari segi itu. Setelah melihat dengan jelas dari segi itu, ia akan merasa jemu terhadap lima khandha tersebut. Setelah merasa jemu, ia akan melepaskan nafsu-nafsu keinginan. Setelah melepaskan nafsu-nafsu keinginan batinnya, ia tidak melekat lagi kepada sesuatu.

Karena tidak melekat lagi kepada sesuatu maka akan timbul Pandangan Terang, sehingga ia mengetahui bahwa ia sudah terbebas. Siswa Yang Ariya itu tahu bahwa ia sekarang sudah terbebas dari tumimbal lahir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu pun yang masih harus dikerjakan untuk memperoleh Penerangan Agung.Sewaktu kelima bhikkhu tersebut merenungkan khotbah Sang Buddha, mereka semua dapat membersihkan diri mereka dari segala kekotoran batin (Asava) dan terbebas seluruhnya dari kemelekatan (Upadana) dan mencapai tingkat kesucian yang tertinggi, yaitu Arahat.

Menginstruksikan Yasa
Ketika Sang Buddha masih di Taman Rusa di Sarnath. Waktu itu di Benares, bertempat tinggal seorang anak muda bernama Yasa. Sebagaimana juga halnya dengan Pangeran Siddhattha, Yasa pun memiliki tiga buah istana dan hidup dengan penuh kemewahan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik yang menyajikan berbagai macam hiburan. Kehidupan yang penuh kesenangan ini berlangsung untuk beberapa lama sampai pada satu malam di musim hujan, Yasa melihat satu pemandangan yang mengubah seluruh jalan hidupnya.Malam itu ia terbangun pada larut malam dan dari sinar lampu di kamarnya, Yasa melihat pelayan-pelayannya sedang tidur dalam berbagai macam sikap yang membuatnya jemu dan muak sekali. Ia merasa seperti berada di tempat pekuburan dengan dikelilingi mayat-mayat yang bergelimpangan.

Karena tidak tahan lagi melihat keadaan itu, maka dengan mengucapkan, "Alangkah menakutkan tempat ini! Alangkah mengerikan tempat ini!" Yasa memakai sandalnya dan meninggalkan istananya dalam keadaan pikiran kalut dan penuh kecemasan. Ia berjalan menuju ke Taman Rusa di Isipatana. Waktu itu menjelang pagi hari dan Sang Buddha sedang berjalan-jalan. Sewaktu berpapasan dengan Yasa, Sang Buddha menegur, "Tempat ini tidak menakutkan. Tempat ini tidak mengerikan. Mari duduk di sini, Aku akan mengajarmu.". Mendengar sapaan Sang Buddha, Yasa berpikir, "Kalau begitu baik juga kalau tempat ini tidak menakutkan dan tidak mengerikan." Yasa membuka sandalnya, menghampiri Sang Buddha, memberi hormat dan kemudian duduk di sisi Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian memberikan uraian yang disebut Anupubbikatha, yaitu uraian mengenai pentingnya berdana, hidup bersusila, tumimbal lahir di surga sebagai akibat dari perbuatan baik, buruknya mengumbar nafsu-nafsu, dan manfaat melepaskan diri dari semua ikatan duniawi.Selanjutnya Sang Buddha memberikan uraian tentang Empat Kesunyataan Mulia yang dapat membebaskan manusia dari nafsu-nafsu keinginan. Setelah Sang Buddha selesai memberikan uraian, Yasa memperoleh Mata Dhamma sewaktu masih duduk di tempat itu. Yasa kemudian mencapai tingkat Arahat sewaktu Sang Buddha mengulang uraian tersebut di hadapan ayahnya.

Keesokan hari seluruh penghuni istana Yasa menjadi ribut karena Yasa tidak ada di kamarnya dan juga tidak diketemukan di bagian lain dari istananya. Ayahnya memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mencari ke segenap penjuru dan ia sendiri pergi mencari ke Isipatana. Di Taman Rusa ia melihat sandal anaknya. Tidak jauh dari tempat itu, ia bertemu dengan Sang Buddha dan bertanya apakah Sang Buddha melihat Yasa. Yasa sebenarnya sedang duduk di sisi Sang Buddha, tetapi karena Sang Buddha menggunakan kekuatan gaib maka Yasa tidak melihat ayahnya dan ayahnya tidak melihat Yasa.

Sebelum menjawab pertanyaan ayah Yasa, terlebih dulu Sang Buddha memberikan uraian tentang pentingnya berdana, hidup bersusila, tumimbal lahir di surga sebagai akibat dari perbuatan baik, buruknya mengumbar nafsu-nafsu, dan manfaat melepaskan diri dari semua ikatan duniawi. Kemudian dilanjutkan dengan uraian tentang Empat Kesunyataan Mulia yang dapat membebaskan manusia dari nafsu-nafsu keinginan.

Setelah Sang Buddha selesai memberikan uraian, ayah Yasa memperoleh Mata Dhamma dan mohon untuk diterima sebagai pengikut dengan mengucapkan, "Aku berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima aku sebagai upasaka mulai hari ini sampai akhir hidupku." Dengan demikian ayah Yasa menjadi upasaka pertama yang berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Pada waktu itulah Sang Buddha menarik kembali kekuatan gaibnya, sehingga Yasa dapat melihat ayahnya dan ayahnya dapat melihat Yasa.

Seperti dijelaskan di atas, Tapussa dan Bhallika adalah pengikut Sang Buddha yang pertama, tetapi mereka berlindung hanya kepada Buddha dan Dhamma karma pada waktu itu belum ada Sangha (Pesamuan Para Bhikkhu, yang sekurang-kurangnya terdiri dari lima orang bhikkhu)

Kemudian Ayah yasa mengundang Sang Buddha kerumahnya. Sang Buddha menerima undangan ini dengan membisu (berdiam diri). Mengetahui permohonannya diterima, ayah Yasa berdiri, memberi hormat dan berjalan memutar dengan Sang Buddha tetap di sisi kanannya dan kembali pulang ke istananya. Setelah ayahnya pulang, Yasa mohon kepada Sang Buddha untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu.

Sang Buddha mentahbiskannya dengan menggunakan kalimat yang juga digunakan untuk mentahbiskan lima murid-Nya yang pertama yaitu, "Ehi bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakanlah kehidupan suci." Perbedaannya bahwa Sang Buddha tidak mengucapkan "dan singkirkanlah penderitaan" karena Yasa pada waktu itu sudah mencapai tingkat Arahat. Dengan demikian, pada waktu itu sudah ada tujuh orang Arahat (Sang Buddha sendiri juga seorang Arahat, tetapi seorang Arahat istimewa karena mencapai Kebebasan dengan daya upaya sendiri).

Keesokan harinya dengan diiringi Yasa, Sang Buddha pergi ke istana ayah Yasa dan duduk di tempat yang telah disediakan. Ibu dan istri Yasa keluar dan memberi hormat. Sang Buddha kembali memberikan uraian tentang Anupubbikatha dan mereka berdua pun rnemperoleh Mata Dhamma. Mereka memuji keindahan uraian tersebut dan mohon dapat diterima sebagai Upasika dengan berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha untuk seumur hidup. Mereka adalah pengikut-pengikut wanita pertama yang berlindung kepada Tiga Mustika (Buddha, Dhamma, dan Sangha).

Di Benares, Yasa mempunyai empat orang sahabat, semuanya anak-anak orang kaya yang bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati. Mereka mendengar bahwa Yasa sekarang sudah menjadi bhikkhu. Mereka menganggap bahwa ajaran-ajaran yang benar-benar sempurnalah yang dapat menggerakkan hati Yasa untuk meninggalkan kehidupannya yang mewah. Karena itu mereka menemui bhikkhu Yasa yang kemudian membawa keempat kawannya itu menghadap Sang Buddha.

Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan kemudian diterima menjadi bhikkhu. Setelah mendapat penjelasan tambahan, keempat orang ini dalam waktu singkat mencapai tingkat Arahat. Dengan demikian jumlah Arahat pada waktu itu sebelas orang.

Tetapi bhikkhu Yasa mempunyai banyak teman lagi yang berada di tempat-tempat jauh, semuanya berjumlah lima puluh orang. Mendengar sahabat mereka menjadi bhikkhu, mereka pun mengambil keputusan untuk mengikuti jejak bhikkhu Yasa. Mereka semua diterima menjadi bhikkhu dan dalam waktu singkat semuanya mencapai tingkat Arahat, sehingga pada waktu itu terdapat enam puluh satu orang Arahat.

Menyebarkan Dharma
Ketika Sang Buddha telah memiliki enam puluh Bhikkhu sebagai pengikutnya, Beliau mengadakan suatu pertemuan. Sang Buddha memberitahukan mereka: "Pergilah dan sebarkanlah Dharma ke tempat lain, untuk memberi kesempatan ke banyak orang untuk mencapai kebebasan dari penderitaan. Sebarkanlah Dharma supaya jiwa manusia dapat disucikan dan dicerahkan. Ada orang-orang yang siap untuk Dharma. Mereka akan mampu memahaminya. Saya sendiri akan pergi mengajar di Uruvela."

Kemudian berangkatlah keenam puluh Arahat itu sendiri-sendiri ke berbagai jurusan dan mengajar Dhamma kepada penduduk yang mereka jumpai. Sewaktu mengajar, mereka kerap kali bertemu dengan orang yang ingin menjadi bhikkhu. Karena mereka sendiri belum bisa mentahbiskannya, maka dengan melakukan perjalanan jauh dan melelahkan mereka membawa orang itu menghadap Sang Buddha. Melihat kesulitan ini maka Sang Buddha memperkenankan para bhikkhu untuk memberikan pentahbisan sendiri.

"Aku perkenankan kamu, oh Bhikkhu, untuk mentahbiskan orang di tempat-tempat yang jauh. Inilah yang harus kamu lakukan. Rambut serta kumisnya harus dicukur, mereka harus memakai jubah Kasaya (jubah yang dicelup dalam air larutan kulit kayu tertentu), bersimpuh, merangkapkan kedua tangannya dalam sikap menghormat dan kemudian berlutut di depan kaki bhikkhu. Selanjutnya kamu harus mengucapkan dan mereka harus mengulang ucapanmu, "Aku berlindung kepada Sang Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Sangha, dan seterusnya."

Mulai saat itu terdapat dua cara pentahbisan, pertama yang diberikan Sang Buddha sendiri dengan memakai kalimat "ehi bhikkhu" dan yang kedua diberikan oleh murid-muridNya yang dinamakan pentahbisan "Tisaranagamana".

Sepanjang Perjalanan di Desa Uruvela
Ia berjalan menuju Magadha di sebelah tenggara, ke desa Uruvela. pada suatu hari Sang Buddha tiba di perkebunan kapas dan beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang. Tidak jauh dari tempat itu, tiga puluh orang pemuda sedang bermain-main yang diberi nama Bhaddavaggiya. Dua puluh sembilan orang sudah menikah, hanya seorang belum. Ia membawa seorang pelacur. Selagi mereka sedang bermain-main dengan asyik, pelacur tersebut menghilang dengan membawa pergi perhiasan yang mereka letakkan di satu tempat tertentu.

Mereka mencari pelacur tersebut. Melihat Sang Buddha duduk di bawah pohon, mereka menanyakan, apakah Sang Buddha melihat seorang wanita lewat di dekat situ, mereka menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian Sang Buddha berkata, "Oh, Anak-anak muda, cobalah pikir, yang mana yang lebih penting. Menemukan dirimu sendiri atau menemukan seorang pelacur?". Setelah mereka menjawab bahwa lebih penting menemukan diri mereka sendiri, maka Sang Buddha kemudian berkhotbah tentang Anupubbikatha dan Empat Kesunyataan Mulia. Mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah ditahbiskan, mereka dikirim ke tempat-tempat jauh untuk mengajarkan Dhamma.

Di tiga tempat sepanjang Sungai Neranjara, tinggal tiga orang Kassapa bersaudara yang menjadi pemimpin kaum Jatila yang memuja api. Yang tertua disebut Uruvela Kassapa, yang mahir melakukan ilmu-ilmu gaib, bertempat tinggal di sebelah hulu sungai dan mempunyai pengikut sebanyak lima ratus orang.

Yang kedua disebut Nadi Kassapa, bertempat tinggal di sebelah hilir sungai dan mempunyai pengikut sebanyak tiga ratus orang. Yang ketiga disebut Gaya Kassapa, bertempat tinggal di tempat lebih hilir dari Nadi Kassapa dan mempunyai pengikut sebanyak dua ratus orang.

Sang Buddha menemui pertapa Uruvela Kassapa dan berkata:
"Apabila tidak menyusahkanmu, bolehkah Saya bermalam di ruang perapian?"
"O Bhikkhu Yang Mulia, tidaklah menyusahkan bagi saya, tetapi ada seekor ular yang ganas, berbisa dan mempunyai kemampuan yang tinggi di ruang perapian itu. Jangan sampai ular itu menggangguMu."

Sang Buddha meminta izin untuk ketiga kalinya, dan Beliau menerima jawaban yang sama dari pertapa tersebut. Kemudian Sang Buddha berkata:
"Ular itu tidak akan menggangguKu, Kassapa. Izinkanlah Saya tinggal satu malam di ruang perapian itu."

Setelah memperoleh izin, Sang Buddha memasuki ruang perapian dan menebarkan alas tempat duduk, dan Sang Guru kemudian duduk dengan tubuh dan pikiran yang tenang. Ular itu melihat dengan rasa ingin tahu siapa yang memasuki ruangannya, dan ia mengeluarkan desisnya yang mengeluarkan asap. Sang Buddha bermaksud untuk menghalangi kekuatan ular itu, dan Beliau juga mengeluarkan asap yang lebih banyak. Ular itu kemudian menyemburkan api; dan Sang Buddha juga melakukan hal yang sama.

Ketika para pertapa berambut kusut melihat ruang perapian itu bersinar terang, mereka mulai berpikir bahwa tamu yang cakap ini, akan dihancurkan oleh ular tersebut. Tetapi, keesokan paginya, Sang Buddha keluar dari ruang perapian dengan ular yang tergeletak di dalam mangkukNya, dan berkata:
"Datanglah ke sini Kassapa, ularmu yang mempunyai kekuatan ini dikalahkan oleh kekuatannya sendiri."

Lalu Uruvela Kassapa, pertapa berambut kusut ini berpikir:
"Dengan kemampuannya yang begitu luar biasa, sesungguhnya Beliau adalah Bhikkhu yang hebat, ia menaklukkan ular itu dengan kekuatanNya, kekuatan terhadap ular yang ganas dan berbisa itu. Sekalipun demikian, ia tidak dapat menjadi seorang Arahat (Orang Suci), seperti diriku."

Karena ia sudah melihat kemampuan yang besar dari Sang Buddha, Uruvela Kassapa berkata:
"O Bhikkhu Yang Mulia, maukah kamu tinggal di sini? Saya akan menyediakan makanan untukMu."

Kemudian Sang Buddha tinggal di hutan di dekat pertapaan Uruvela Kassapa. Pada malam itu, empat dewa penjaga mendatangi Sang Buddha, menyinari hutan itu dengan sinar terang yang memancar dari tubuhnya, dan sesudah menghormat kepada Sang Buddha mereka berdiri di empat penjuru seperti pancaran sinar api yang tinggi.

Pada pagi harinya, Uruvela Kassapa mendatangi Sang Buddha dan mengundang untuk menerima dana makanan, dan bertanya siapakah yang datang semalam, dan dijawab itu adalah empat dewa penjaga. Ia berpendapat bahwa Sang Buddha adalah Bhikkhu yang hebat, meskipun Beliau mempunyai kemampuan yang amat tinggi, tetapi Beliau bukanlah seorang Arahat, seperti dirinya.

Pada suatu hari, Uruvela Kassapa mengatur upacara persembahan yang besar dengan mengundang penduduk dari kerajaan Anga dan Magadha, dan menyediakan sejumlah besar makanan dan minuman. Ia takut apabila Sang Buddha tampil dengan mempertunjukkan kemampuan spiritualnya yang tinggi, maka ia akan kehilangan muka dari para pendukungnya, dan berharap supaya Sang Buddha tidak tampil pada upacara persembahan itu.

Sang Buddha mengetahui terlebih dahulu apa yang dipikirkan dan diharapkan dari tuan rumah, dan Beliau berjalan menuju Kuru (India Utara) untuk menerima dana makan siang yang Beliau nikmati di dekat Danau Anottata. Pada keesokan paginya, Uruvela Kassapa mengunjungi Sang Buddha dan bertanya mengapa kemarin Beliau tidak hadir pada upacara persembahan. Sang Buddha menjawab bahwa Beliau telah mengetahui terlebih dahulu apa yang dipikirkan dan diharapkan Uruvela Kassapa dan Beliau pergi menuju India Utara untuk menerima dana makan siang.

Uruvela Kassapa mengakui Sang Buddha adalah orang yang memiliki kemampuan spriritual tinggi, karena Beliau dapat membaca pikiran orang lain, tetapi ia tetap berpendapat bahwa tamunya bukanlah seorang Arahat seperti dirinya.

Pada suatu hari, Sang Buddha ingin mencuci jubahNya, dan mencari sumber air yang jernih. Raja Sakka mengetahui keinginan Sang Buddha, lalu menciptakan empang dengan air yang jernih. Sesudah mencuci jubahNya, Sang Buddha mencari sebuah batu yang dapat digunakan untuk menggosok. Raja Sakka lalu memberikan sebuah batu. Hal yang sama, ketika Sang Buddha mencari tempat untuk menjemur jubah yang baru dicuci, sebuah cabang dari pohon Kakudha dibengkokkan oleh dewa yang berada di pohon itu. akhirnya, ketika jubah itu dibentangkan, Raja Sakka menyediakan papan batu yang besar.

Ketika Uruvela Kassapa mendatangi Sang Buddha keesokan paginya, ia melihat perbedaan di tempat itu, dan mengajukan beberapa pertanyaan dan ia mendengar adanya bantuan dari para dewa. Ia mengetahui kemampuan Sang Buddha yang amat tinggi, tetapi tetap menyatakan Beliau bukanlah seorang Arahat seperti dirinya.

Pada suatu hari, Sang Buddha memperoleh sebuah apel merah dari pohon apel yang berada di India (Jambudipa), asal dari pohon apel merah itu, yang amat terkenal dan Beliau menawarkannya kepada Uruvela Kassapa. Hal yang sama pula, Beliau memperoleh sekuntum bunga dari Parichattaka di alam surga. Sang Buddha dengan kemampuan yang amat tinggi membuat lima ratus ikat kayu bakar terbelah-belah, lalu membakar ke lima ratus ikat kayu tersebut, kemudian memadamkannya. Tidak ada seorang pertapapun yang mampu melakukan hal yang sama. Uruvela Kassapa hanya dapat menciptakan kobaran api di kayu bakar itu. Meskipun melihat hal demikian, Uruvela Kassapa tetap beranggapan Sang Buddha bukanlah seorang Arahat, seperti dirinya.

Akhirnya, terjadi hujan amat lebat sepeti ditumpahkan dari langit, yang menyebabkan banjir yang amat hebat. Tetapi tempat di mana Sang Buddha berada tidak tersentuh oleh banjir itu sedikitpun. Uruvela Kassapa datang dengan sebuah perahu untuk menolong Sang Guru Agung, tetapi ia amat keheranan ketika melihat Sang Buddha terbang ke angkasa dan turun ke atas perahunya. Tetapi ia tetap saja beranggapan Sang Buddha bukanlah seorang Arahat seperti dirinya.

Kemudian Sang Buddha menerangkan kepada Uruvela Kassapa, bahwa ia [Uruvela Kassapa] bukanlah seorang Arahat seperti yang disangkanya dan juga tidak menempuh jalan yang benar untuk menuju kebebasan yang sempurna. Uruvela Kassapa sadar, lalu menyatakan ia mencari perlindungan di bawah Sang Buddha, dan menjadi murid Sang Buddha.

Sang Buddha mengingatkan kepadanya bahwa ia harus memikirkan kesejahteraan kelima ratus muridnya. Ia lalu berbicara kepada kelima ratus muridnya, akhirnya Uruvela Kassapa beserta murid-muridnya membuang semua pakaian pertapa mereka ke sungai dan menjadi murid Sang Buddha.

Pada suatu hari, Nadi Kassapa yang bertempat tinggal di sebelah hilir sungai menjadi terkejut melihat banyak peralatan sembahyang terapung di sungai. Ia mengira bahwa suatu bencana hebat telah menimpa diri kakaknya. Dengan tergesa-gesa, diikuti tiga ratus orang pengikutnya, Nadi Kassapa pergi ke tempat Uruvela Kassapa. Setelah tiba, Nadi Kassapa melihat bahwa kakaknya sudah menjadi bhikkhu. Selanjutnya Nadi Kassapa diberi penjelasan tentang sia-sianya memuja api, sehingga akhirnya ia bersama-sama pengikutnya pun menjadi bhikkhu. Hal yang sama juga terjadi pada diri Gaya Kassapa beserta para pengikutnya. Dengan demikian tiga kelompok kaum Jatila yang berjumlah 1.003 orang telah menjadi pengikut Sang Buddha.

Setelah beberapa waktu di Uruvela, Sang Buddha beserta rombongan melanjutkan perjalanan-Nya menuju Gayasisa di tepi Sungai Gaya. Di tempat itu Sang Buddha mengumpulkan murid-muridNya dan memberikan khotbah yang kemudian dikenal sebagai Adittapariyaya Sutta. Ringkasan dari khotbah itu adalah sebagai berikut:

"Oh, Bhikkhu, semuanya menyala. Apakah itu yang menyala? Mata, penglihatan, kesadaran mata, kesan-kesan mata dan semua perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atau netral yang timbul dari kesan-kesan mata (Ini adalah kelompok pertama).

Telinga, suara, kesadaran telinga, kesan-kesan telinga dan semua perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atau netral yang timbul dari kesan-kesan telinga (Ini adalah kelompok kedua).

Hidung, bebauan, kesadaran hidung, kesan-kesan hidung dan semua perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atau netral yang timbul dari kesan-kesan hidung (Ini adalah kelompok ketiga).

Lidah, rasa, kesadaran lidah, kesan-kesan lidah dan semua perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atau netral yang timbul dari kesan-kesan lidah (Ini adalah kelompok keempat).

Tubuh, sentuhan, kesadaran tubuh, kesan-kesan tubuh dan semua perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atau netral yang timbul dari kesan-kesan tubuh (Ini adalah kelompok kelima).

Batin, pikiran, kesadaran batin, kesan-kesan batin dan semua perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atau netral yang timbul dari kesan-kesan batin (Ini adalah kelompok keenam).

Semua itu menyala-nyala. Menyala dengan apa? Menyala dengan api dari keserakahan, kebencian dan khayalan yang menyesatkan, menyala dengan api dari kelahiran, usia tua dan kematian, menyala dengan api dari kesedihan, ratap tangis, sakit, duka cita, dan putus asa.Seorang siswa Yang Ariya, yang melihat keadaan ini akan merasa jemu.
Karena merasa jemu, ia akan melepaskan nafsu-nafsu keinginan.
Karena melepaskan nafsu-nafsu keinginan, batinnya tidak melekat lagi kepada segala sesuatu.
Karena tidak melekat lagi kepada segala sesuatu akan timbul Pandangan Terang, sehingga ia mengetahui bahwa ia sudah terbebas. Ia tahu bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu apa pun yang masih harus dikerjakan untuk memperoleh Penerangan Agung."

Setelah Sang Buddha selesai memberikan khotbah, batin bhikkhu-bhikkhu tersebut terbebas seluruhnya dari kemelekatan dan bersih dari kekotoran batin. Mereka semua mencapai tingkat yang tertinggi, yaitu menjadi Arahat.

Menuju Kota Rajagaha
Dalam perjalanan ke Rajagaha, Sang Buddha tiba di suatu tempat perbatasan antara kota Rajagaha dan Nalanda dan beristirahat di bawah pohon beringin Bahuputtaka. Pada waktu itu, seorang pertapa bernama Pipphali lewat di tempat itu. Pipphali adalah anak seorang Brahmana dari keluarga Kassapa yang bernama Kapila dengan istrinya yang bernama Sumanadevi dari Desa Mahatittha di negara Magadha. Ia menghampiri Sang Buddha dan setelah mengetahui bahwa yang diajak bicara adalah seorang Buddha, Pipphali mohon diterima menjadi murid. Sang Buddha mentahbiskannya dengan cara memberikan tiga buah nasehat,

"Oh, Kassapa, engkau harus selalu ingat bahwa pertama, engkau harus hidup sederhana dan patuh kepada para bhikkhu yang tua, yang muda, dan yang setengah tua. Kedua, engkau harus mendengarkan Dhamma dengan baik, memperhatikannya dan merenungkannya. Ketiga, engkau harus selalu menyadari dan memperhatikan tubuhmu dan terus-menerus mengambil tubuhmu sebagai obyek meditasi."

Setelah ditahbiskan, Kassapa mohon untuk menukar jubahnya yang baru dengan jubah Sang Buddha yang sudah tua. Kemudian Sang Buddha bangkit dan meneruskan perjalanan-Nya menuju Rajagaha.

Bangga karena merasa mendapat kehormatan besar dapat memakai jubah bekas Sang Buddha, Kassapa kemudian dengan tekun melaksanakan latihan Dhutanga. Pada hari kedelapan, ia mencapai tingkat kesucian Arahat.

Maha Kassapa sering dijadikan suri teladan tentang sikap yang baik dari seorang bhikkhu yang berdiam di hutan. Selama menjadi bhikkhu sampai berusia lanjut, Maha Kassapa selalu tinggal di hutan, tiap hari mengumpulkan makanan, selalu memakai baju bekas (pembungkus mayat), sudah puas dengan pemberian yang sedikit (kecil), selalu hidup menjauhi masyarakat ramai dan terkenal rajin sekali. Sebagai penghormatan, Beliau diberi nama Maha Kassapa (Kassapa Agung).

Tiga bulan setelah Sang Buddha meninggal dunia, Maha Kassapa mengetuai Sidang Agung (Sangha-Samaya) yang pertama dengan dihadiri oleh 500 orang Arahat di Goa Sattapanni, kota Rajagaha untuk menghimpun semua tata tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni dan semua khotbah Sang Buddha yang pernah diberikan di tempat-tempat yang berlainan, kepada orang-orang yang berlainan dan pada waktu yang berlainan pula selama 45 tahun. Maha Kassapa meninggal dunia pada usia 120 tahun.

Di sebelah Tenggara Jambudipa terdapat sebuah negara besar dan berpengaruh, yaitu negara Magadha yang berpenduduk padat dan kaya raya dan di sebelah Timurnya terletak negara Anga. Raja Bimbisara adalah Maha raja negara Magadha dan Anga tersebut dengan ibukota Rajagaha.

Setelah beberapa lama diam di Gayasisa, Sang Buddha melanjutkan perjalanannya menuju Rajagaha dan berhenti di hutan kecil Latthivana.

Dalam waktu singkat tersiar berita bahwa Pertapa Gotama, putra Sakya, sekarang berada di Rajagaha dan berdiam di hutan kecil Latthivana. Beliau adalah seorang Arahat, seorang yang telah memperoleh Penerangan Agung, dan mengajar Dhamma yang mulia di awalnya, mulia di pertengahannya, dan mulia di akhirnya, yang telah mengumumkan kehidupan suci yang benar-benar bersih dan sempurna dalam ungkapan dan dalam hakekatnya. Melihat seorang Arahat yang demikian itu bermanfaat sekali agar keinginan orang dapat terkabul.

Mendengar berita itu, Raja Bimbisara datang mengunjungi Sang Buddha dengan diikuti pengiringnya. Setelah memberi hormat, Raja kemudian duduk di satu sisi. Tetapi para pengiringnya bersikap macam-macam dan ada yang bersikap acuh tak acuh. Ada yang berlutut, ada yang hanya memberi hormat dengan ucapan, ada yang menyembah, ada yang memberitahukan namanya dan juga nama keluarganya, dan ada yang duduk diam saja.

Sang Buddha, yang melihat sikap acuh tak acuh dan kurang hormat dari pengiring Raja, tahu bahwa mereka masih belum siap untuk menerima ajaran.

Karena itu Sang Buddha memandang perlu agar Uruvela Kassapa terlebih dulu memberikan keterangan tentang sia-sianya pemujaan yang dulu ia lakukan. Hal ini perlu untuk menyingkirkan keragu-raguan sebelum mereka siap untuk mendengarkan Dhamma.

Karena itu Sang Buddha berkata kepada Uruvela Kassapa, "Oh, Kassapa, kamu sudah lama berdiam di Uruvela dan menjadi pemimpin kaum Jatila yang pandai dalam upacara keagamaan. Apakah sebabnya sehingga kamu berhenti melakukan pemujaan api yang biasa kamu lakukan? Aku bertanya padamu, oh Kassapa, mengapa kamu meninggalkan kebiasaan memuja api?"

Uruvela Kassapa menjawab, "Semua Yañña atau upacara dengan mempersembahkan sesajen bertujuan untuk memperoleh penglihatan, suara, rasa dan wanita yang menggiurkan, yang didambakan manusia. Persembahan sesajen itu menimbulkan harapan bahwa setelah melakukan persembahan tersebut orang akan dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Telah kuketahui sekarang bahwa kesenangan-kesenangan indria tersebut merupakan kekotoran batin yang membuat orang dicengkeram oleh nafsu-nafsu. Karena itu aku tidak lagi tertarik melakukan praktek pemujaan api."

Kemudian Sang Buddha bertanya lagi, "Setelah kini kamu tidak lagi tertarik kepada penglihatan, suara dan rasa yang menjadi obyek bagi kesenangan indria, oh Kassapa, apa sebenarnya yang kamu cari di alam manusia dan alam dewa ini? Coba kamu ceritakan."

Kassapa menjawab, "Aku telah berhasil mencapai keadaan yang penuh damai, tanpa dikotori oleh nafsu-nafsu yang dapat menimbulkan penderitaan, tanpa keinginan untuk melekat, tanpa kemelekatan kepada alam kesenangan indria, tanpa perubahan, tanpa tergantung pada kekuatan luar dan hanya dapat dipahami oleh pribadi masing-masing. Karena hal-hal yang di atas itulah aku tidak lagi tertarik untuk melakukan praktek pemujaan api yang dulu kulakukan."

Selesai memberi jawaban, Kassapa bangun dari tempat duduknya. Dengan jubah menutupi satu pundaknya (sebagai sikap menghormat) ia berlutut tiga kali di bawah kaki Sang Buddha dan mengaku bahwa Sang Buddha adalah gurunya dan ia adalah murid-Nya.
Setelah keragu-raguan para hadirin dapat disingkirkan dan batin mereka sudah siap untuk menerima pelajaran, mulailah Sang Buddha memberikan khotbah tentang Anupubbikatha dilanjutkan dengan Empat Kesunyataan Mulia.

Selesai Sang Buddha memberikan khotbah, sebelas dari dua belas orang yang hadir memperoleh Mata Dhamma dan yang lain memperoleh keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Kemudian Raja menceritakan tentang keinginannya semenjak kecil, "Dulu, sewaktu masih menjadi Putra Mahkota dan belum naik tahta kerajaan, aku mempunyai lima macam keinginan, yaitu pertama, semoga aku kelak naik di tahta kerajaan Magadha. Kedua, semoga seorang Arahat yang memperoleh Penerangan Agung datang di negeriku sewaktu aku masih memerintah. Ketiga, semoga aku memperoleh kesempatan untuk mengunjungi Arahat tersebut. Keempat, semoga Arahat tersebut memberikan khotbah kepadaku. Kelima, semoga aku mengerti apa yang harus dimengerti dari ajaran Arahat tersebut. Sekarang semua keinginanku yang berjumlah lima itu telah terpenuhi." .

Selanjutnya Raja Bimbisara memuji khotbah Sang Buddha dan menyatakan dirinya sebagai upasaka untuk seumur hidup dibawah perlindungan dari Sang Buddha dan menjadi pengikutNya. Raja Bimbisara menyumbangkan Taman Veluvana sebagai tempat tinggal Sang Buddha dan para Bhikkhu. Veluvana menjadi vihara pertama. Sang Buddha beserta pengiring-Nya pulang dan pindah ke tempat yang baru. Ini merupakan sumbangan tempat tinggal untuk pata bhikkhu yang pertama, mulai hari itu Sang Buddha memperbolehkan para bhikkhu menerima pemberian serupa itu.

Sigala Memuja di enam arah
Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu, di Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapatta). Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu menyembah ke berbagai arah dan bertanya :
"O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?"

"Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali, saya menyembah ke enam arah."

Sang Buddha lalu berkata, "Tetapi anakKu, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian."

Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
"Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya."

Memberi lima arahan pada Sigala
Sang Buddha kemudian menjelaskan kepada Sigala mengenai apa yang sebenarnya dimaksud oleh ayahnya, "O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini.

Karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya.

Pada saat penghancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.

Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu?

Yaitu membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong.

Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan?
Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan :
  • atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
  • atas dorongan kebencian (dosa gati),
  • atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
  • atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Tetapi karena para siswa Ariya tidak terseret oleh keempat dorongan-dorongan tersebut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat."

Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut:

"Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap."

"Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang."

"Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?" Yaitu:
  1. Gemar minum minuman yang memabukkan,
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan,
  4. Gemar berjudi,
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat,
  6. Kebiasaan malas.
"O putera kepala keluarga, terdapat pula enam bahaya karena :
  1. Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :

    • Kerugian harta secara nyata,
    • Bertambahnya pertengkaran,
    • Tubuh mudah terserang penyakit,
    • Kehilangan sifat yang baik,
    • Terlihat tidak sopan,
    • Kecerdasan menjadi lemah.

  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu:

    • Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
    • Menjadi sasaran desas-desus palsu,
    • Ia akan menjumpai banyak kesulitan.

  3. Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir:

    • Dimanakah ada tari-tarian,
    • Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
    • Dimanakah ada pertunjukan musik,
    • Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
    • Dimanakah ada permainan tambur,
    • Dimanakah ada permainan genderang.

  4. Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :

    • Bila menang, ia memperoleh kebencian,
    • Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
    • Kerugian harta benda secara nyata,
    • Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
    • Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
    • Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.

  5. Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat dari:

    • Setiap penjudi,
    • Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
    • Setiap pemabuk,
    • Setiap penipu,
    • Setiap orang yang kejam.

  6. Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata:

    • 'Terlalu dingin' dan ia tidak bekerja,
    • 'Terlalu panas' dan ia tidak bekerja,
    • 'Terlalu pagi' dan ia tidak bekerja,
    • 'Terlalu siang' dan ia tidak bekerja,
    • 'Aku terlalu lapar' dan ia tidak bekerja,
    • 'Aku terlalu kenyang' dan ia tidak bekerja.
Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis."

Sang Buddha kemudian menerangkan :
"O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
  1. Orang yang tamak,
  2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
  3. Penjilat,
  4. Kawan pemboros.
Terdapat pula empat dasar yang menyebabkan orang yang seharusnya dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
  1. Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

    • Ia tamak,
    • Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
    • Ia melakukan kewajibannya karena takut,
    • Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.

  2. Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
    • Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
    • Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.

  3. Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

    • Ia menyetujui hal-hal yang salah,
    • Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
    • Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
    • Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.

  4. Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi."
Sang Bhagava lalu mengucapkan syair berikut:

"Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan."

"O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada), yaitu:
  1. Sahabat penolong,
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah,
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
  4. Sahabat yang bersimpati.
Atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus:
  1. Sahabat penolong berhati tulus karena :

    • Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
    • Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
    • Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
    • Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan.

  2. Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena:

    • Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
    • Ia menjaga rahasia dirimu,
    • Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan
    • Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.

  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena:

    • Ia mencegah engkau berbuat jahat,
    • Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar,
    • Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
    • Ia menunjukkan engkau jalan ke surga.

  4. Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena:

    • Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
    • Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
    • Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
    • Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.
"O putera kepala keluarga, bagaimanakah caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu?

Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut:
  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur,
  2. Para guru seperti arah Selatan,
  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat,
  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara,
  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah,
  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas,
"AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :
  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur.

    Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur:

    • Dahulu aku ditunjang oleh mereka, sekarang aku menjadi
      penunjang mereka,
    • Aku akan menjalankan kewajibanku terhadap mereka
    • Aku akan pertahankan kehormatan keluargaku,
    • Aku akan mengurus warisanku,
    • Aku akan melakukan/mengatur persembahan untuk sanak keluarga yang telah meninggal.

    • [note: konteks persembahan kepada yang telah meninggal adalah upacara pelimpahan jasa sebagaimana tercantum pada tirokudda sutta dan Sariputtattheramatupetivatthuvannana, Pembahasannya lihat di sini]

    Dalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:

    • Mencegah anaknya berbuat jahat,
    • Mendorong mereka berbuat baik,
    • Melatihnya dalam suatu profesi,
    • Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
    • Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur.

    Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  2. Para guru seperti arah Selatan.

    Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan:

    • Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
    • Dengan melayani mereka,
    • Dengan bersemangat untuk belajar,
    • Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
    • Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.

    Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:

    • Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
    • Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
    • Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
    • Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
    • Menjaga keselamatannya di semua tempat.

    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan.

    Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.

    Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat:

    • Dengan menghormati,
    • Dengan bersikap ramah-tamah,
    • Dengan kesetiaan,
    • Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
    • Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.

    Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat dengan:

    • Mencintainya,
    • Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
    • Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
    • Dengan kesetiaan,
    • Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
    • Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.

    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya seperti arah Barat.

    Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya. Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.

    Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara dengan:

    • Bermurah hati,
    • Berlaku ramah,
    • Memberikan bantuan,
    • Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
    • Berbuat sebaik ucapannya.

    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya dengan:

    • Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
    • Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
    • Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
    • Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
    • Mereka menghormati keluarganya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara.

    Dalam lima cara inilah sahabat-sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah.

    Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah:

    • Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
    • Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
    • Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
    • Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
    • Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan cara:

    • Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
    • Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
    • Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
    • Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
    • Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah.

    Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya. Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.

    Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas:

    • Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
    • Dengan cinta kasih dalam perkataan,
    • Dengan cinta kasih dalam pikiran,
    • Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
    • Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka:

    • Mereka mencegah ia berbuat jahat,
    • Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
    • Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
    • Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
    • Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
    • Mereka menunjukkan ia jalan ke surga.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas.

    Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya."
Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putera kepala keluarga itu, berkata dengan amat gembira,

"Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh mengagumkan, Yang Mulia!

Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan, agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya.

Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepada saya.

Dan sekarang, Yang Mulia, saya menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.

Semoga Yang Mulia berkenan menerima saya sebagai seorang upasaka (Pengikut Buddha bukan Bikkhu), yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha."
Upatissa dan Kolita
Selama Sang Buddha tinggal di dekat Rajagaha, waktu itu hidup dua orang pemuda dari kasta brahmana yang kaya raya, yang sejak kecil bersahabat. Yang satu bernama Upatissa, anak seorang wanita bernama Rupasari, yang lain bernama Kolita, anak seorang wanita bernama Moggalli. Mereka berdua berguru kepada Sanjaya, seorang pertapa dari golongan Paribbajaka, yang mempunyai dua ratus lima puluh orang murid.

Upatissa dan Kolita termasuk dua orang murid yang pandai dan sering mewakili gurunya memberi bimbingan kepada murid-murid yang lain. Meskipun sudah belajar lama dan memiliki seluruh kepandaian gurunya, tetapi mereka berdua masih belum puas. Mereka kemudian berjanji bahwa siapa di antara mereka kelak yang lebih dulu memperoleh ajaran sempurna akan memberitahukan hal itu kepada yang lain.

Bertemu dengan  Assaji
Pada suatu hari Ayasma Assaji, seorang dari lima orang bhikkhu pertama, kembali ke Rajagaha untuk memberi laporan kepada Sang Buddha tentang perjalanannya ke berbagai tempat untuk mengajar Dhamma. Sebagaimana biasa, Ayasma Assaji tiap pagi mengumpulkan makanan dan waktu itulah Beliau terlihat oleh Upatissa. Upatissa terkesan sekali melihat sikap Ayasma Assaji yang demikian tenang dan agung. Setiap gerakannya memberi kesan berwibawa dan menuntut penghormatan dari orang yang melihatnya.

Baik berjalan ke depan atau bertindak ke belakang, atau membentangkan, atau menekuk tangannya, ia selalu kelihatan penuh keseimbangan dengan kepala agak tunduk sedikit dan mata ditujukan ke arah depan Pemandangan ini membuat Upatissa terpesona dan membangkitkan perasaan ingin tahu. Seketika itu ia ingin menegur, tetapi kemudian membatalkannya karena ia menganggap waktunya kurang tepat berhubung waktu itu Ayasma Assaji sedang mengumpulkan makanan.

Ia menunggu sampai Ayasma Assaji selesai makan dan kemudian mendekati serta memberi hormat, "Saudara, pembawaan Anda luar biasa dan wajah Anda terang sekali. Dengan menjalankan kehidupan suci ini kepada siapakah Anda mengabdi? Siapakah guru Anda? Dan ajaran siapakah yang Anda ikuti?"

Ayasma Assaji menjawab, "Saudara, dengan menjalankan kehidupan suci ini aku mengabdi kepada seorang Pertapa Agung, anak dari suku Sakya, yang telah menjadi bhikkhu dari keluarga Sakya. Pertapa Agung itulah yang menjadi guruku. Dan ajaran-Nya yang aku ikuti."

"Apakah yang diajar guru Anda, Saudara?"

"Aku seorang pendatang baru. Aku baru saja ditahbiskan. Aku belum berapa lama mengikuti ajaran ini, sehingga aku tidak dapat memberikan pelajaran itu secara terperinci. Tetapi aku akan memberitahukan Anda garis besarnya."

"Baik sekali, Saudara. Bagi saya sama saja apakah Anda memberitahukan garis besarnya atau secara terperinci. Aku ingin mendengar intisari dari ajaran tersebut, yang lain tidak dapat membantu apa-apa."

Ayasma Assaji kemudian mengucapkan syair di bawah ini: "Ye dhamma hetuppabhava,Tessam hetum Tathagato, Tesañca yo nirodho ca, Evam vadi mahasamano., Artinya: "Semua benda yang timbul karena satu 'sebab', 'Sebabnya' telah diberitahukan oleh Sang Tathagata, Dan juga lenyapnya kembali

Itulah yang diajarkan Sang Pertapa Agung"

Mendengar syair tersebut, Upatissa seketika memperoleh Mata Dhamma (Dhammacakkhu) dan berkata dalam hatinya, "Yankiñci samudayadhammam Sabbantam nirodha dhammam." Artinya: "Segala sesuatu yang timbul karena satu 'sebab' Di dalamnya pun terdapat 'sebab' yang membuat ia musnah kembali. "

Kemudian Upatissa menanyakan tempat tinggal Sang Buddha. Setelah diberitahukan bahwa Sang Buddha pada saat itu berdiam di Veluvanarama, Upatissa kemudian mohon diri dari Ayasma Assaji dan berjanji akan datang mengunjungi Sang Buddha bersama sahabatnya yang bernama Kolita. Upatissa kembali ke tempat gurunya, Sanjaya, dan memberitahukan Kolita peristiwa apa yang baru saja ia alami.

Ia mengulang syair yang diucapkan Ayasma Assaji dan seketika itu pula Kolita memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna. Kemudian mereka berdua melaporkan berita ini kepada Sanjaya dan mohon diperkenankan untuk mengunjungi Sang Buddha. Tetapi Sanjaya menolak untuk memberi izin. Akhirnya, tanpa izin, mereka berdua dengan diikuti dua ratus lima puluh orang muridnya pergi juga berkunjung kepada Sang Buddha dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu.

Dari kelompok ini dapat diceritakan bahwa mereka semua mencapai tingkat Arahat, bahkan para muridnya terlebih dulu mencapai tingkat kesucian tersebut, kemudian disusul oleh Kolita dan yang terakhir Upatissa. Tujuh hari setelah ditahbiskan menjadi bhikkhu, Kolita menyepi di Desa Kallavalamuttagama di kota Magadha. Di tempat itu Kolita giat melatih meditasi untuk memperoleh Pandangan Terang. Pada suatu ketika ia merasa ngantuk sekali.

Sang Buddha menghampirinya dan memberikan petunjuk untuk menanggulangi perasaan ngantuk, "Apa pun pencerapanmu pada waktu kamu diserang perasaan mengantuk, Moggallana (Kolita di kemudian hari terkenal dengan nama ini yang berarti: anak Moggalli), kamu harus terus menyadari pencerapan tersebut. Cara ini dapat menolong untuk mengusir perasaan mengantuk."

"Kalau cara ini tidak menolong, kamu harus memusatkan pikiranmu kepada Dhamma yang pernah kamu dengar atau pelajari. Cara ini dapat menolong untuk mengusir perasaan mengantuk."

"Kalau cara ini masih belum menolong, kamu harus mengulang dengan suara keras Dhamma yang pernah kamu dengar atau pelajari. Cara ini dapat menolong untuk mengusir perasaan mengantuk."

"Kalau cara ini masih belum menolong, kamu harus menggosok-gosok kupingmu dengan jeriji dan mengusap-usap tubuhmu dengan tangan. Cara ini dapat menolong untuk mengusir perasaan mengantuk."

"Kalau cara ini masih belum menolong, kamu harus bangun dan mencuci matamu dengan air, kemudian memandang ke sekelilingmu dan mengamat-amati bintang di langit. Cara ini dapat menolong untuk mengusir perasaan mengantuk."

"Kalau cara ini masih belum menolong, kamu harus memusatkan pikiranmu kepada pencerapan dari cahaya terang, dan pikiranmu selalu membayangkan 'cahaya siang hari' baik pada waktu siang hari maupun pada waktu malam hari, membuka batinmu dari selubung yang menutupinya dan mengembangkan batinmu bermandi cahaya terang. Cara ini dapat menolong untuk mengusir perasaan mengantuk."

"Kalau cara ini masih belum menolong, kamu harus berbaring dengan 'sikap seekor singa', yaitu miring ke kanan dengan kaki kiri di atas kaki kanan, batin dalam keadaan 'sadar' dan pikiran terpusat kepada saat kamu ingin bangun. Setelah bangun kamu harus segera bangkit sambil merenung 'Aku tidak ingin memanjakan diriku dengan berbaring, menyender atau tidur'. Ini Moggallana, yang kamu harus selalu ingat."

"Selanjutnya, Moggallana, kamu harus selalu ingat 'aku tidak boleh merasa ingin terlalu dihormat kalau masuk ke rumah seorang umat biasa'. Sebab kalau seorang bhikkhu masuk ke rumah seorang umat biasa dengan perasaan ingin terlalu dihormat dan pada waktu itu mungkin ada urusan rumah tangga yang sangat penting yang harus diselesaikan terlebih dulu sehingga bhikkhu itu 'terlupakan', maka akan timbul pikiran dalam batin bhikkhu tersebut,

Siapakah yang menghasut orang ini terhadap diriku?

Orang ini kelihatannya sekarang 'acuh tak acuh'. Karena merasa tak diacuhkan lagi timbul perasaan malu, karena malu pikirannya kacau, karena pikirannya kacau ia tidak dapat mengendalikan dirinya dengan baik, karena tidak dapat mengendalikan diri dengan baik, ia gagal melakukan meditasi."

"Selain dari itu, Moggallana, kamu harus selalu ingat, 'aku tidak ingin mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan pertengkaran atau mencari-cari kesalahan orang lain'. Sebab kalau orang berbicara tentang sesuatu yang dapat menimbulkan pertengkaran atau mencari-cari kesalahan orang lain, maka hal itu mengakibatkan perdebatan yang panjang. Dengan adanya perdebatan yang panjang, ia tak dapat memusatkan pikirannya. Karena tak dapat memusatkan pikirannya, ia tak dapat mengendalikan diri, karena ia tak dapat mengendalikan diri, ia gagal melakukan meditasi."

"Sekarang, Moggallana, aku tidak selalu memujikan orang berkumpul dan juga aku tidak selalu menolaknya. Aku tidak memujikan berkumpul dengan orang banyak, baik itu bhikkhu atau orang biasa. Tetapi kalau ada tempat sunyi dan tidak terganggu oleh suara berisik dari orang yang lalu lalang, cocok sekali untuk seorang pertapa yang menyukai kesunyian, cocok untuk dipakai sebagai tempat menyepi oleh mereka yang lebih menyukai hidup menyendiri, maka berdiam di tempat demikian itu selalu aku pujikan."

Setelah diberikan petunjuk di atas, Moggallana menanyakan tentang kesimpulan terakhir bagi orang yang sudah cenderung untuk menyingkirkan nafsu-nafsu keinginan dan sudah siap untuk memperoleh hasil 'di luar duniawi'.

Sang Buddha menjawab, "Moggallana, seorang bhikkhu yang melaksanakan Dhamma ini, tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang berharga untuk dilekati. Setelah tahu hal tersebut, ia kemudian mengamat-amati benda-benda itu dengan Kebijaksanaan Tinggi, setelah mengamat-amati benda-benda itu dengan Kebijaksanaan Tinggi, ia dapat menyelami hakekat benda-benda tersebut, maka sewaktu mengalami perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral ia memandangnya sebagai sesuatu yang tidak kekal. Jadi, ia memandangnya dengan perasaan jemu untuk kemudian menyingkir dan melepaskan diri dari perasaan tersebut.

Dengan merenung seperti itu, ia tidak melekat lagi kepada apa pun dalam dunia ini, karena tidak lagi melekat, ia tidak dapat lagi diganggu, karena tidak dapat lagi diganggu, ia dapat rnenyingkirkan semua kekotoran batin dan mengetahui bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu apa pun yang masih harus dikerjakan untuk memperoleh Penerangan Agung. Dengan kesimpulan terakhir inilah, Moggallana, seorang bhikkhu dapat dipandang sudah cenderung untuk menyingkirkan nafsu-nafsu keinginannya dan sudah siap untuk memperoleh hasil 'di luar duniawi'."

Dengan melaksanakan petunjuk tesebut, Moggallana berhasil mencapai tingkat Arahat hari itu juga. Lima belas hari setelah ditahbiskan, Upatissa (yang kemudian terkenal sebagai Sariputta, anak Sari), berdiam bersama-sama Sang Buddha di Goa Sukarakhata dari Gunung Gijjhakuta (Puncak Burung Nasar) di kota Rajagaha.

Seorang pertapa golongan Paribbajaka bernama Dighanakha dari keluarga Aggivesana pada suatu hari menghampiri Sang Buddha dan setelah saling mengucapkan kata-kata menghormat, ia berdiri di satu sisi. Ia kemudian memberikan pandangannya dengan mengatakan, "Yang Mulia Gotama, semua benda tidak menyenangkan hatiku. Aku tidak merasa tertarik kepadanya."

"Kalau begitu, Aggivesana, pandangan yang demikian itu pasti tidak menyenangkan hatimu dan sudah semestinya kamu tidak tertarik lagi kepadanya." Setelah itu Sang Buddha menguraikan tentang adanya tiga pandangan mengenai hal tersebut.

"Ada kelompok pertapa dan Brahmana, Aggivesana, yang mempunyai pandangan bahwa semua benda menyenangkan hati mereka, mereka tertarik kepada semua benda. Ada kelompok lain berpegang teguh kepada pandangan bahwa semua benda tidak menyenangkan hati mereka, mereka tidak tertarik kepada apa pun juga. Kelompok ketiga mempunyai pandangan bahwa ada benda-benda yang menyenangkan hati dan mereka tertarik kepada benda-benda tersebut".

"Terhadap benda-benda lain yang tidak menyenangkan hati, mereka tidak tertarik. Pandangan kelompok pertama ialah condong ingin memiliki benda-benda tersebut. Pandangan kelompok kedua condong untuk membenci atau mempunyai pikiran buruk terhadap benda-benda. Pandangan kelompok ketiga ialah condong ingin memiliki beberapa benda-benda dan membenci benda-benda yang lain."

"Seorang bijaksana melihat bahwa kalau ia mengambil sikap dan mengatakan bahwa ini yang benar dan yang dua itu salah, ia akan bertentangan pendapat dengan mereka yang mempunyai kedua pandangan yang lain itu. Dengan adanya pertentangan pendapat akan timbul pertengkaran. Dengan adanya pertengkaran akan timbul perasaan benci. Dengan adanya perasaan benci akan timbul permusuhan. Setelah menyelami keadaan ini, seorang bijaksana akan menyingkirkan pandangan itu dan juga tidak menganut pandangan pandangan yang lain. Dengan melakukan ini, ia telah melepaskan ketiga pandangan tersebut".

Setelah menjelaskan tentang ketiga pandangan salah tersebut, Sang Buddha kemudian memberikan uraian tentang cara bagaimana orang dapat menyingkirkan kemelekatan.

"Tubuh ini, Aggivesana, terdiri atas empat unsur pokok (Mahabhutarupa), yaitu tanah, air, hawa udara, dan api. Ia berasal dari ayah dan ibu, dibesarkan dengan makanan nasi dan sayur-sayuran, selalu memerlukan wangi-wangian dan sabun untuk menutupi bau yang menyerang keluar, dan selalu harus dibersihkan dan digosok (untuk membersihkan kotoran yang melekat di kulit)."

"Ia ditakdirkan untuk lapuk dan membusuk. Kamu harus melihatnya sebagai sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, sulit untuk dipertahankan, kamu harus melihatnya sebagai penyakit, sebagai bisul yang terkena anak panah dan menimbulkan kepedihan dan kesakitan, kamu harus melihatnya sebagai tanpa aku. Kalau melihat semua ini dengan terang, kamu dapat melepaskan keinginan terhadap kesenangan-kesenangan indria".

"Selain dari itu, perasaan terdiri atas tiga jenis, yaitu yang menyenangkan, tidak menyenangkan, dan yang netral. Kalau perasaan menyenangkan timbul, maka perasaan tidak menyenangkan dan netral tidak bisa muncul. Kalau perasaan tidak menyenangkan timbul, maka perasaan menyenangkan dan netral tidak bisa muncul. Kalau perasaan netral timbul, maka perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak bisa muncul. Itulah tiga jenis perasaan yang tidak kekal dan timbul oleh sesuatu sebab dan dilahirkan oleh sebab. Perasaan itu ditakdirkan untuk mati kembali, menyusut, menciut, dan hilang sama sekali".

"Siswa Yang Ariya, yang mengetahui hakekat yang sebenarnya, merasa jemu terhadap perasaan yang menyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral. Karena jemu, ia akan melepaskan diri dari nafsu-nafsu keinginan. Tanpa nafsu-nafsu keinginan, ia akan bebas dari kemelekatan"

"Dalam batin yang bebas dari kemelekatan akan timbul pengetahuan bahwa batinnya sekarang benar-benar telah bebas. Siswa Yang Ariya itu tahu bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu apa pun yang masih harus dikerjakan untuk memperoleh Penerangan Agung. Bhikkhu yang demikian itu tidak mungkin akan bertengkar lagi mengenai sesuatu pandangan. Apa pun dalil keduniawian yang dikemukakan orang, ia dapat mengikutinya, tetapi ia tidak menganutnya dan juga tidak melekat kepada salah satu dalil."

Selama itu Sariputta berdiri di sisi Sang Buddha dengan kipas di tangan dan mengipasi Sang Bhagava. Mendengar khotbah kepada Dighanakha ia berpikir, "Sang Bhagava menganjurkan untuk melepaskan ikatan kepada semua benda melalui Kebijaksanaan Tertinggi."

Merenungkan arti yang terkandung dalam khotbah tersebut, batinnya terbebas dari semua kekotoran batin dengan jalan menyingkirkan kemelekatan. Setelah khotbah selesai, Dighanakha memperoleh Mata Dhamma.

Terbebas dari keragu-raguan Dhamma. Ia menyatakan diri sebagai upasaka, "Aku berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima aku sebagai upasaka yang berlindung kepada Sang Ti-Ratana untuk seumur hidup."

Dengan cara-cara inilah Moggallana dan Sariputta memperoleh Penerangan Agung dan menjadi Arahat. Sang Buddha sendiri pernah menerangkan di hadapan para bhikkhu dan bhikkhuni bahwa Sariputta adalah murid-Nya yang terpandai dalam kebijaksanaan dan Moggallana yang terpandai dalam kekuatan gaib. Kalau Sang Buddha dinamakan Dhammaraja (Raja Dhamma) maka Sariputta diberi gelar Dhammasenapati (Jenderal Dhamma).

Konferensi di Veluvana
Ketika Sang Buddha berada di kota Rajagaha, seribu dua ratus lima puluh orang Arahat datang berkumpul. Tempat mereka berkumpul adalah di Veluvanarama (hutan pohon bambu) dan waktu itu tengah hari pada saat purnama sidhi di bulan Magha. Peristiwa yang bersejarah ini hingga kini masih tetap dirayakan sebagai Magha-Puja, terutama oleh para bhikkhu di Muangthai / Thailand. Pertemuan para Arahat tersebut dinamakan Caturangasannipata atau Pertemuan Besar Yang Diberkahi dengan Empat Faktor, yaitu:

  • Mereka berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
  • Mereka semuanya Arahat dan memiliki 6 (enam) kekuatan gaib (abhiñña)
  • Semuanya ditahbiskan dengan memakai ucapan "Ehi bhikkhu".
  • Waktu itu Sang Buddha mengucapkan Ovadda Patimokkha.
Ovada Patimokkha yang diucapkan Sang Buddha adalah sebagai berikut (Dhammapada 183;5):

"Sabba papassa akaranam, Kusalassa upasampada, Sacittapariyo dapanam, Etam Buddhana sasanam. Khanti paramam tapo titikkha, Nibbanam paramam vadanti Buddha, Na hi pabbajjito parupaghati, Samano hoti param vihethayanto. Anupavado, anupaghato, Patimokkhe ca samvaro, Mattaññuta ca bhattasmim, Pantham ca sayanasanam, Adhicitte ca ayogo, Etam Budhana sasanam."

Artinya: "Janganlah berbuat kejahatan, Perbanyaklah perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiranmu, Itulah ajaran semua Buddha. Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik, Sang Buddha bersabda; Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya, Beliau bukan pertapa yang menindas orang lain, Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain. Tidak menghina, tidak melukai, Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib, Makanlah secukupnya, Hidup dengan menyepi, Dan senantiasa berpikir luhur, Itulah ajaran semua Buddha."

Kembali ke Kapilavatthu

Setelah Raja Suddhodana menerima berita bahwa Sang Buddha berada di Rajagaha, ibukota negara Magadha, maka Beliau mengirim berturut-turut sembilan orang utusan untuk mengundang Sang Buddha pulang ke Kapilavatthu. Namun utusan-utusan tersebut 'lupa' untuk menyampaikan undangan dari Raja Suddhodana, setelah mereka mendengarkan khotbah Sang Buddha dan mencapai tingkat Arahat.

Akhirnya Raja Suddhodana mengutus Kaludayi untuk mengundang Sang Buddha. Kaludayi adalah kawan bermain Pangeran Siddhattha waktu kecil dan lahir pada hari, bulan, dan tahun yang sama. Kaludayi berangkat menuju Rajagaha. Hal yang hampir sama terjadi, Ia mendengar Sang Buddha memberikan khotbah yang akhirnya membuat Kaludayi mencapai tingkat Arahat(mencapai pencerahan dan tidak akan dilahirkan kembali).

Ia mohon untuk diterima sebagai bhikkhu dan Sang Buddha mentahbiskannya dengan memakai kalimat "ehi bhikkhu". Kemudian Kaludayi menyampaikan undangan Raja Suddhodana kepada Sang Buddha untuk berkunjung ke Kapilavatthu. Sang Buddha menerima baik undangan tersebut. Setelah Kaludayi berdiam tujuh hari di Rajagaha, berangkatlah Sang Bhagava beserta dua puluh ribu bhikkhu menuju Kapilavatthu.

Perjalanan tersebut jauhnya enam puluh Yojana (1 Yojana = 16 Km/7 mil) yang ditempuh dalam waktu enam puluh hari.

Berita kedatangan Sang Buddha beserta rombongan ke Kapilavatthu dengan cepat sampai kepada Raja Suddhodana. Beliau memerintahkan untuk segera disiapkan tempat yang letaknya di luar kota dan dikenal dengan nama Nigrodharama (hutan pohon beringin) bagi rombongan yang akan tiba. Sewaktu rombongan tiba, Raja Suddhodana, pengiring dan penduduk Kapilavatthu berduyun-duyun datang ke Nigrodharama. Peristiwa bertemunya kembali Raja Suddhodana dengan anaknya dituturkan dalam Mhvu. III, 114-121.

Waktu rombongan mendekati Nigrodharama, Sang Buddha merenung, "Bangsa Sakya terkenal sebagai bangsa yang tinggi hati. Bila Aku menyambut mereka dengan tetap duduk di tempat duduk-Ku, mereka akan mencela sikap-Ku dan mengatakan, 'Sungguh keterlaluan Sang Pangeran ini, Ia telah meninggalkan tahta, menjadi pertapa dan mengaku telah memperoleh Penerangan Agung Raja Dhamma namun Ia duduk dan tidak berdiri menyambut kedatangan ayah-Nya yang sudah tua dan sangat dihormati seluruh rakyat Sakya', namun Apabila Sang Tathagata bangun untuk menghormatnya, semua kelompok makhluk yang menerima penghormatannya maka kepalanya akan terbelah belah tujuh. Untuk itu, Lebih baik Aku berjalan diudara setinggi orang dewasa".

Karena itu, setibanya Rombongan, Sang Buddha berjalan diudara setinggi orang dewasa. Dari kejauhan, Raja dapat melihat anaknya sedang berjalan-jalan di udara dan merasa sangat kagum. Tiba di pinggir hutan Nigrodharama, Raja turun dari keretanya dan bersama-sama dengan pengiringnya berjalan kaki menuju ke tempat Sang Buddha tinggal. Sang Buddha naik keudara lebih tinggi lagi dan berdiri setinggi pohon palem, sehingga dapat dilihat oleh segenap yang hadir.

Pada waktu itulah Sang Buddha mempertontonkan Yamakapatihariya atau Mukjizat Ganda, yang hanya dapat dilakukan oleh seorang Buddha, yaitu Api berkobar-kobar dari badan sebelah atas dan air dingin memancar lima ratus pancaran turun dari badan sebelah bawah. kemudian air memancar dari sebelah atas badan dan api berkobar-kobar dari badan sebelah bawah. Segenap yang hadir bersorak-sorak gembira melihat kemukjizatan tersebut.

Saat itu Yasodhara juga hadir dengan menuntun Maha Pradjapati. Maha Pradjapati mengalami kebutaan mata akibat terlalu sedih dan banyak menangis ketika Pangeran Siddhattha meninggalkan istana. Maha Pradjapati mendengar hadirin bersorak-sorak, namun tak dapat melihatnya, Yasodhara menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Dengan penuh rasa haru dan kesujudan, Yasodhara menampung air yang keluar dari badan Sang Buddha sewaktu melakukan Mukjizat Ganda dengan kedua tangannya. Dengan air itu, Ia membasuh dan mencuci mata Mahapajapati berulang kali disertai doa semoga hal itu dapat mengembalikan penglihatan Mahapajapati. Satu mukjizat telah terjadi. Perlahan tapi pasti Mahapradjapati dapat melihat kembali sehingga penglihatannya pulih seluruhnya dan dapat menyaksikan sendiri peristiwa itu. Para hadirin yang melihat itu pun semakin bersorak-sorak gembira.

Sehabis Mukjizat Ganda, kemudian Sang Buddha menghilang. Secara tiba-tiba di udara muncul seekor banteng besar dengan tengkuk yang bergetar-getar lari dari arah Timur dan lenyap disebelah Barat, kemudian lari dari arah Barat dan lenyap di sebelah Timur. Kemudian muncul lagi dan lari dari arah Utara dan lenyap di sebelah Selatan, dan lari dari sebelah Selatan dan lenyap di sebelah Utara. Setelah pemandangan yang di atas lenyap sama sekali, kemudian Sang Buddha terlihat duduk dengan tenang di tempat duduk-Nya.

Hilang sudah keragu-raguan seluruh hadirin, Mereka yakin dengan seluruh hati bahwa Pangeran Siddhattha telah menjadi Buddha. Mereka kemudian berlutut memberi hormat dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada kepada Sang Buddha.

Raja Suddhodana menghampiri anaknya dan berkata, "Ini adalah untuk ketiga kalinya aku menundukkan kepalaku di bawah kakimu, oh Yang Maha Tahu, yang pertama kali adalah sewaktu pertapa Asita meramalkan bahwa anakku kelak akan menjadi Buddha, kedua kali sewaktu aku lihat anakku bermeditasi di bawah Pohon jambu dan ini adalah yang ketiga kalinya."

Kemudian, Raja Suddhodana menanyakan beberapa hal yang menggambarkan begitu besarnya kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anaknya, "Dulu anakku selalu memakai sandal terbuat dari kain wol halus, berjalan di atas permadani yang empuk dan dipayungi dengan payung putih. Tetapi sekarang kaki anakku yang halus dan berwarna tembaga serta penuh garis-garis ajaib ini harus berjalan di atas rumput kasar, duri, dan batu kerikil. Apakah kaki anakku tidak pernah merasa sakit?"

Sang Buddha menjawab, "Aku adalah Sang Penakluk, Yang Maha Tahu, tak ternoda oleh kekotoran-kekotoran batin di dunia ini. Aku telah melepaskan diri dari ikatan kebendaan dan telah terbebas dengan musnahnya semua nafsu-nafsu keinginan. Orang seperti Aku tak dapat lagi diganggu oleh perasaan enak dan tidak enak."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu para pelayan setiap hari memandikan dan menggosok-gosok badan anakku dengan minyak kayu cendana yang baunya harum semerbak. Tetapi sekarang anakku mengembara di waktu malam yang dingin dari satu hutan ke hutan yang lain. Siapakah yang memandikan anakku dengan air bersih dan menyegarkan apabila anakku merasa lelah?"

Sang Buddha menjawab, "Oh, Baginda, murni adalah arus air yang berasal dari pantai kebajikan yang tak ternoda dan dipujikan oleh para bijaksana. Dengan mandi dan menyelam dalam air dewata itulah Aku telah tiba di pantai seberang."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu anakku selalu memakai kain buatan Benares dan baju bersih yang berbau wangi bunga teratai dan cempaka, anakku adalah orang yang paling bercahaya di antara orang-orang dari suku Sakya, sebagaimana dewa Sakka yang paling bercahaya di antara dewa-dewa di langit. Tetapi sekarang anakku memakai pakaian dari kain kasar yang terbuat dari serat kayu merah. Sungguh aneh anakku berbuat seperti ini."

Sang Buddha menjawab, "Para Penakluk, oh Baginda, tidak menghiraukan pakaian, tempat tidur atau makanan, dan juga tidak menghiraukan apakah yang semua yang diterimanya menyenangkan atau tidak."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, kereta yang mahal dan bergemerlapan dengan emas dan tembaga selalu tersedia untuk dipakai kemana pun anakku pergi dan diikuti sebuah payung putih, sebuah pusaka, sebatang pedang, dan sebuah lambang kerajaan. Lagipula Kanthaka, kuda yang paling gagah dan cepat larinya di seluruh negeri selalu menyertai anakku. Meskipun hingga, kereta perang, kuda dan gajah masih ada, namun anakku lebih senang berjalan kaki dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Coba katakan anakku, apakah anakku tidak lelah?"

Sang Buddha menjawab, "Kekuatan gaib adalah kereta-Ku. Ketetapan hati, kebijaksanaan dan pikiran yang terpusat adalah sais-Ku. Padhana yang terdiri atas Sanvara (pengekangan diri dari nafsu-nafsu), Pahana (melenyapkan kekotoran batin), Bhavana. (melaksanakan meditasi) dan Anurakkhana (menjaga watak sendiri) adalah kuda-kuda-Ku. Dengan itu Seorang diri Aku mengembara dan menjelajah ke tempat-tempat yang jauh."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu anakku makan dari piring perak dan minum dari mangkuk emas. Selalu tersedia makanan yang lezat-lezat dengan bumbu yang terpilih, sebagaimana layaknya disajikan kepada seorang raja. Tetapi sekarang anakku makan dengan tanpa perasaan muaknya hidangan asin atau tidak asin, kasar atau lembut, dengan bumbu atau tanpa bumbu. Sungguh aneh anakku berbuat hal seperti itu."

Sang Buddha menjawab, "Seperti juga Buddha-Buddha dari zaman dulu hingga zaman yang akan datang, maka Aku, Sang Tathagata, makan yang lembut dan kasar, berbumbu atau tidak dengan pikiran yang terkendali hanya untuk kepentingan dunia ini."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, anakku tidur di dipan tinggi yang dilapisi kulit kambing hutan dengan bantal yang empuk dilapisi sutra halus. Kaki dipan terbuat dari emas dan dibalut dengan untaian bunga yang harum semerbak, dengan lantai dialaskan permadani yang terbuat dari bahan wol dan kapas. Sekarang anakku memakai rumput dan daun-daunan sebagai kasur dan tidur di atas tanah yang kasar dan berbatu. Dan rupanya anakku menyukainya. Apakah tubuh Yang Maha Bijaksana tidak merasa sakit?"

Sang Buddha menjawab, "Oh, Baginda, orang seperti Aku senantiasa tidur dengan nyenyak. Semua duka cita dan kesedihan telah Kutinggalkan. Dengan terbebas dari duka cita dan kesedihan, Aku selalu menjaga batin-Ku agar selalu berbelas-kasih kepada semua makhluk."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, anakku tinggal di istana dengan kamar (di lantai atas) menyerupai tempat kediaman para dewa, diterangi oleh sekumpulan kunang-kunang, dilengkapi jendela putar yang serasi, dimana pelayan wanita yang memakai perhiasan dan kalungan bunga menunggu dengan sabar kata-kata yang akan keluar dari mulut Tuannya."

Sang Buddha menjawab, "Sekarang, oh Baginda, di tempat ini yang dihuni oleh manusia pun terdapat para Brahma dan Dewa Agung yang senantiasa mengikuti petunjuk-petunjuk-Ku dan juga Aku dapat pergi kemana pun yang Kukehendaki."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, para penyanyi selalu menyanyikan lagu-lagu dengan iringan musik yang merdu yang anakku senangi. Dan anakku adalah orang yang paling bercahaya di antara orang-orang suku Sakya, sebagaimana Dewa Sakka yang paling bercahaya di antara dewa-dewa di langit."

Sang Buddha menjawab, "Sekarang Aku menyanyikan lagu dengan pembabaran Dhamma dan terbebas karena memperoleh Kebijaksanaan Tertinggi. Aku sekarang paling bercahaya di antara bhikkhu-bhikkhu seperti Brahma di antara dewa-dewa di langit."

Raja Suddhodana berkata, "Dulu, oh Yang Maha Kuat, di istana, kamar anakku menyerupai tempat kediaman para dewa, selalu dijaga oleh pengawal bersenjata yang mahir menggunakan pedang. Tetapi sekarang, di hutan anakku seorang diri berada di tengah-tengah teriakan burung hantu dan jeritan anjing-anjing hutan, yang penuh binatang buas berkeliaran mencari mangsa dimalam hari. Apakah anakku tidak takut?."

Sang Buddha menjawab, "Justru karena Aku telah menyingkirkan semua perasaan takut. maka Aku menang dan berhasil keluar dari lingkaran tumimbal lahir meskipun semua gerombolan Yakka datang bersama gajah-gajah liar yang mengarungi hutan belantara, mereka tidak akan dapat mengganggu walaupun selembar rambut-Ku Seorang diri Aku berkelana, seorang pertapa yang selalu waspada dan tidak tergoyahkan oleh celaan atau pujian, seperti seekor singa tidak takut kepada suara, seperti angin tidak dapat dijerat oleh jala. Karena itu, oh Baginda, bagaimana Anda dapat katakan bahwa Sang Penakluk, Pemimpin yang tidak dipimpin oleh siapa pun, dapat merasa takut?"

Raja Suddhodana kembali bertanya, "Sebenarnya seluruh dunia bisa menjadi tanah milikmu dan seribu orang anak dapat pula menjadi milikmu, kalau saja anakku tidak melepaskan tujuh rupa pusaka (lambang seorang Raja) menjadi seorang pertapa."

Sang Buddha menjawab, "Sekarang pun seluruh dunia masih tetap menjadi milik-Ku dan Aku tetap masih memiliki ribuan orang anak. Lagipula sekarang Aku memiliki Delapan Mustika yang tidak ada bandingannya di dunia ini."

Selesai percakapan ini, Raja Suddhodana memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna( telah menaklukan 3 tantangan dan hanya dilahirkan paling banyak 7 kali saja)

Suddhodana kesal dengan Sang Buddha
Saat itu Sang Buddha dan Rombongan tidak mendapatkan suguhan Dana Makanan dari istana. Keesokan harinya, sebagaimana kelajiman yang dilakukan oleh para pertapa seluruh negri, Sang Buddha bersama-sama dengan pengikutNya memasuki kota Kapilavatthu untuk mengumpulkan makanan. Penduduk kota Kapilavatthu menjadi heboh sekali. Memang sudah sering mereka lihat seorang pertapa atau Brahmana berjalan berkeliling mengumpulkan makanan dari penduduk, tetapi baru sekarang ini mereka menyaksikan seorang kasta Khattiya, putra dari Raja yang masih memerintah, berjalan keliling mengumpulkan makanan.

Hal ini akhirnya sampai pula di telinga Raja Suddhodana. Raja menjadi terkejut dan luar biasa malu. Dengan tergesa-gesa Raja keluar dari istana dan pergi menemui Sang Buddha kemudian menegurnya, "Mengapakah anakku melakukan perbuatan yang sangat memalukan ini? Mengapa anakku tidak datang saja ke istana untuk mengambil makanan? Apakah pantas seorang putra Raja minta-minta makanan di kota, tempat dulu dimana ia sering mondar-mandir dengan menggunakan kereta emas? Mengapa anakku membuat ayah malu seperti ini?"

"Oh Baginda, Aku tidak membuat ayah malu. Hal ini adalah memang sudah menjadi kebiasaan kami." jawab Sang Buddha dengan tenang.

"Apa?!!! kebiasaan kita?!!! Bagaimana mungkin?!!! Tidak akan pernah seorang anggota keluarga kita minta-minta makanan seperti ini. Dan anakku mengatakan bahwa ini sudah menjadi kebiasaan kita?!!"

"Oh, Baginda, memang benar bahwa ini adalah bukan merupakann kebiasaan anggota keluarga kerajaan manapun, tetapi ini adalah kebiasaan para Buddha. Semua Buddha di zaman dulu hidup dengan jalan mengumpulkan makanan dari para penduduk.".

Raja Suddhodana tetap mendesak agar Sang Buddha beserta pengikut-Nya mengambil makanana di istana, maka dari itu pergilah Sang Buddha beserta rombongan menuju ke istana

Dengan diiringi oleh Sariputta dan Monggallana, Sang Buddha ke istana, Raja dan kerabatnya mengiringi serta melayani Beliau makan. Rahula duduk di samping Sariputta dan menempatkan tangan kecilnya ke dalam genggaman tangan biku Senior tersebut. Rahula sangat menyukai Sariputta. Dalam atmosfir keluargaNya yang erat teranyam, Buddha menunjukkan mereka cara untuk mengatur nafas, cara untuk melihat ke dalam berbagai perasaan mereka secara mendalam, serta cara melakukan meditasi jalan dan duduk. Beliau menekankan bagaimana mereka dapat melampaui kecemasan, frustasi, dan iritasi sehari-harinya mereka melalui melatih kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.Semua orang datang dan memberi hormat kepada Buddha kecuali Yasodhara.

Semua mengalami kegembiraan besar di istana kecuali Putri Yasodhara, Dalam sebuah percakapan, Raja Suddhodana berkata, "Yang berbahagia, Yasodhara adalah seorang isteri yang sangat setia;

ketika mendengar bahwa Yang Mulia mulai menjadi petapa dengan memakai jubah kuning, ia pun memakai jubah kuning,

Ketika mendengar Yang Mulia hanya makan satu kali sehari, ia pun makan hanya satu hari sehari. Ia senantiasa mengikuti kehidupan Yang Mulia, Ia tidak lagi tidur di dipan yang tinggi dan mewah namun ditanah, Ia tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian. Apabila sanak-saudaranya mengajaknya tinggal bersama mereka, dia tidak mengikut mereka.

Ketika Yang Mulia memasuki kehidupan non-duniawi ia menjadi janda; dan menolak hadiah dari Raja lain yang menyukainya. Demikian setia hatinya padamu."

Sang Buddha Menjawab, "Ia sangat baik dan melindungi-Ku bukan saja sekarang tetapi juga pada 499 kehidupan terdahulu,".

Setelah bersantap, dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Yasodhara berpikir, "Tentunya jika terdapat sifat baik di dalam diri ku, Yang Mulia sendiri akan datang kepada ku. Lalu Aku akan menghormatinya sebanyak yang aku mau".

Sang Buddha melihat bahwa jika Beliau tidak mendatanginya, Yasodhara akan sangat sedih hatinya. Kemudian Beliau menyerahkan pata (mangkuk) Beliau kepada Raja, dan dengan ditemani oleh 2 murid utama, Beliau memasuki kamar Yasodhara dan Sang Buddha duduk di tempat duduk yang telah disiapkan, kemudian Yasodhara berkata, "Ijinkan anak wanita Raja memberi penghormatan sebanyak yang ia inginkan".

Kemudian Dengan tangkas Yasodhara menghampiri, memegang pergelangan kaki/tumit Beliau, menempatkan kepalanya ke kaki Beliau dan kemudian menangis sepuasnya, Ia menghormati Beliau sebanyak yang ia inginkan. Setelah itu, Yasodhara menyapu air matanya yang telah membasahi kaki Buddha itu.

Setelah melihat hati Yasodhara tenang kembali, Sang Buddha kemudian menceritakan Yasodhara mengenai tindakan-tindakan kebajikan yang telah Yasodhara lakukan dikehidupan sebelumnya, kemudian mengajarnya Candakinnara Jataka.

Di kemudian hari, Setelah mangkatnya Raja Suddhodana, MahaPradjapati Gotami(Ibu Tiri yang merawat Sang Buddha sewaktu kecil) dan Yasodhara menjadi Bikkhuni, mencapai Pencerahan dan menjadi Arahat.

Selang Beberapa hari kemudian, Putri Yasodhara mengundang Buddha, Kaludayi, Nagasamala, dan ibu ratu untuk makan bersama di istananya. Setelah mereka selesai makan, Ia kemudian mengundang mereka ke desa kecil miskin. Rahula juga bergabung dengan mereka. Yasodhara memandu mereka menuju pohon jambu air tua tempat Buddha mengalami meditasi pertamaNya ketika masih kecil.

Buddha mengenang bahwa betapa kejadian tersebut terasa baru terjadi kemarin saja padahal dua puluh tujuh tahun telah berlalu. Pohon itu telah bertumbuh jauh lebih besar selama puluhan tahun lama ini.

Atas permintaan Yasodhara, banyak anak miskin yang berkumpul di sekitar pohon itu. Yasodhara memberitahukan Buddha bahwa anak-anak yang pernah dijumpai Beliau puluhan tahun silam sekarang telah menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Anak-anak yang berada di bawah pohon berusia antara tujuh hingga dua belas tahun.

Saat melihat Buddha tiba, mereka berhenti bermain lalu membentuk dua baris untuk Buddha berjalan di tengahnya. Yasodhara telah menunjukkan mereka sebelumnya cara untuk menyalami Buddha. Mereka menaruh sebuah kursi bambu khusus di bawah pohon untuk Buddha serta menghamparkan sebuah tikar untuk diduduki Ratu Gotami, Yasodhara, dan kedua orang biku itu.

Sang Buddha kemudian menceritakan masa kecil Beliau bersama anak-anak miskin desa Uruvela.

Beliau juga menceritakan kepada anak-anak tersebut tentang Svasti, si gembala kambing dan Sujata yang memberikanNya beras susu.

Beliau berbicara mengenai menumbuhkembangkan hati yang dipenuhi cinta kasih.

Beliau juga menuturkan mereka kisah mengenai menyelamatkan seekor angsa dari sepupu laki-lakiNya yang telah memanahnya jatuh.

Anak-anak tersebut mendengarkan yang disampaikan Beliau dengan penuh ketertarikan, bersedih dan bersorak gembira sesuai kisah.

Kemudian Sang Buddha mengisyaratkan Rahula untuk duduk di hadapanNya dan Sang Buddha pun menceritakan anak-anak sebuah kisah yang berjudul Sumpah teratai di suatu kehidupan masa lampau dihadapan mereka semua.

Dahulu kala, di kaki pegunungan Himalaya, hiduplah seorang pemuda bernama Megha. Ia merupakan pemuda yang baik dan rajin. Meski tak punya uang, ia tetap pergi ke ibukota , dengan penuh keyakinan, untuk belajar. Dia hanya membawa sebuah tongkat, sebuah topi, sekendi air, pakaian yang dikenakannya, dan sebuah mantel.

Di perhentian sepanjang perjalanan, Ia berusaha bekerja di berbagai ladang untuk mendapatkan nasi dan terkadang uang. Akhirnya setibanya ia di ibukota Divapati, Ia telah mengumpulkan uang sebanyak lima ratus rupe.

Ketika memasuki kota, tampak olehnya para penduduk sedang mempersiapkan suatu perayaan penting. Ia Ingin tahu perayaan apa, dia melihat ke sekeliling untuk menemukan seseorang untuk ditanyai dan akhirnya Ia melihat seorang Gadis yang tengah berjalan dan sedang memegangi sebuah karangan bunga teratai yang setengah mekar. Ia menghampiri gadis itu dan bertanya kepadanya,

"Maaf mengganggu..bolehkah Aku bertanya..ada perayaan apakah hari ini?".

Gadis itu melihat sejenak padanya dan kemudian menjawab, "Ahh..Pastilah Engkau seorang asing di Divapati, kalau tidak, pasti engkau tahu bahwa hari ini, Guru yang Tercerahkan, Dipankara telah datang. Beliaua dikatakan sebagai sebuah obor yang menerangi jalan semua makhluk. Beliau adalah putra Raja Arcimat yang pergi untuk mencari Jalan Sejati dan telah menemukannya. Jalan Beliau telah menerangi seluruh dunia sehingga masyarakat melakukan perayaan ini untuk menghormati Beliau".

Megha sangatlah senang mendengar kehadiran seorang Guru yang telah tercerahkan. Ingin sekali Ia mempersembahkan sesuatu untuk Guru tersebut dan kemudian memohon untuk kepadanya untuk dapat menjadi muridNya. Ia Melihat karangan bunga teratai ditangan Gadi itu dan bertanya kembali pada gadis itu, "Seharga berapakah engkau beli bunga-bunga teratai itu?'

Gadis itu kemudian menatap Megha dan dengan mudah dapat Ia melihat bahwa Pemuda itu adalah seorang pemuda cerdas dan penuh perhatian. Gadis itu kemudian menjawab, "Aku sebenarnya hanya membeli lima tangka saja dan Dua tangkai lainnya aku petik dari kolam di rumahku sendiri."

Megha bertanya, "Berapa yang engkau bayarkan untuk lima tangkai itu?". Gadis itu menjawab, "Lima ratus rupe”. Kemudian Megha memohon untuk dapat membeli lima tangkai teratai itu dengan lima ratus rupenya agar dapat ia persembahkan untuk Guru Dipankara.

Namun gadis itu menolak dengan berkata, ”Aku juga membeli bunga ini karena hendak kupersembahkan kepada Beliau dan aku tidak bermaksud untuk menjualnya"

Megha berusaha terus membujuknya. "Namun bukankah engkau masih dapat mempersembahkan dua tangkai lainnya yang kau petik dari kolammu sendiri..Oh Mohon ijinkanlah aku membeli lima tangkai lainnya. Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Guru. Saat ini merupakan kesempatan langka yang sangat berharga dapat berjumpa Guru seagung itu dalam kehidupan ini juga. Aku ingin menemui Beliau dan kemudian memohon untuk menjadi muridNya. Jika engkau mengijinkan aku membeli lima batang bunga terataimu itu, aku akan berterima kasih kepadamu untuk seluruh sisa hidupku."

Gadis itu hanya menatap ke tanah dan tidak menjawab.

Megha tetap membujuknya. "Jika engkau mengijinkan aku membeli lima tangkai teratai itu, aku akan melakukan apa pun yang kau pinta.".

Gadis itu lalu tersipu-sipu malu, lama Ia tidak mengangkat pandangan matanya dari tanah. Akhirnya, Ia pun berkata, "Aku tidak tahu hubungan apa yang pernah terjadi di antara kita pada kehidupan lampau, namun aku telah jatuh cinta kepadamu saat aku melihat dirimu. Banyak telah kujumpai pemuda, tapi belum pernah hatiku tergetar seperti ini. Aku hanya akan memberikan teratai-teratai ini kepadamu untuk dipersembahkan kepada Yang Telah Tercerahkan, jika engkau berjanji kepadaku bahwa di dalam kehidupan ini dan juga di kehidupan-kehidupan selanjutnya, aku menjadi istrimu."

Dia mengucapkan kata-kata tersebut seperti sangat tergesa-gesa, sehingga setelah selesai ia kelihatan seperti kehabisan nafas.

Megha tak tahu apa yang harus dikatakannya. Setelah hening sejenak, Ia pun berkata, "Engkau adalah gadis sangat berbeda dan yang paling jujur yang pernah ku lihat. Sewaktu aku melihat dirimu, aku pun merasakan hal yang sama di dalam hatiku namun aku tengah mencari jalan menuju pembebasan. Jika aku menikah tidak dapat aku bebas menelusuri jalur itu ketika datang kesempatan yang tepat dihadapanku".

Gadis itu lalu menjawab, "Namun, berjanjilah Engkau bahwa aku akan menjadi istrimu maka aku pun bersumpah ketika waktunya tiba bagimu untuk mencari jalurmu, aku tak akan mencegahmu pergi. Sebaliknya, aku akan melakukan membantu dengan segala kemampuanku agar dirimu mencapai pencarianmu".

Mendengar hal itu, maka dengan bahagia Megha menerima usulan gadis itu dan pergi bersama mencari Guru Dipankara.

Saat mereka sampai, terlihat begitu padat manusia berkumpul sehingga hampir mereka tak dapat melihat Beliau di depan.

Akhirnya mereka mendapatkan pandangan sekilas saja wajah Beliau namun sudah memadai bagi Megha untuk mengetahui bahwa Beliau adalah benar-benar Yang Telah Tercerahkan. Megha merasakan kegembiraan yang luar biasa dan bersumpah bahwa suatu saat nanti dirinya juga akan mencapai pencerahan tersebut.

Ingin Ia menghampiri Guru Dipankara sedekat mungkin untuk mempersembahkan bunga teratai untukNya namun tampaknya mustahil melihat banyaknya lautan manusia didepat. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan maka ia pun melemparkan bunga-bunga tersebut ke arah Guru Dipankara dan kemudian secara ajaib bunga-bunga itu mendarat di tangan sang Guru dengan perlahan.

Guru Dipankara berseru meminta orang-orang yang mempersembahkan bunga teratai untuk menampakkan diri mereka. Massa membelah diri untuk memberikan jalan bagi Megha dan gadis itu. Kemudnia dengan mengandeng tangan sang gadis mereka melangkah maju, sesampainya dihadapan Guru, mereka secara bersama membungkuk hormat. Sang Guru menatap Megha lalu berkata, "Aku memahami ketulusan hatimu, aku dapat melihat engkau memiliki keteguhan hati yang besar untuk menelusuri jalur spiritual guna mencapai penerangan sempurna serta menyelamatkan semua makhluk..Berbahagialah! Suatu saat namti di kehidupan mendatang, engkau akan mencapai sumpahmu"

Lalu Guru Dipankara memandang gadis yang juga tengah berlutut di sisi Megha dan berkata kepadanya, "Engkau akan menjadi sahabat terdekatnya dalam kehidupan ini dan begitu banyak kehidupan mendatang. Ingatlah untuk menjaga janjimu. Engkau akan membantu suamimu merealisasikan sumpahnya."

Megha dan gadis itu sangat tersentuh oleh kata-kata sang Guru. Mereka kemudian membaktikan diri mempelajari jalur menuju pembebasan yang kemudian di ajarkan oleh Yang telah Tercerahkan, Dipankara.

Setelah bercerita, sang Buddha berkata kepada anak-anak tersebu, "Anak-anak, dalam kehidupan itu dan banyak kehidupan selanjutnya, Megha dan gadis itu hidup sebagai suami dan istri. Sewaktu sang suami harus pergi guna menelusuri jalur spiritualnya, si istri membantunya dalam segala cara yang ia mampu dan tak pernah mencoba mencegahnya. Oleh sebab itu, Ia merasakan rasa syukur yang sangat mendalam kepada istrinya dimana pada akhirnya, Ia berhasil merealisasikan sumpahnya terdahulu dan mencapai penerangan sempurna, seperti yang telah diramalkan Guru Dipankara di kehidupan lampau yang sedemikian banyaknya."

Kemudian sang Buddha melanjutkan, "Anak-anak, uang dan kemasyuran bukanlah hal-hal terpenting dalam kehidupan. Uang dan kemasyuran dapat menguap dengan sangat cepat sekali. Pengertian dan cinta kasih adalah hal-hal yang terpenting dalam kehidupan. Jika kalian memiliki pengertian dan cinta kasih, kalian akan mengetahui kebahagiaan. Megha dan istrinya saling berbagi kebahagiaan di begitu banyak kehidupan, berkat pengertian dan cinta kasih mereka masing-masing. Dengan pengertian dan kasih sayang, tak ada sesuatu pun yang tak bisa kalian selesaikan".

Selesai Cerita itu, Yasodhara beranjali dan membungkuk hormat ke Buddha. Sedemikian tersentuh Ia pada cerita tersebut hingga menitikkan air mata.

Ia mengetahui walaupun Beliau menuturkan kisah itu dihadapan anak-anak dihadapanya, namun sesungguhnya kisah itu ditujukan secara khusus kepada dirinya. Itulah cara Beliau menghaturkan terima kasih kepada dirinya.

Ratu Pradjapati menatap Yasodhara. Ia pun memahami mengapa Buddha menceritakan kembali kisah ini lalu kemudian ia meletakkan tangannya ke atas pundak menantunya dan berkata kepada anak-anak, "Tahukah kalian siapakah diri Megha dalam kehidupan ini? Beliau adalah Buddha. Dalam kehidupan kali ini, Beliau telah menjadi seorang yang telah mencapai penerangan sempurna. Dan tahukah kalian siapakah istri Megha dalam kehidupan kali ini? Dia tak lain tak bukan adalah Putri Yasodhara kalian sendiri. Berkat pengertiannya, Pangeran Siddhartha dapat menelusuri jalurnya dan mencapai kebangkitan. Kita sepantasnya menghaturkan terima kasih ke Yasodhara."

Telah lama anak-anak itu mencintai Yasodhara. Mereka lalu berpaling ke arahnya dan membungkuk sangat hormat kepadanya untuk menyatakan seluruh kasih yang ada di dalam lubuk hati mereka. Setelah Sang Buddha menceritakan kisah itu, Beliau bangkit berdiri dan dengan perlahan berjalan kembali ke wihara diikuti biku Kaludayi dan Nagasamala.

Nanda, Sepupu Sang Budha
Maha Pradjapati Gotami mempunyai dua anak, semua bernama Nanda, yang perempuan di namakan Sundari nanda

Pada hari ketiga, di istana berlangsung upacara penobatan, upacara pernikahan dan upacara peresmian rumah batunya. Pangeran Nanda (Sepupu Sang Buddha), Sang Buddha saat itu mengunjungi istananya dan ketika setelah bersantap Sang Buddha menyerahkan mangkok(Patta) pada Pangeran, mengucapkan suatu berkah dan bangkit tanpa mengambil mangkok tersebut.

Pangeran menjadi serba salah namun tetap mengikuti Beliau sambil berpikir bahwa Sang Buddha tentu akan mengambil mangkok beberapa saat lagi. namun Sang Buddha juga tidak kunjung mengambilnya. Karena hormatnya Pangeran kepada Beliau maka tetap saja ia mengikuti kemana Sang Buddha berlalu.

Janapada Kalyani, tunangannya, setelah mendengar bahwa Pangeran sedang mengikuti Sang Buddha dengan mangkok di tangan, berlari secepatnya yang ia dapat lakukan mengejar Pangeran Nanda dengan air mata bercucuran di pipinya dan rambut separuh tersisir sambil berkata pada Pangeran, "Kembalikan dengan cepat..Kembalikan dengan cepat, O Tuan Yang Mulia !"

Kata-kata ini sungguh mengharukan dan menembus dalam di hati sang Pangeran dan iapun ingin sekali kembali. Tetapi karena rasa hormatnya pada Sang Buddha membuat ia tidak mungkin dapat mengembalikan mangkok pada Beliau saat itu juga. Jadi, dengan terpaksa, ia menyertai Sang Buddha ke taman, tempat tinggal sementara Beliau Sesaat tiba di sana Sang Buddha bertanya pada Nanda apakah ia ingin menjadi seorang biarawan. Karena hormatnya yang begitu besar pada Beliau sebagai Buddha dan juga sebagai kakaknya, dengan ia menyetujuinya dengan rasa yang sangat enggan untuk diterima dalam Sangha.

Benarlah, selama tinggal di sana, Nanda merasa sangat tidak betah, tidak senang, dan setengah kecewa. Ia hanya menemukan sedikit kesenangan dalam hidup sebagai seorang bhikkhu. Ia ingin kembali pada kehidupan berumah-tangga. Kata-kata Putri Janapadakalyani, yang memohonnya untuk kembali secepatnya terus teringat di benak dan sanubarinya. Hatinya semakin goyah dan semakin goyah.

Ia pun menceritakan kesulitan batinnya kepada para Bhikkhu Senior, "Saudara, saya tidak puas. Saya sekarang dapat hidup salam kehidupan beragama, tetapi tidaklah dapat saya meneruskan lebih lama kehidupan suci ini. Saya bermaksud meninggalkan Ajaran yang Lebih Tinggi dan kembali pada kehidupan yang lebih rendah, sebagai seorang umat awam".

Sang Buddha jelas mengetahui hal ini, namun dengan suatu maksud tertentu, ia lalu mempertanyakan kebenarannya kepada Nanda yang dengan terus terang Nanda mengakui kelemahannya dan menyatakan kekhawatiran dan kerinduannya pada pengantinnya. Kemudian Sang Buddha menggunakan suatu cara untuk membuat dia tetap pada jalan yang benar yaitu dengan menunjukkan kepada Nanya dewi-dewi surga kepadanya.

Dengan kekuatanNya, Sang Buddha, membawa Nanda ke surga Tavatimsa.

Dalam perjalanan tersebut Nanda diperlihatkan dihadapannya seekor kera betina yang hangus yang kehilangan telinga, hidung, dan ekornya dalam suatu kebakaran, Kera itu sedang melekat pada sebuah batang yang terbakar di sebuah ladang yang hangus. Sesampainya di surga, Sang Buddha lalu menunjukkan padanya Dewi-Dewi surga dan bertanya: "Nanda, mana yang kamu anggap lebih cantik rupawan - isterimu, Janpada Kalyani atau Dewi-Dewi surga ini?"

"Yang Mulia, Janapada Kalyani seperti kera hangus tadi apabila dibandingkan dengan bidadari-bidadari surga itu, yang kegemilangan, keelokannya dan kecantikannya jauh berlipat-lipat banyaknya"

"Bergembiralah, Nanda. Saya menjamin bahwa kamu akan memiliki mereka Apabila engkau tekun dalam mempraktekkan Dhamma"

"Dalam hal ini Yang Mulia, saya akan menikmati kesenangan dalam menjalani Kehidupan Suci," kata Nanda dengan kekanak-kanakan.

Ketika Para Bikkhu mendengar bahwa Nanda menjalani Kehidupan Suci dengan iming-iming akan mendapatkan Dewi-dewi Surga kelak, mereka lalu mengejeknya dengan memanggilnya "Orang Bayaran".

Hal itu sangat membuat Nanda merasa sangat tertekan dan malu.

Karena itu dalam kesendirian, ia bertekad dan mencoba dengan sekeras-kerasnya mempraktekkan Dhamma sampai akhirnya Ia mencapai tingkat kesucian arahat(Pencerahan Sempurna, tidak akan dilahirkan kembali dan dapat menundukan 10 Tantangan).

Sebagai seorang arahat, Ia jelas mengerti maksud dan tujuan Sang Buddha dengan memakai Dewi2 surga tersebut kepadanya. Kemudian Ia menemui Sang Buddha dan menyampaikan bahwa Ia sudah sudah bebas dari semua ikatan dan keinginan dan membebaskan Sang Buddha dari janjiNya serta berterima kasih atas tantanganNya itu sehingga Ia mencapai tingkat kesucian Arahat.

Sang Buddha telah mengetahui pencapaiannya sebelumnya dan menjawab: "Nanda, ketika kamu berhenti melekat pada hal duniawi, dan hatimu bebas dari perubahan-perubahan, pada saat itu Aku bebas dari janji".

Karena menikmati kebahagiaan Pembebasan, Nanda memuji Gurunya, dengan mengatakan: "O, Baik sekali cara Guru, dengan jalan mana saya ditarik dari lumpur tumimbal lahir dan menyeberangi pantai Nibbana!"

Bhikkhu-bhikkhu yang lainnya, yang semula mengetahui bahwa Nanda tidak gembira menjalani hidup sebagai bhikkhu, kembali bertanya bagaimana ia bisa mengatasinya. Nanda Thera menjawab, bahwa sekarang ia tidak lagi terikat dengan kehidupan berumah-tangga. Mereka berpikir Nanda tidak berkata yang sebenarnya. Karena itu mereka mencari keterangan perihal keragu-raguan mereka kepada Sang Buddha.

Sang Buddha menjelaskan kepada mereka bahwa sebelumnya, pada kenyataan alamiah Nanda, sama seperti atap rumah yang bocor, tetapi sekarang rumah itu telah dibangun dengan atap rumah yang baik. Penjelasan itu diakhiri dengan syair 13 dan 14 berikut ini:
    Bagaikan hujan, yang dapat menembus rumah beratap tiris. demikian pula nafsu, akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik.

    Bagaikan hujan, yang tidak dapat menembus rumah beratap baik. demikian pula nafsu, tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik.
Janapada kalyani adalah seorang yang sangat cantik sehingga juga dikenal dengan nama Rupananda.

Pada suatu hari dia merenung, "Kakak saya yang akan menjadi raja telah meninggalkan keduniawian menjadi bhikkhu dan telah mencapai ke-Buddha-an. Rahula, anak kakak saya, suami saya(Nanda), ibu saya, dan juga Ibu Rahula, mereka semua telah meninggalkan keduniawian untuk menjadi bhikkhu dan bhikkhuni, sekarang tinggal saya sendiri di sini!"

Setelah merenung demikian dia memutuskan pergi ke vihara dan minta ditahbiskan untuk menjadi seorang bhikkhuni, Ia melakukan itu bukan karena keyakinan tetapi hanya meniru orang lain dan merasa kesepian tinggal seorang diri.

Setelah menjadi bhikkhuni, Rupananda sering mendengar bahwa Sang Buddha mengajarkan tentang ketidakkekalan, sehingga dia berpikir kalau dia bertemu dengan Sang Buddha pasti Beliau akan mencela kecantikannya, sehingga dia berusaha untuk menghindari perjumpaan dengan Sang Buddha. Akan tetapi karena terlalu banyak orang yang memuji mengenai Sang Buddha, akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan Sang Buddha bersama para bhikkhuni.

Ketika Sang Buddha bertemu dengan Rupananda, Beliau mengetahui dan berpikir, "Duri hanya dapat dikeluarkan dengan duri. Rupananda sangat bangga dan melekat terhadap tubuhnya, sangat sombong akan kecantikannya, dia harus meninggalkan kemelekatan dan kesombongan akan kecantikannya".

Kemudian Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa menciptakan seorang anak gadis yang sangat cantik, berusia kira-kira 16 tahun dan duduk di dekatnya. Anak gadis itu hanya dapat dilihat oleh Sang Buddha dan Rupananda. Ketika Rupananda melihat anak gadis tersebut, Rupananda merasa dirinya hanyalah seekor gagak yang tua dan jelek dibandingkan dengan anak gadis itu, yang terlihat seperti seekor angsa putih yang bersinar cemerlang. Rupananda begitu mengagumi wajah anak gadis tersebut yang sangat cantik jelita. Rupananda memperhatikan sungguh-sungguh anak gadis itu, kemudian dia terkejut karena anak gadis tersebut terus bertambah tua menjadi berusia 20, kemudian bertambah tua, bertambah tua lagi dan menjadi sangat tua.

Anak gadis itu berubah dari anak gadis muda, menjadi setengah baya, tua, dan sangat tua. Rupananda mulai menyadari bahwa timbulnya bayangan baru maka bayangan lama lenyap, Ia mulai menyadari proses perubahan yang terus menerus dan kelapukan dari tubuh. Dengan kesadaran ini, kemelekatan terhadap tubuhnya berkurang. Pada saat itu bayangan anak gadis yang ada di dekat Sang Buddha telah berubah menjadi wanita jompo, tidak dapat lagi mengatur gerak tubuhnya, wanita jompo itu terjatuh dan meninggal dunia. Dari tubuhnya muncul belatung, cairan tubuh keluar dari sembilan lubang, burung gagak dan pemakan bangkai mencabik-cabik bangkai itu. Setelah melihat semua ini, Rupananda merenung, "Gadis muda itu menjadi tua dan jompo kemudian meninggal dunia di sini d ihadapan mataku.

Sama halnya dengan tubuhku akan menjadi tua dan rusak, akan merupakan sarang penyakit dan juga akan meninggal dunia." Kemudian Rupananda menyadari akan corak sebenarnya kelompok kehidupan. Pada saat itu Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan ketanpa-intian dari kelompok kehidupan (khandha) dan Rupananda mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 150 berikut : Kota (tubuh) ini terbuat dari tulang belulang yang dibungkus oleh daging dan darah. Di sinilah terdapat kelapukan dan kematian, kesombongan dan iri hati. Rupananda mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Rahula anak Sidharta Gautama
Rahula adalah anak satu-satunya Sidharta Gautama. Rahula tidak pernah melihat ayahnya sejak kecil. Kakek Rahula, Raja Suddhodana sangat memanjakannya dan ibunya sangat mencintainya. Ketika Rahula cukup umur untuk mengerti, ia sering bertanya kepada ibunya, "Ibu, bagaimanakah rupa Ayah?".

Yasodhara selalu menjawab, "Ayahmu, Pangeran Siddhattha, adalah orang paling berani dan paling pintar di seluruh India".

Rahula juga sering bertanya kepada kakeknya, "Kakek, ke mana ayah pergi? Kenapa ia tidak pulang?".

Raja Suddhodana juga tidak begitu mengerti kenapa Pangeran Siddhattha meninggalkan Istana dan keluarga sehingga ia selalu menjawab, "Ayahmu pergi ke pegunungan dan daerah terpencil untuk berperang dengan sakit, umur tua, dan kematian. Jika Ayahmu memenangkan pertempuran itu, maka kita tidak akan menderita lagi."

Oleh karena itu, sejak kecil, Rahula sangat percaya bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan pemberani. Setiap hari, ia menunggu ayahnya untuk segera pulang.

Ketika ayahnya Pulang ke Kapilavatthu, Rahula bahkan lebih gembira lagi. Ia berdiri di tempat tertinggi di istana untuk menyaksikan ayahnya dan keajaibaannya dari kejauhan. Ia melihat ribuan orang berlutut di tanah untuk menghormat kepada Buddha. Orang-orang menaburkan bunga segar ke tubuh Buddha dan menyerukan perasaan sukacita dan bangga. Ia pun menjadi sangat senang dan Bangganya

Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu, Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian yang bagus dan mengajaknya kejendela. Dari jendela itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan siang. Puteri Yasodara kemudian bertanya kepada Rahula, "Anakku, tahukah engkau siapa orang itu?"

Rahulu menjawab, "Beliau adalah Sang Buddha, ibu".

Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang menitik keluar dan berkata, "Anakku, petapa yang kulitnya kuning keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh ribuan muridnya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka. Pergilah kepadanya dan mintalah harta pusaka untukmu".

Ketika Buddha berjalan menuju istana, Rahula bersujud dengan membaringkan tubuhnya di atas tanah, cara ini adalah bentuk penghormatan yang tertinggi dalam budaya India Pangeran Rahula yang masih kecil itu kemudian pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan "Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang".

Buddha menyentuh Rahula dan berkata, "Nak, kamu sudah besar".

Rahula mengetahui bahwa Pamannya, Nanda, telah menjadi bikkhu dan merasa iri karena ia berpikir bahwa pamannya selalu dapat berdekatan dengan Ayahnya sehingga kemudian ia pun berkata berkata pada ayahnya, "Ayah, aku ingin bersamamu.

Aku juga ingin menjadi bhikkhu untuk mempelajari kebenaran." Sang Buddha menjawab, "Suatu hari nanti, kamu boleh ikut Aku sebagai bikkhu" Buddha berkata dengan penuh belas kasih.

Selesai makan Siang Sang Buddha meninggalkan istana. Rahula mengikut sambil terus merengek, "Ayah, berikanlah aku harta pusaka. Kelak aku akan menjadi raja, aku ingin memiliki harta pusaka. Ayah, berikanlah aku harta warisan".

Tak ada orang yang mencoba menghalang-halangi dan Sang Buddha sendiri juga membiarkan Rahula berbuat demikian. Buddha melihat bahwa Rahula anak yang pintar, baik hati, dan dapat menjadi anak Buddhis yang baik. Yasodhara mengamati mereka dari atas balkon istana. Dia tahu bahwa Buddha telah mengijinkan Rahula untuk kembali bersamaNya ke wihara hari itu.

Setibanya Sang Buddha di taman, beliau berpikir, "Rahula minta warisan harta pusaka, tetapi semua harta dunia penuh dengan penderitaan. Lebih baik aku memberikan warisan berupa Tujuh Faktor Penerangan Agung yang aku peroleh dibawah pohon Bodhi. Dengan demikian ia akan mewaisi harta pusaka yang paling mulia".

Di Vihara, Sang Buddha meminta Moggallana untuk mencukur kepala Rahula dan meminta Sariputta menjadi guru Rahula. Sariputta kemudian Menabhiskan Rahula sebagai Samanera(Calon Bikkhu). Dengan demikian Rahula merupakan samanera pertama.

Sewaktu kabar bahwa Rahula telah dicukur bersih kepalanya dan menjadi calon Bikkhu(samanera) sampai pula ke istana, Baginda Raja menjadi sangat sedih karenanya. Baginda raja maupun ibu ratu sangat merindukan Rahula. Mereka berpikir sebelumnya bawha rahula pergi mengunjungi wihara hanya untuk beberapa hari saja setelah itu akan kembali ke istana. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa Rahula akan menetap di wihara. Mereka merasa sangat kesepian tanpa cucu mereka. Yasodhara merasakan kesedihan dan kebahagiaan bercampur aduk. Walau dia sangat-sangat merindukan putranya, namun ia juga merasa terhibur karena mengetahui bahwa sekarang Rahula berada di dekat ayahnya setelah sekian tahun tidak melihatNya.

Akhirnya pada suatu siang Baginda Raja bersama Ratu Gotami dan Yasodhara naik kereta kencana pergi mengunjungi wihara. Mereka ditemui oleh Buddha. Nanda(Sepupu Sang Buddha) dan Rahula keluar untuk menyalami mereka juga. Dalam kegembiraan kanak2nya, Rahula kemudian berlari ke ibunya dan dengan hangat Yasodhara memeluk putranya. Setelah itu, Rahula memeluk kakek neneknya.

Baginda raja membungkuk hormat kepada Buddha lalu berkata dengan nada agak menyalahkan, "Tak terkirakan penderitaanku sewaktu engkau meninggalkan rumah untuk menjadi seorang bikkhu. Kemudian belum lama ini, Nanda juga meninggalkanku dan terlalu berat untuk dapat menanggung kehilangan Rahula. Bagi seorang perumah tangga seperti diriku ini, ikatan antara ayah, anak, dan cucu sedemikian pentingnya. Rasa sakit yang kualami di kala engkau pergi bak sebilah pisau mengiris kulitku. Setelah mengiris kulitku, pisau itu mengiris dagingku. Setelah mengiris dagingku, pisau itu tembus hingga ke tulang. Aku mohon kepadamu, pertimbangkanlah segala tindakanmu. Di kemudian hari, janganlah engkau mengijinkan seorang bocah ditahbiskan kecuali jika ia telah mendapatkan ijin dari orang tuanya."

Sang Buddha mendengarkan itu dengan sabar kemudian menenangkan baginda raja dengan membabarkan kebenaran ketidakkekalan dan tanpa adanya diri yang terpisah. Beliau juga mengingatkannya bahwa latihan kesadaran harian merupakan satu-satunya gerbang untuk mengatasi penderitaan. Nanda dan Rahula sekarang memperoleh kesempatan untuk menjalani kehidupan semacam itu secara mendalam. Buddha kemudian membesarkan hati ayahandaNya untuk mengapresiasi keberuntungan mereka dan terus melanjutkan mengikuti jalan menuju kewaspadaan dalam kehidupan sehari-hari untuk menemukan kebahagiaan sejati. Sang Buddha juga menyetujui permohonan Raja Suddhodana maka mulai saat itu lah tidak mentabhiskan bhikkhu atau samanera tanpa terlebih dahulu mendapat ijin dari orangtuannya.

Setelah ditabhiskan oleh YA Sariputta, Rahula kini harus mengikuti peraturan yang berlaku. Sebagai anak, Rahula yang melihat ayahnya ada didekatnya namun tidak dapat memanggil ayah atau selalu berdekatan dengan Sang Buddha merupakan suatu kesedihan tersendiri baginya terutama saat ia tidak dapat memperlakukan ayahnya sebagai ayah-ayah orang lainnya. Hal ini mendorongnya untuk mencari perhatian dan melakukan kenakalan-kenakalan kecil yang badung. Ia suka bercanda dan mengolok-olok orang lain sampai mereka bingung, sementara ia bertepuk tangan dan tertawa keras kegirangan. Contoh lainnya, suatu kali ia menunjukkan arah yang salah kepada umat yang datang ke vihara dan bertanya dimana dapat bertemu dengan Sang Buddha.

Hal ini telah diketahui dan didengar oleh Sang Buddha. Hingga suatu saat yang Ia anggap tepat, dikenakalan berikutnya, Beliau sendiri pergi mencari Rahula. Ketika Rahula melihat Ayahnya, Ia merasa bahagia namun segera menyadari hal tidak benar yang telah ia lakukan. Ia segera membawa sebaskom air untuk mencuci kaki Buddha.

Setelah itu, Buddha berkata kepada Rahula, "Rahula, dapatkah air di baskom ini digunakan untuk minum?"

Rahula menjawab, "Tidak, tadi air ini bersih, tetapi sekarang sesudah dipakai membasuh kaki, air menjadi terlalu kotor untuk diminum".

"Rahula, sekarang kamu seperti air ini." Buddha menatap Rahula, lalu melanjutkan, "air ini awalnya bersih, tetapi menjadi kotor setelah dipakai untuk mencuci kaki. Demikian pula, kamu. Sebagai seorang anggota kerajaan yang akan mewarisi kerajaan, engkau melepaskan tahta dan menjadi bhikkhu untuk memperaktikkan Dhamma. Tekad dan cita-citamu adalah sungguh hebat! akan tetapi, di sini kamu masih suka bermain2 setiap hari. Engkau tidak mau menjadi rajin. Semua orang menjadi tidak suka melihatmu, seperti melihat engkau melihat air baskom yang kotor setelah digunakan untuk mencuci kaki!"

Sang Buddha kemudian menyuruh Rahula membuang air itu dan kembali lagi dengan baskom yang sudah kosong lalu Sang Buddha berkata, " Rahula, dapakah kamu menaruh masakan kedalam baskom ini?"

Rahula menjawah, "Tidak, saya tidak dapat menaruh makanan di baskom karena bekas tempat air kotor".

Mendengar jawaban Rahula Sang Buddha berkata, "Seseorang yang mengetahui bahwa kebohongan adalah perbuatan buruk, tetapi berbohong terus menerus dengan menyakiti orang lain adalah seperti air yang kotor atau sebuah baskom yang sudah kotor. Kejahatan mulai dengan berbohong yang akan mengundang kejahatan lain pada dirinya sendiri. dan penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan tidak akan dapat dielakkan oleh sipembuat kebohongan."

Dengan kata-kata yang disampaikan oleh sang Buddha sangat mengena pada Rahula maka sejak itu ia menjadi amat rajin dan mematuhi semua peraturan Sangha. Ia menjadi seorang bhikkhu yang terkemuka dalam melaksanakan perbuatan baik. Banyak orang memandang Rahula dengan penuh simpati, meski terlahir dan dididik sebagai Pangeran, ia dapat melepaskan semua hak-hak istimewanya dan pada usia demikian muda dan dapat menjalani kehidupan suci dengan begitu baiknya.

Namun ada pula anggota Sangha yang memperlakukannya dengan tidak ramah, dan beberapa orang bhikkhu iri hati kepadanya. Ia menerima perlakuan yang tidak menyenangkan itu dan mengganggapnya sebagai ujian baginya.

Suatu hari, Rahula pergi mendengarkan ceramah yang diberikan oleh Buddha. Ketika ia kembali, ia mendapati bahwa kamarnya telah dipakai oleh bhikkhu lain. Peraturan di dalam Sangha menyatakan bahwa samanera muda harus menghormati bhikkhu yang lebih tua dan mengalah padanya. Rahula lalu beristirahat di bawah pohon namun tidak lama kemudian, turunlah hujan yang sangat lebat.

Rahula tidak punya pilihan lain kecuali lari ke kakus untuk berteduh dalam keadaan basah sambil menahan kedinginan yang sangat menusuk tulang. Sang Buddha yang memiliki kekuatan gaib. mengetahu tentang tekad dan keadaan Rahula pada waktu itu, sehingga Buddha pergi menemui Rahula pada waktu itu di tengah hujan lebat. Rahula yang tidak punya siapa pun untuk bercerita, saat melihat Buddha datang ke arahnya, ia segera memeluk buddha dan menangis dengan sedihnya. Sang Buddha menenangkan Rahula dan berkata, "Rahula, kamu mau mendahulukan orang lain. Latihan Dhamma kamu sudah lebih maju".

Pada suatu ketika, ketika Sariputta dan Rahula sedang berpindapata di Rajagaha, Mereka bertemu seorang pembuat onar yang dengan sengaja menuangkan pasir ke mangkuk Sariputta dan memukul kepala Rahula dengan sebuah tongkat.

Darah mengucur deras dari kepala Rahula yang terluka. Sariputta segera mengingatkan Rahula, "Rahula, engkau adalah siswa Sang Buddha. Perlakuan apapun yang kamu terima, tidak boleh menyebabkan kemarahan masuk ke dalam hatimu. Kamu harus selalu berbelas kasihan kepada semua makhluk. Orang yang paling berani, orang yang mencari penerangan membuka kesombongannya dan memiliki keteguhan hati untuk mengatasi kemarahan".

Setelah mendengarkan Sariputta, Rahula menjadi tenang dan kemudian ia tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi sendiri ke tepi sungai dan mencuci darah di kepala dan wajahnya. Kemudian ia menggunakan sapu tangannya untuk membalut luka dan melanjutkan mengumpulkan dana dari umat, seolah-olah ia tidak terluka sama sekali.

Rahula tidak pernah membenci nasehat yang diberikan kepadanya. Setiap bangun pagi ia mengambil segenggam pasir dan bertekad. "Semoga hari ini saya mendapat nasehat sebanyak pasir ini".

Semangatnya dapat terlihat dari kenyataan bahwa ia melaksanakan latihan-latihan yang sangat sulit dan keras, yaitu dengan tidak terbaring melainkan duduk dalam posisi meditasi untuk tidur selama masa dua belas tahun.

Pada usia dua puluh tahun, Rahula ditabhiskan menjadi bhikkhu dengan pembimbing (upajjhaya) Saripputta dan guru penasbisan resmi Moggallana. Selama kurang lebih satu masa latihan musim hujan Rahula melatih diri dengan sungguh-sungguh. Ketika itu Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran Rahula sudah matang, membawanya ke hutan Ananda, dan mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai Nasihat kecil untuk Rahula (Cullarahulavada Sutta, Majjhima Nikaya).

Rahula merasakan kegembiraan setelah mendengar sabda Sang Buddha dan hatinya terbebaskan dari kekotoranbatin (asava) kemudian beliau mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu arahat.

Sang Buddha berkata kepada Rahula dengan gembira, "Rahula, di antara para siswa-Ku, kamulah yang paling unggul dalam berlatih dengan tenang".

Ini berarti Rahula mempraktikkan Dhamma sendiri, tanpa membiarkan orang tahu tentang itu. Dialah siswa yang paling randah hati dan paling sabar.

Pada suatu kali delapan tahun setelah mencapai tingkat Arahat, terdapat para bhikkhu yang datang memakai tempat tidur Rahula. Oleh karena tidak menemukan tempat lain untuk istirahat maka Rahula tidur diruang terbuka di depan tempat Sang Buddha.

Setelah mencapai Pencerahan, Rahula tetap mengikuti Buddha dan Sariputta, berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan Dhamma. Ia tidak suka memuji diri sendiri atau memamerkan diri. Ia serius dan bertanggung jawab dalam melakukan tugasnya. Seperti ayahnya, Sang Buddha, Rahula juga dikenang dan sangat dihormati oleh generasi berikutnya.

Rahula disukai oleh banyak orang bukan karena ia adalah putera Buddha, tetapi karena cinta kasih, belas kasih, latihan kesabaran, dan ketenangannya. Semua ini mengundang pujian tulus dari yang dalam dari hati setiap orang. Rahula mencapai Parinibbana (wafat) setelah wafatnya Sang Buddha, diperkirakan pada usia lima puluh tahunan. Dibangun sebuah stupa untuk menyimpan peninggalan beliau.

Kotbah Terakhir Sang Buddha Sebelum Meninggalkan Kapilavastu
Waktu berlalu dengan cepat. Buddha dan sangha Beliau telah menetap di kerajaan Sakya selama enam bulan lebih. Penahbisan baru telah meningkatkan jumlah para biku hingga melebihi lima ratusan orang. Sedangkan jumlah para murid awam terlalu banyak untuk dihitung. Raja Suddhodana juga memberikan sangha tempat lain untuk mendirikan sebuah wihara--bekas istana musim panas Pangeran Siddhartha yang terletak di sebelah utara ibukota dengan taman-tamannya yang sejuk dan luas. Y.M. Sariputta mengorganisir sejumlah besar biku untuk mendirikan kehidupan monastik di sana. Kehadiran wihara baru ini membantu menguatkan fondasi untuk melatih sang Jalan dalam kerajaan Sakya.

Buddha ingin kembali ke Hutan Bambu sebelum masa retret musim hujan seperti yang telah dijanjikanNya kepada raja Bimbisara dan para Biku yang menetap di sana. Raja Suddhodana mengundang Buddha untuk perjamuan makan terakhir sebelum keberangkatanNya dan memohon pembabaran Dharma untuk keluarga raja serta seluruh anggota suku Sakya.

Buddha menggunakan kesempatan ini untuk membicarakan cara menerapkan sang Jalan ke dalam kehidupan politik. Beliau menjelaskan bahwa sang Jalan dapat menerangi realm politik, membantu mereka yang terlibat dalam memerintah sebuah kerajaan untuk menciptakan kemerataan dan keadilan sosial. Beliau berkata, "Jika kalian mempraktikkan sang Jalan, kalian akan meningkatkan pengertian dan kasih sayang kalian sehingga dapat melayani rakyat dengan lebih baik. Kalian akan menemukan cara-cara untuk membawa kedamaian dan kebahagiaan tanpa sama sekali tergantung pada kekerasan. Kalian tak perlu membunuh, menyiksa, atau memenjarakan rakyat, atau menyita properti. Ini bukanlah suatu ideal yang mustahil, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan".

"Ketika seorang politisi memiliki cukup pengertian dan cinta kasih, dia akan melihat kebenaran akan kemiskinan, kesengsaraan, dan penindasan. Orang semacam itu dapat mencari berbagai cara untuk mereformasi pemerintahan untuk mengurangi jurang antara si kaya dengan si miskin serta menghentikan penggunaan kekuatan terhadap pihak-pihak lain".

"Sahabat-sahabatku, para pemimpin politik dan penguasa haruslah menunjukkan keteladanan. Janganlah hidup dalam pangkuan kemewahan karena kekayaan hanya menciptakan dinding pemisah yang lebih tebal antara kalian dan rakyat. Jalanilah kehidupan sederhana dan bajik, gunakanlah waktu kalian untuk melayani rakyat, alih-alih mengejar berbagai kesenangan yang tak bermanfaat. Seorang pemimpin tak dapat memperoleh rasa percaya dan rasa hormat dari rakyatnya jika dirinya tidak memberikan keteladanan yang baik. Jika kalian mengasihi dan menghormati rakyat, mereka juga akan mencintai dan menghormati kalian. Memerintah dengan kebajikan berbeda dengan memerintah dengan hukum dan tata tertib. Memerintah dengan kebajikan tidak tergantung pada hukuman. Menurut Jalan menuju Kebangkitan, kebahagiaan sejati, hanya dapat didapatkan melalui jalur kebajikan."

Raja Suddhodana dan seluruh hadirin mendengarkan Buddha dengan seksama. Pangeran Dronodanaraja, paman Buddha dan ayah Devadatta serta Ananda, berkata, "Memerintah dengan kebajikan seperti yang telah Bhagawa jelaskan sungguh sangatlah indah. Tetapi, aku percaya hanya Bhagawa sendiri yang memiliki karakter dan kebajikan yang diperlukan untuk merealisasikan jalur semacam ini. Mengapa Bhagawa tidak menetap di Kapilavatthu dan membantu menciptakan suatu bentuk pemerintahan di kerajaan Sakya sini yang dapat membawa kedamaian, kegembiraan, dan kebahagiaan bagi semua orang.?"

Raja Suddhosdana menambahkan, "Aku telah tua, jika engkau bersedia menetap, dengan senang hati aku akan menyerahkan tahta ini kepadamu. Dengan kebajikan, integritas, dan kecerdasanmu, aku yakin semua rakyat akan berdiri di belakangmu. Tak lama kemudian negeri kita akan makmur seperti belum pernah terjadi sebelumnya.?"

Buddha tersenyum dan tidak segera menjawab. Sambil menatap ayahandaNya dengan lembut, Beliau pun berkata, "Ayahanda, aku bukan lagi putra satu keluarga, satu suku, atau bahkan satu negeri. Keluargaku sekarang adalah semua makhluk, rumahku adalah Bumi, dan posisiku adalah seorang biku yang tergantung pada kedermawanan orang-orang lainnya. Aku telah memilih jalur ini, bukan jalur politik. Aku yakin, aku dapat melayani semua makhluk terbaik dalam cara ini."

Walaupun Ratu Gotami dan Yasodhara berpikir tidak tepat untuk menyatakan pandangan mereka sendiri selama pertemuan itu, namun, mereka berdua tersentuh hingga menitikkan air mata oleh kata-kata Buddha. Mereka tahu bahwa apa yang telah dikatakan Beliau benar adanya.

Buddha Kemudian melanjutkan pembbarannya kepada baginda raja dan yang lainnya tentang Panca Sila dan cara untuk menerapkannya ke dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Panca Sila adalah fondasi untuk keluarga yang bahagia serta masyarakat yang damai.

Beliau menjelaskan setiap sila dengan seksama dan merangkumkan dengan mengatakan, "Jika kalian ingin rakyat bersatu, kalian harus terlebih dahulu mendapatkan keyakinan dan rasa percaya mereka. Jika para pemimpin politik mempraktikkan Panca Sila, keyakinan serta rasa percaya rakyat akan bertumbuh. Berbekal keyakinan serta rasa percaya tersebut, tak ada sesuatu pun yang tidak dapat dicapai suatu negeri. Kedamaian, kebahagiaan, dan keadilan sosial akan terwujud. Bangunlah sebuah kehidupan yang berdasarkan kewaspadaan. Berbagai dogma masa lampau tidak membangun keyakinan dan rasa percaya, tidak juga mendorong terciptanya kemerataan di antara rakyat. Biarlah Jalan menuju Kebangkitan menawarkan sebuah jalur yang baru serta sebuah keyakinan baru."

Buddha meyakinkan mereka bahwa meski akan segera berangkat menuju Magadha, Beliau akan kembali lagi ke Kapilavatthu di kemudian hari. Baginda raja dan segenap hadirin merasa senang mendengar hal itu.

Upali, tukang Cukur para Bangsawan yang menjadi Arahat
Enam bangsawan muda Sakya yaitu Ananda, Anuruddha, Bhaddiya, Bhagu, Devadatta dan Kimbila memutuskan bersama untuk menjadi siswa Sang Buddha. Ketika mereka meninggalkan Kapilavatthu, ibu kota kerajaan Sakya, mereka diiringi dengan rombongan besar kereta, gajah dan sejumiah pelayan untuk melayani mereka dalam perjalanan. Di perbatasan antara kerajaan Sakya dan kerajaan Magadha, mereka mengirim seluruh kereta kembali ke Kaplivatthu, dan yang tinggal bersama mereka hanyalah Upali, tukang cukur mereka.

Di tepi hutan mereka menyuruh Upali untuk mencukur rambut mereka. Kemudian mereka melepaskan baju mereka yang mewah, perhiasan, lalu mengenakan jubah yang telah disiapkan. Mereka memberikan baju dan perhiasan itu kepada Upali dan menyuruhnya kembali ke Kapilavatthu. Upali mendapati dirinya sendirian dengan barang-barang berharga di dekatnya. Dengan gemetar dipungutnya barang-barang itu. Namun ia berpikir, kalau ia membawa pulang barang-barang itu tentu orang-orang akan mencurigainya dan ia akan dituduh mencuri barang-barang itu. Kemudian ia bertanya-tanya, mengapa keenam bangsawan muda itu mau meninggalkan kehidupan keduniawian untuk memasuki kehidupan suci.

Ia teringat sabda Sang Buddha, "Semua penderitaan di dunia ini lahir karena nafsu keinginan. Bila nafsu keinginan tidak dilenyapkan, kedamaian pikiran sulit dicapai".

Upali tidak lagi tertarik pada baju dan perhiasan mewah itu, dan ia pun bergegas mengejar para bangsawan muda itu untuk ikut pula menemui Sang Buddha. Mereka menjumpai Sang Buddha di Anupiya dalam perjalanan ke Rajagaha. Mereka memohon kepada Sang Buddha untuk diterima sebagai bhikkhu dan memohon agar Upali dapat ditahbiskan terlebih dahulu agar mereka dapat mengurangi kesombongan hati mereka dengan menjadikan Upali sebagai senior mereka.

Bhaddhiya mendapat tiga kemampuan dan menjadi Arahat selama vassa berikutnya, Anuruddha mendapatkan yang kedua dari kemampuan tersebut yaitu mata dewa yang dapat melihat timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk. Sang Buddha menyatakan Anuruddha sebagai yang terkemuka di antara mereka yang memperoleh mata dewa (dibbacakkhu) dan Bhaddhiya sebagai yang terkemuka di antara mereka yang mengalami kelahiran agung. Ananda mendengar khotbah YA Punnamantaniputta dan menjadi seorang Sotapanna (seorang suci tingkat pertama).

Devadatta memperoleh kekuatan gaib yang dapat dicapai oleh manusia biasa. Di kemudian hari Devadatta mengembangkan pikiran jahat dan memusuhi Sang Buddha, Bhagu, Kimbila dan Upali pun kemudian mencapai tingkat Arahat. Sedangkan Upali menjadi yang terkemuka di antara mereka yang mempelajari Vinaya (aturan kebhikkhuan).

Dengan sikap rendah hati Upali selalu menerima apa yang dikatakan orang dengan baik dan melakukan segala hal dengan sungguh-sungguh, belajar dan melaksanakan semua aturan dengan baik melebihi para bhikkhu lainnya. Pada suatu kali Upali memohon ijin untuk tinggal di dalam hutan untuk melatih diri dalam meditasi.

Tetapi Sang Buddha menjawab, "Setiap orang mempunyai kemampuan sendiri-sendiri. Engkau tidak terlahir untuk hidup dalam kesunyian di hutan. Bayangkanlah apabila terdapat seekor gajah besar sedang mandi dengan gembira di sebuah danau. Apa yang akan terjadi bila seekor kelinci atau kucing melihat kegembiraan sang gajah, kemudian mencoba menyainginya dengan melompat ke dalam air juga?"

YA Upali kemudian menyadari bahwa beliau harus tetap berada dalam Sahgha, mengabdikan dirinya dalam peraturan dan latihan, menjaga sila dan bertindak sebagai penuntun bagi bagi bhikkhu-bhikkhu lainnya. Apabila menemui keragu-raguan sesedikit apapun, beliau segera menanyakannya kepada Sang Buddha. Beliau memegang teguh semua sila - mulai dari yang paling dasar yaitu tidak membunuh, mencuri, melakukan tindakan asusila, berdusta, minum minuman keras yang memabukkan – sedemikian baiknya sehingga orang-orang mulai datang kepadanya untuk meminta nasihatnya.

Meskipun demikian tidak berarti YA Upali mengikuti peraturan secara dogmatis. Beliau tahu bagaimana untuk membuat pengecualian. Pada suatu kali beliau bertemu dengan seorang bhikkhu tua yang sakit yang baru kembali dari perjalanan. Mendengar bahwa sakit tersebut dapat diobati dengan meminum anggur, YA Upali menemui Sang Buddha dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Sang Buddha berkata bahwa orang yang sakit dikecualikan dari aturan yang melarang minum minuman yang diragi. YA Upali segera memberikan anggur kepada bhikku itu, yang dengan demikian menjadi sembuh dari sakitnya.

YA Upali melaksanakan sila untuk kepentingan semua bhikkhu dan untuk perbaikan Sangha. Beliau dihormati atas caranya menyelesaikan perselisihan yang seringkali mengganggu Sangha. Sesudah Sang Buddha mencapai Parinibbana, beliau memberikan sumbangan yang sangat besar dalam melestarikan Ajaran Sang Buddha dengan mengulang Vinaya (peraturan kebhikkhuan) dalam Sidang Agung yang diselenggarakan di bawah pimpinan YA Maha Kassapa.

Ananda Pembantu Setia Sang Buddha dan Penjaga Dharma
YA Ananda terlahir sebagai putera Sukkodana, saudara Suddhodana ayah Sang Buddha, oleh karenanya ia merupakan saudara sepupu pertama Sang Buddha. Hari kelahirannya bersamaan dengan hari kelahiran Sang Buddha, bersamaan pula dengan terlahirnya Puteri Yasodhara yang kemudian menjadi isteri Pangeran Siddhattha, Channa yang kemudian menjadi kusir Pangeran Siddhattha, Kaludayi yang kemudian mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilavatthu, Kanthaka yang kemudian menjadi kuda Pangeran Siddhattha, seekor gajah istana, pohon Bodhi tempat Pangeran Siddhattha mencapai Penerangan Agung, Nidhikumbhi yaitu tempat harta pusaka.

Pada suatu ketika dalam suatu pertemuan para bhikkhu di Rajagaha, Sang Buddha yang saat itu berusia lima puluh lima tahun menyinggung tentang perlunya ditunjuk seorang pembantu tetap untuk diriNya. Semua siswa utama seperti YA Sariputta dan YA Moggallana menawarkan diri untuk menjadi pembantu tetap namun semuanya ditolak oleh Sang Buddha. Para bhikkhu kemudian menganjurkan Ananda yang selama itu berdiam diri saja untuk memohon kepada Sang Buddha untuk dapat diterima sebagai pembantu tetap.

Ananda mengatakan, "Kalau Sang Bhagava memang memerlukan Ananda sebagai Pembantu Tetap, Sang Bhagava boleh mengatakannya".

Kemudian Sang Buddha berkata, "Ananda, jangan membiarkan orang lain menganjurkan engkau untuk memohon pekerjaan tersebut. Atas kemauan sendiri engkau dapat menjadi Pembantu Tetap Sang Buddha".

Baru setelah itulah Ananda menawarkan diri untuk menjadi Pembantu Tetap asal Sang Buddha berkenan meluluskan delapan permintaannya, yaitu menolak empat hal dan memenuhi empat hal. Empat hal yang diminta Ananda untuk ditolak adalah:
    Apabila Sang Buddha menerima persembahan jubah, maka jubah itu tidak boleh diberikan kepada Ananda;
    apabila Sang Buddha menerima hadiah, hadiah itu tidak boleh diberikan kepada Ananda;
    Ananda tidak boleh diminta untuk tidur di kamar pribadi Sang Buddha yang harum baunya (Gandhakuti);
    Apabila Sang Buddha menerima undangan pribadi, maka undangan itu tidak termasuk dirinya.
Ananda mengatakan apabila Sang Buddha melakukan hal tersebut maka orang akan bercerita bahwa Ananda menjadi Pembantu Tetap karena ingin mendapat jubah bagus, makanan enak, tempat tinggal menyenangkan dan ikut serta kalau Sang Buddha mendapat undangan.

Empat hal yang diminta Ananda untuk dipenuhi adalah: Apabila Ananda menerima undangan atas nama Sang Buddha maka Sang Buddha harus memenuhinya; apabila ada orang datang dari tempat jauh, agar Ananda dapat membawanya menghadap Sang Buddha; apabila Ananda merasa ada sesuatu yang meragukan ia diperbolehkan bertanya kepada Sang Buddha setiap waktu; apabila Ananda tidak hadir saat Sang Buddha berkhotbah, Sang Buddha bersedia mengulanginya kembali.

Apabila hal tersebut tidak diperkenankan maka orang akan bertanya-tanya apa sebenarnya faedah dari pengabdian tersebut. Sang Buddha menyetujui permintaan tersebut dan sejak saat itu Ananda resmi menjadi Buddha-upatthaka (Pembantu Tetap Sang Buddha).

Sebagai Pembantu Tetap Sang Buddha, Ananda melayani Sang Buddha selama dua puluh lima tahun, mengikuti Sang Buddha bagaikan bayanganNya, membawakan air dan tusuk gigi, mencuci kaki Sang Buddha, menyertai Sang Buddha ke mana saja, menyapu tempat kediaman Sang Buddha. Karena dekatnya hubungan dengan Sang Buddha, Ananda berkesempatan untuk mendengarkan semua Khotbah Sang Buddha. Karena mempunyai daya ingat yang luar biasa, Ananda dapat mengingat segala sesuatu yang diucapkan oleh Sang Buddha sehingga ia dikenal sebagai 'Bendahara Dhamma' (Dhamma Bhandagarika)

Ia dapat mengulang kotbah-kotbah Hyang Buddha secara minus sampai 60.000 kata, tanpa satu suku-kata pun yang tertinggal. Ia mampu membacakan 15.000 bait empat-baris dari Hyang Buddha.
    82.000 ajaran dari Sang Buddha Telah kuterima;
    2.000 lagi dari para siswa Beliau;
    Kini, 84.000 telah kupahami. [lihat di sini]
Kumpulan ini adalah setara dengan 45 Jilid buku. [Jika anda merasa ragu apakah ini mampu dilakukan manusia, silakan baca Daniel paul tammet dan ini]

Pada suatu ketika di Jetavana dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha memuji Ananda dan menempatkannya sebagai bhikkhu yang utama dalam lima hal: kepandaian (Bahusacca), ingatan yang kuat (Sati), kelakuan baik (Gati), ketabahan (Dhiti), perhatian penuh dalam pelayanan (Upatthana).

Meskipun mempunyai hubungan yang dekat dengan Sang Buddha, sampai pada saat Sang Buddha mencapai Parinibbana (wafat), Ananda belum juga mencapai tingkat Arahat (tingkat kesucian tertinggi). Ananda mencapai tingkat Arahat tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha yaitu pada Sidang Agung Pertarna di Gua Sattapanni, Rajagaha. Ketika itu YA Maha Kassapa mengusulkan untuk mengulang Dhamma dan Vinaya sehingga dapat diketahui Ajaran yang sesungguhnya. Para bhikkhu memintanya memilih anggota pertemuan dan beliau memilih 499 Arahat.

Beliau diminta pula untuk memilih Ananda, karena meskipun belum mencapai Arahat, Ananda telah mempelajari Dhamma dan Vinaya dari Sang Buddha sendiri. Menyadari dirinya merupakan satu-satunya peserta pertemuan yang belum Arahat, sehari sebelum pertemuan dimulai Ananda melatih diri dengan sungguh-sungguh hingga larut malam.

Menjelang fajar, ia merasa mengantuk dan karenanya merebahkan diri. Pada saat kepala belum menyentuh bantal, belum lagi kakinya meninggalkan lantai, ia menyelami Enam Kemampuan Batin Luar Biasa (Abhiñña). Karena itulah beliau dikatakan sebagai satu-satunya siswa yang mencapai Arahat tanpa empat sikap tubuh (Iriyapatha).

Membabarkan Dhamma kepada Ibunda di Surga Tavatimsa
Sang Buddha pergi ke Surga Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ibuNya. Beliau duduk di Singgasana Batu Permata Kuning, Pamdukambla Sila, membabarkan Abhidhamma kepada ibuNya yang telah menjadi dewa dan juga kepada para dewa lainnya.

Pada saat itu pula banyak umat yang mencari Sang Buddha, ingin bertemu, tetapi mereka tidak menjumpaiNya, seperti juga rembulan yang baru saja terbenam. Mereka berpikir bahwa Sang Buddha menyenangi kesunyian dan meninggalkan mereka pergi ke kerajaan atau negara lain dan tidak akan kembali lagi, mereka mulai menangis dan meratap. Mereka lalu bertanya kepada Moggallana, "Ke manakah Sang Guru pergi, Bhante?".

Meskipun Moggallana sendiri mengetahui dengan baik ke mana Sang Guru pergi, ia berpikir biarlah kesaktian siswa yang lainnya juga menjadi terkenal, maka Beliau menjawab, "Tanyakan kepada Anuruddha." [YA Anuruddha terlahir sebagai saudara sepupu Sang Buddha, putera dari Amitodana. Mempunyai saudara kandung bernama Mahanama dan merupakan saudara satu ayah lain ibu dari Ananda]

Kemudian mereka bertanya kepada Anuruddha : "Yang Mulia, ke manakah Sang Guru pergi?". Anuruddha menjawab, "Beliau memasuki Surga Tavatimsa, duduk di Singgasana Batu Permata Kuning; membabarkan Abhidhamma kepada ibuNya." Kemudia Mereka "Kapan Sang Guru kembali, Bhante?"

"Sang Buddha akan membabarkan Abhidhamma selama tiga bulan dan Beliau akan kembali pada hari Festival Pavarana." Mereka lalu bersama-sama bertekad : "Kami tidak akan pergi, sampai kami dapat bertemu Sang Guru Agung."

Kemudian mereka mendirikan tenda-tenda menunggu sampai Sang Buddha kembali.

Sebelum Sang Buddha pergi ke Surga Tavatimsa, Beliau telah meminta Moggallana untuk membabarkan Dhamma kepada masyarakat, dan meminta kepada Culla Anathapindika untuk menyediakan makanan untuk mereka. Karena itulah, selama tiga bulan, Culla Anathapindika menyediakan minuman dan makanan berupa bubur dan makanan padat lainnya, juga dipenuhi bunga-bungaan, wangi-wangian dan hiasan-hiasan. Moggallana membabarkan Dhamma kepada mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari semua yang datang untuk menyaksikan keajaiban ini.

Ketika Sang Buddha berada di Surga Tavatimsa, Beliau duduk di Singgasana Batu Permata Kuning membabarkan Abhidhamma kepada ibuNya dan para dewa dari alam sepuluh ribu dewa mengelilingi dan duduk di hadapanNya. Pada saat Sang Buddha duduk, sinar beraneka warna memancar keluar dari seluruh tubuhNya, menyinari seluruh dewa yang hadir, ibuNya keluar dari Istana Alam Dewa Tusita, menghampiri Sang Buddha dan duduk di sisi sebelah kanan dan Ankura di sebelah kiriNya.

Ketika kekuatan para dewa itu bergabung, Ankura menyingkir dan duduk sejauh dua belas yojana. Pada saat Indaka duduk di sisi kanan Sang Buddha, Beliau kemudian memperhatikan keduanya, dan bercerita tentang masa lampau mereka, tentang perbuatan baik yang telah mereka perbuat pada kehidupan yang lampau.

Sang Buddha duduk di tengah-tengah para dewa yang mengelilinginya dan untuk kebaikan dari ibuNya, Sang Guru mulai menerangkan tentang Abhidhamma, dimulai dengan kata-kata : "Segala sesuatu ada yang baik, segala sesuatu ada yang buruk, segala sesuatu ada yang tidak baik juga tidak buruk."

Dan selama tiga bulan tanpa berhenti, Sang Buddha membabarkan Abhidhamma.

Ketika tiba waktunya untuk menerima dana makanan, Beliau menciptakan kembaranNya dan berkata, "Ajarkanlah Dhamma sampai Aku kembali." Beliau sendiri menuju ke Himalaya dan sesudah membersihkan gigi dan mulut dengan air dari Danau Anotatta, Beliau menerima dana dari Uttarakuru, lalu duduk di sebuah taman dan mulai menyantap makananNya.

Sementara itu Sariputta pergi ke Surga Tavatimsa dan menunggu Sang Buddha. Ketika Sang Guru menyelesaikan makanNya, Beliau membabarkan Abhidhamma kepada Sariputta. Sesudah mendengar sendiri dari mulut Sang Buddha, beliau kembali ke Alam Manusia dan membabarkan Abhidhamma kepada lima ratus bhikkhu yang mengiringinya. Kelima ratus bhikkhu inilah yang menerima untuk pertama kalinya Abhidhamma. Mereka disebut Abhidhammabhanaka (Yang Mengerti Abhidhamma). [500 bhikkhu ini pada zaman Buddha Kassapa pernah terlahirkan sebagai kelelawar. Berkat mendengarkan dua orang bhikkhu yang sedang berbincang-bincang tentang Abhidhamma di sebuah gua –walau sebagai kelelawar tak mengerti maknanya–, mereka semua terlahirkan-kembali di Alam Surga selama satu masa Buddha].

Sang Buddha melanjutkan pembabaran Abhidhamma selama tiga bulan lamanya. Pada akhir pembabaran Abhidhamma ini, delapan ratus ribu dari jutaan dewa memperoleh pengertian yang benar tentang Ajaran Sang Buddha, dan Maha Maya mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna).

[Note: Banyak yang salah paham, dengan mengatakan Abhidhamma baru disusun pada Konsili ke-3, sehingga beranggapan bahwa ini bukan sebagai Sabda sang Buddha. Ini adalah keliru. Ketua Konsili saat itu, yaitu Monggali Putta Tissa, hanya menyusun kitab yang ke 5, yaitu Kathavatthu. Total Kitab Abhidhamma ada 7, yaitu: Dhammasangani, Vibhanga, Dhatukatha, Puggalapannati, Kathavatthu, Yamaka, Patthana]

Kematian Raja Suddhodana
Lima Tahun kemudian setelah Sang Buddha meninggalkan Kapilavatthu, Beliau kembali mengunjungi ayahnya Raja Suddhodana, yang sedang sakit parah. Raja Suddhodana sangat bahagia ketika melihat Sang Buddha lagi dan merasa lebih baik. Sang Buddha mengetahui bahwa Raja hendak mangkat dalam watu dekat dan dengan tekun memberikan khotbah kepada ayah-Nya dan setelah mendengarkan khotbah tersebut Raja Suddhodana mencapai tingkat Arahat. Tujuh hari setelah menikmati kedamaian Nibbana, Raja Suddhodana wafat. Semua orang merasa sangat sedih.

Prajapati Gotami meminta ditabhiskan
Ketika Raja Suddhodana meninggal, Ratu Prajapati Gotami merasa sangat sedih. Ia dan beberapa wanita lain memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan bergabung dengan kelompok Bhikkhu Sang Buddha untuk mempraktekkan Dharma. Jadi Ratu Pajapati memimpin para wanita untuk ditabhiskan sebagai Bhikkhuni, tetapi Sang Buddha menolak. Para wanita itu merasa sangat kecewa dan menangis. Tetapi mereka tidak menyerah untuk menjadi Bhikkhuni.

Prajapati Gotami meminta tolong pada Ananda
Ketika Sang Buddha sedang tinggal di Vihara Mahavaha, Putri Prajapati Gotami dan kelompok wanitanya pergi ke vihara dan memberitahu Ananda apa yang telah terjadi. Ananda merasa kasihan kepada mereka dan berjanji untuk menolong mereka. Ananda pergi mendatangi Sang Buddha untuk meminta kemurahan hatiNya dan membiarkan para wanita itu bergabung. Tetapi Sang Buddha menolak lagi.

Ananda membujuk Sang Buddha
Ananda kemudian berkata: "Saya mohon, Sang Buddha, tolong membantu Prajapati Gotami dan terima dia dan para wanita lainnya menjadi Bhikkhuni, karena ia telah melakukan kebaikan padaMu di masa lalu. Ia membesarkanMu seperti anaknya sendiri." Akhirnya Sang Buddha berkata:" Baiklah, jika mereka bersedia mengikuti 8 peraturan tambahan yang Saya berikan, mereka dapat meninggalkan rumah dan menjadi Bhikkhuni dan mempraktekkan Dharma."

Prajapati Gotami menjadi Bhikkhuni pertama
Setelah meninggalkan Sang Buddha, Ananda pergi untuk memberitahu Prajapati Gotami berita baik itu. Para wanita tersebut sangat gembira dan berjanji untuk mengamati dan menjalankan delapan peraturan dari Sang Buddha itu. Ananda kembali memberitahukan Sang Buddha bahwa para wanita-wanita itu senang mengikuti peraturan yang diberikan itu. Jadi Prajapati Gotami menjadi Bhikkhuni Buddhist pertama.

Skema jahat Devadatta
Devadatta sangat arogan dan sangat cemburu atas dua pengikut utama Sang Buddha. Sehingga Devadatta meninggalkan Sangha (komunitas para Bhikkhu dan Bhikkhuni) dan berteman dengan pangeran Ajatasattu, anak dari Raja Bimbisara. Sang pangeran membangun sebuah vihara pribadi untuk Devadatta. Devadatta kemudian membujuk pangeran untuk membunuh ayahnya, Raja Bimbisara, agar sang pangeran dapat menjadi raja. Sang pangeran mengikuti skema jahat Devadatta dan tidak memberi ayahnya makan hingga tewas lalu Ajatasattu menjadi raja.

Devadatta berusaha membunuh Sang Buddha
Sekarang Devadatta merasa sangat berkuasa karena raja yang baru adalah teman dan pendukungnya. Jadi ia memutuskan untuk membunuh Sang Buddha. Suatu malam, ketika Sang Buddha sedang berjalan di bukit berbatu, Devadatta mendorong jatuh sebuah batu besar untuk membunuh Sang Buddha. Tetapi batu itu tiba-tiba terpecah-bilah dan hanya sebagian kecil dari batu itu yang tajam yang melukai kaki Sang Buddha. Sang Buddha kembali ke vihara dan dirawat oleh dokter terkenal, Jivaka.

Seekor gajah yang buas dijinakkan oleh cinta kasih

Meskipun rencana jahatnya gagal, Devadatta berusaha kembali untuk membunuh Sang Buddha. Ketika Sang Buddha sedang berjalan seperti biasa di Rajagaha, Devadatta melepas seekor gajah buas. Tetapi ketika gajah [Nalagiri] itu berlari mendekati Sang Buddha, ia menjadi tenang karena cinta kasih Sang Buddha yang begitu besar. Setelah kejadian ini, Devadatta tidak lagi berusaha untuk membunuh Sang Buddha, tetapi ia masih ingin memecah Sangha. [Note: Kelak di kemudian hari Nalagiripun akan menjadi yang tercerahkan, setelah: Metteyya, Rama [Raja], Pasenadi of Kosala [Raja], Abhibhu [Deva], Dighasoni [Asura], Candani [Brahmana], Subha [Anak Muda], Todeyya [Brahmana], Nalagiri dan Palaleya [kedua2nya Gajah]]

Sang Buddha memperingati Devadatta

Untuk mengesankan para Bhikkhu dan Bhikkhuni lain dan juga mengganggu Sangha, Devadatta meminta Sang Buddha untuk membuat peraturan (tata krama) yang lebih ketat untuk Sangha. Devadatta meminta agar para Bhikkhu tidak diijinkan tidur di rumah atau makan daging. Tetapi Sang Buddha menolak proposal Devadatta. Sang Buddha berkata: "Jika beberapa Bhikkhu hendak tidur di luar rumah atau tidak memakan daging, mereka bebas melakukannya. Tetapi jika mereka tidak ingin hidup dalam cara demikian, mereka juga tidak harus melakukannya." Akhirnya, Sang Buddha berkata: "Devadatta, jika kamu ingin memecah Sangha, kamu akan memetik buah kejahatan."

Kelompok bhikkhu pendukung Devadatta
Devadatta mengabaikan peringatan Sang Buddha, dan pergi memimpin sekelompok Bhikkhu dan membuat dirinya pemimpin dari kelompok Bhikkhunya. Suatu hari, ketika Devadatta sedang tidur, pengikut utama Sang Buddha yang bernama Sariputta datang dan memperingati para Bhikkhu mengenai konsekuensi dari tindakan jahat. Para Bhikkhu itu kemudian menyadari kesalahan mereka dan kembali kepada Sang Buddha. Bagaimanapun juga, banyak diantara mereka telah dibawa pulang kembali oleh Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera. Kemudian, Devadatta jatuh sakit. Setelah menderita sakit selama sembilan bulan, dia meminta murid-muridnya untuk membawanya menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana.

Mendengar kabar bahwa Devadatta akan tiba, Sang Buddha berkata kepada murid-murid-Nya, bahwa Devadatta tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menemui-Nya. Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengangkutnya meletakkan tandu tempat berbaringnya di tepi kolam, dan mereka pergi mandi. Devadatta bangun dari tempat berbaringnya, dan menaruhkan kedua kakinya di tanah.

Pada saat itu juga kakinya masuk ke dalam bumi, dan sedikit demi sedikit dia ditelan bumi. Devadatta tidak memiliki kesempatan untuk melihat Sang Buddha, karena perbuatan jahat yang telah dia lakukan terhadap Sang Buddha. Setelah kematiannya, dia terlahir di Neraka Avici (Avici Niraya), tempat yang penuh dengan penyiksaan terus menerus.

Kejadian yang dilakukan oleh Devadata, ini terjadi berkali-kali dalam kehidupan lampau Sang Buddha maupun Devadatta, Di saat kehidupan dimana Sidharta menjadi Buddha, maka Buddah berkesempatan mengubah hukuman kelahiran dan penyiksaan atas kejahatan yang diperbuat Devadatta yang tak ada batasnya menjadi terbatas, yaitu dengan mengijinkan menjadi anggota sangha, setelah penderitaan di neraka Avici selama Kalpa, Devadatta kemudian bebas dan menjadi Pacceka Buddha dengan nama Atthissara.

Perlu diketahui, dalam seluruh kehidupan lalu Devadatta dan Sang Bodhisatta(Calon Buddha), Hanya satu kasus dimana Devadatta memiliki kehidupan lebih rendah dari Sang Bodhisatta(Calon Buddha), selebihnya Ia hampir mempunyai kehidupan yang selalu lebih baik(beruntung) dari Sang Bodhisatta(Calon Buddha), Hal Ini disebabkan saat Devadatta menjalani kehidupan menjadi raja, ia melindungi dan melayani rakyatnya serta memberikan persembahan kepada para petapa dan para brahmana sesuai dengan kecenderungannya. Baginda, tak ada seorang pun yang dapat mencapai kemakmuran tanpa kemurahan hati, pengendalian diri, serta mempraktekkan moralitas dan nilai-nilai luhur lainnya.

Meskipun demikian, semua makhluk yang terhanyut di dalam arus lingkaran tumimbal lahir yang tak ada hentinya selalu akan bertemu dengan rekan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sama halnya seperti air yang mengalir di sungai selalu akan menemui benda yang bersih maupun yang tidak bersih. Tetapi perbandingan antara Sang Bodhisatta dan Devadatta harus dipertimbangkan dari sudut pandang panjangnya lingkaran tumimbal lahir yang tak terbayangkan, dan juga harus diingat bahwa Sang Bodhisatta(Calon Buddha) berada di surga selama kurun waktu berkalpa-kalpa, sementara Devadatta mendidih di neraka.

Tinggal di Vihara Selama Musim Hujan
Sang Buddha telah mengajar dan mentabhiskan orang-orang selama 45 tahun. Sang Buddha telah mengunjungi berbagai kerajaan-kerajaan di India, selalu dengan berjalan kaki. Selama musim hujan, Sang Buddha tinggal di vihara-vihara yang dibangun untukNya dan Sangha oleh pendukung yang berbeda-beda. Tempat-tempat yang paling sering disinggahi Sang Buddha adalah Veluvana, di dekat Rajagaha, dan Jetavana, di dekat Savatthi. Selama bertahun-tahun, Sang Buddha bekerja keras setiap hari untuk menyebar ajaranNya.

Hidup Dari Dana Makanan
Sang Buddha biasanya bangun pagi sebelum matahari terbit, kemudian mandi dan kemudian mencari orang yang bisa diajarkan. Ketika menemukan seseorang yang siap memahami dan menerima ajaran, Sang Buddha akan pergi dan mengajar orang itu pada hari yang sama. Setelah matahari terbit, Sang Buddha pergi menerima dana makanan dari orang-orang disekitarnya. Kadang kala Sang Buddha pergi sendiri, dan kadang-kadang dengan para Bhikkhu. Beberapa orang juga mengundang Sang Buddha untuk datang kerumahnya dan menerima dana makanan. Setelah makan, Sang Buddha mengajar Dharma kepada mereka. Kemudian kembali ke vihara.

Mengajarkan Para Bhikkhu Di Vihara
Kembali ke vihara, Sang Buddha beristirahat, dibawah pohon atau di ruangan, menunggu para Bhikkhu kembali dari kepergiannya mencari dana makanan. Ketika semua Bhikkhu dan Bhikkhuni telah berkumpul di hall, Sang Buddha memberikan ceramah Dharma atau hanya mendorong mereka untuk mempraktekkan Dharma. Beberapa Bhikkhu juga meminta agar memberikan instruksi pribadi untuk praktek Dharma mereka. Sang Buddha kemudian mempertimbangkan dan memberi nasehat pribadi yang paling cocok kepada setiap Bhikkhu dan Bhikkhuni.

Mengajarkan Orang-orang Setiap Sore
Di musim panas, orang-orang selalu berkunjung kepada Sang Buddha pada sore hari. Beberapa datang dengan membawa pemberian, sedangkan yang lainnya datang untuk mendengarkan ajaranNya. Sang Buddha mengajarkan Dharma kepada mereka dengan bahasa yang baik, sehingga semua orang mampu memahaminya. Setelah ceramah, semua orang merasa senang dan puas.

Mandi di Sungai
Setelah orang-orang pergi, Sang Buddha biasanya mandi. Kemudian Sang Buddha bermeditasi untuk beberapa waktu. Setelah itu, Sang Buddha mengajarkan para Bhikkhu yang datang dari tempat-tempat lain. Sang Buddha menolong para Bhikkhu tersebut untuk memahami bagian-bagian yang sulit dari Dhama dan dengan demikian membuat mereka sangat senang. Pada waktu matahari terbenam, Sang Buddha biasanya pergi jalan-jalan untuk menyegarkan diri. Setelah itu Sang Buddha akan kembali memberikan ceramah kepada para Bhikkhu. Larut malam, orang-orang penting, seperti raja-raja, datang meminta nasehat dan ajaran dalam Dharma.

Beristirahat Dengan Pikiran Tetap Terjaga
Setelah itu, Sang Buddha tidur, biasanya hanya selama empat jam saja. Sang Buddha tidur pada sisi kanannya dan bangun sebelum matahari terbit. Kemudian Sang Buddha memasuki meditasi yang dalam untuk menjelajah keadaan para pendengarnya untuk hari itu.

Menolong Untuk Menyelesaikan Masalah Orang-orang
Sang Buddha selalu bekerja sangat keras untuk menyebarkan Dharma. Ketika sedang tidak berkeliling, Sang Buddha menggunakan waktunya tidak hanya menjelaskan Dharma, tetapi juga untuk menolong orang-orang menyelesaikan masalah-masalahnya. Sang Buddha selalu ingin menolong orang-orang dari segala golongan, baik itu seorang ibu rumah tangga, petani, atau seseorang yang sedang butuh pertolongan.

Menjawab Pertanyaan Orang-orang
Sang Buddha tidak pernah menolak untuk menjawab pertanyan-pertanyaan yang sulit atau menjelaskan masalah-masalah yang rumit. Juga tidak pernah merasa terganggu oleh pertanyaan mereka, dan selalu mampu menjawab dengan benar. Sang Buddha selalu menjelaskan Dharma dalam cara yang paling cocok dengan keadaan para pendengarnya. Sang Buddha menyambut semua orang tanpa pandang bulu. Banyak orang yang ragu pada mulanya menjadi percaya akan kebenaran ajaranNya. Mereka kemudian menjadi pengikut setia.

Kembali ke Kaki Gunung Himalaya
Setelah 45 tahun berkelana dan mengajar, Sang Buddha sampai pada umur 80 tahun. Meskipun pikiranNya kuat, Sang Buddha merasa tubuhnya semakin lemah. Sang Buddha sadar bahwa hidupNya akan berakhir. Jadi Sang Buddha memutuskan untuk pergi ke utara, ke kaki gunung Himalaya, daerah dimana Beliau dilahirkan. Sang Buddha berharap untuk dapat memasuki nirvana, atau kebebasan dari penderitaan. Dalam perjalanan ke utara, Sang Buddha dan Ananda berhenti di desa Kebun Bambu, di dalam kerajaan Patali. Sang Buddha memutuskan untuk tinggal di sana selama musim hujan.

Memberi Beberapa Ajaran Terakhir Kepada Ananda
Selama tinggal di desa itu, Sang Buddha merasa sakit parah. Setelah sembuh, Sang Buddha memberi tahu Ananda: "Ananda, sekarang Sangha seharusnya sudah tahu mengenai tata cara dalam berperilaku, mampu memeriksa kelakuan mereka dan mencapai nirvana. Aku tidak menyimpan rahasia apapun. Dengan segenap hatiku, saya berharap yang terbaik bagi semua Bhikkhu dan Bhikkhuni. Saya telah berusia lanjut sekarang. Kamu seharusnya bergantung pada dirimu sendiri. Kamu seharusnya bersandar pada Dharma."

Menyadari Saat-saat Terakhir Sudah Dekat
Di suatu pagi, setelah sarapan, Sang Buddha pergi ke Pava Stupa untuk bermeditasi. Sang Buddha duduk di atas batu sebuah pohon dan mencari tahu kapan akan meninggal dengan pikiranNya. Sang Buddha menyimpulkan akan memasuki nirvana setelah tiga bulan. Ketika Sang Buddha memberitahukan hal ini kepada Ananda, Ananda memohon padanya: "Kumohon tinggallah dan terus menolong orang-orang untuk mengakhiri penderitaan!" Sang Buddha menjawab: "Ananda, hidup seorang Buddha akan segera berakhir. Sang Buddha akan mencapai nirvana tiga bulan dari sekarang. Kematian itu tidak dapat dihindari."

Ajaran-ajaran Terakhir Kepada Para Bhikkhunya
Kemudian Sang Buddha memanggil para Bhikkhu dan memberikan mereka banyak ajaran penting. Sang Buddha mendorong para Bhikkhu untuk mempraktekkan ajaranNya demi kepentingan semua orang di seluruh dunia, dan menolong orang-orang belajar dan mempraktekkan Dharma. Sang Buddha juga mendorong mereka untuk menjadi contoh teladan bagi semua orang. Terakhir Sang Buddha mengajarkan: "Segala sesuatu pasti akan menjadi tua dan mati. Pelajari kebenaran-kebenaran yang telah Aku ajarkan pada kalian dan praktekkanlah; jaga pikiran kalian masing-masing; jangan ceroboh, agar kalian dapat terbebas dari penderitaan dan kelahiran kembali."

Kunjungan Terakhir ke Kota Vesali
Suatu pagi, Sang Buddha dan Ananda pergi kekota Vesali untuk menerima dana makanan terakhir kalinya di kota itu. Setelah itu Sang Buddha dan para pengikutnya mengunjungi desa-desa di sekitarnya, dan Sang Buddha mengajarkan Dharma kepada orang-orang. Sang Buddha juga memberitahukan para pengikutnya, ketika siapapun mengajarkan Dharma, mereka sebaiknya menganalisa dengan cermat ajaran tersebut dihubungkan terhadap Dharma yang diajarkan oleh Sang Buddha. Jika ajaran itu tidak konsisten dengan ajarannya, mereka sebaiknya menolaknya. Kemudian Sang Buddha, Ananda dan para pengikutnya melanjutkan perjalan mereka ke kota Pava dan beristirahat di taman Mangga milik Cunda, anak seorang pengusaha emas.

Cunda Menawarkan Sang Buddha Makanan Terakhir
Sang Buddha mengajarkan Cunda dan keluarganya. Mereka kemudian percaya akan Dharma dan berlindung dalam Buddha dan Dharma. Dana makanan dari Cunda merupakan dana makanan terakhir yang disantap Sang Buddha dan kemudian ia pun sakit. Sang Buddha dan para pengikutnya tetap melanjutkan perjalanan ke Kusinara. Dalam perjalanan Sang Buddha bertemu pangeran dari suku Malla. Sang Buddha mengajarkannya cara untuk hidup dalam kedamaian. Sang Pangeran kemudian berlindung dalam Buddha, Dharma dan Sangha (Tiga Hal Penting), dan menawarkan dua pakaian berwarna emas yang bagus kepada Sang Buddha. Sang Buddha menyimpan satu dan memberikan satunya lagi kepada Ananda.

Tempat Peristirahatan Terakhir Antara Dua Pohon Sala
Akhirnya Sang Buddha dan Ananda tiba di perbatasan Kusinara. Ketika sampai di Salavana, sebuah tempat berlibur bangsawan suku Mallas, Sang Buddha merasa tidak dapat melanjutkan perjalanan lagi. Jadi Sang Buddha meminta Ananda untuk menyiapkan tempat untuk berbaring. Ananda menggunakan jubah luar Sang Buddha dan meletakkannya di atas ranjang di antara dua pohon sala yang besar. Kemudian Sang Buddha pun berbaring pada sisi kanannya. Sang Buddha tidak tertidur, tetapi hanya beristirahat untuk mengurangi sakit dan letih lesu. Pikiran Sang Buddha tetap tenang seperti biasa.

Ananda Diselimuti Oleh Duka
Ananda merasa sangat berduka karena Sang Buddha benar-benar meninggalkannya kali ini. Jadi Ananda meninggalkan Sang Buddha, dan pergi ke seuatu tempat yang terisolasi di antara pohon-pohon untuk menangis. Ananda berpikir: "Tidak seperti Bhikkhu lain, saya masih belum mencapai tingkat arahat, dan saya kehilangan guru selamanya, dan ditinggal sendiri." Wajahnya dipenuhi dengan air mata. Ketika Bhikkhu-Bhikkhu lain memberi tahu Sang Buddha bahwa Ananda sedang menangis di suatu tempat tersembunyi, Sang Buddha meminta mereka untuk membawa Ananda kembali.

Ananda Dipuji
Setelah Ananda kembali, Sang Buddha memujiNya di depan Bhikkhu-Bhikkhu lain. Sang Buddha memberi tahu mereka: "Ananda telah, dan selalu, menjadi pengurus yang baik. Ia tahu bagaimana mengaturku untuk bertemu dengan pengunjung. Ia selalu baik dengan para pengunjung." Kemudian, Ananda berkata kepada Sang Buddha: "Sang Buddha, kumohon jangan memasuki nirvana dari tempat yang kecil dan tidak penting seperti itu. Pilihlah satu kota besar, seperti Rajagaha atau Vesali, dan masuki nirvana dari sana. Di kota-kota tersebut ada banyak orang-orang kaya dan berkuasa yang merupakan pengikutMu. Mereka dapat bertanggungjawab untuk peninggalan suciMu."

Ananda Pergi Untuk Memberitahukan Penduduk Kusinara
Sang Buddha berkata kepada Ananda: "Tidak Ananda, jangan berkata demikian. Ini bukan merupakan kota kecil dan tidak berarti. Dulu kota ini adalah sebuah kota yang makmur, dan tempat bagi raja yang agung. Ananda, pergilah ke Kusinara dan beritahu raja dan rakyatnya bahwa malam ini Sang Buddha akan memasuki nirvana dalam hutan ini. Jika mereka berkeinginan, mereka dapat datang untuk melihat Aku sebelum saatnya tiba." Jadi Ananda pergi ke Kusinara dengan beberapa Bhikkhu dan memberitahu Raja Malla dan rakyatnya mengenai apa yang telah Sang Buddha katakan.

Rakyat Kusinara Berduka Untuk Sang Buddha

Ketika rakyat Kusinara mengetahui Sang Buddha segera memasuki nirvana, mereka semua merasa sangat sedih dan menangis. Mereka berkata: "Terlalu pagi bagi Sang Buddha untuk memasuki nirvana. Sinar dunia akan padam terlalu awal!" Pria, wanita dan anak-anak, menangis tersedu-sedu, pergi ke Salavana, di mana Sang Buddha tinggal. Mereka semua berharap untuk melihat Sang Buddha sekali lagi.

Subhadda Ingin Bertemu Dengan Sang Buddha

Seorang pria yang sedang berkelana dari sekte pertapa, yang bernama Subhadda, sampai ke Kusinara. Subhadda memutuskan untuk mengunjungi Sang Buddha ketika mengetahui bahwa Sang Buddha akan segera memasuki nirvana. Subhadda ingin bertanya kepada Sang Buddha mengenai beberapa pertanyaan yang mengganggunya. Subhadda percaya bahwa hanya Sang Buddha yang mampu memberinya penjelasan yang menyeluruh. Jadi Subhadda pergi ke Salavana, dan meminta Ananda mengizinkannya untuk melihat Sang Buddha. Bagaimanapun Ananda tidak memberinya izin, karena Ananda pikir bahwa Sang Buddha terlalu letih untuk bertemu pengunjung.

Ajaran Sang Buddha Kepada Subhadda
Tetapi Subhadda sangat ingin bertemu Sang Buddha dan berulang-ulang meminta kepada Ananda. Ketika Sang Buddha mendengar pembicaraan mereka, dan tahu tujuan baik Subhadda. Jadi Sang Buddha menyuruh Ananda untuk membiarkan Subhadda masuk. Setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan Subhadda, Sang Buddha mengajarinya sampai semua masalah dalam pikiran Subhadda dijelaskan. Subhadda percaya dalam Buddha dan Dharma dan meminta Sang Buddha untuk menerimanya sebagai Bhikkhu. Jadi Subhadda menjadi orang terakhir yang ditabhiskan oleh sang Buddha.

Kata-kata Terakhir Sang Buddha
Kemudian Sang Buddha memberi kesempatan terakhir bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni untuk bertanya. Mulanya, Sang Buddha menanyakan, adakah yang masih meragukan Sang Buddha, Dharma dan Sangha. Namun tidak ada satupun di antara para Bhikkhu dan Bhikkhuni yang meragukan ketiga hal itu. Akhirnya Sang Buddha berkata:

"Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini :

'Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-sungguh.' (Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha)."

Nirvana
Dengan dihadiri dan disaksikan para dewa dari sepuluh ribu tata surya, Sang Buddha kemudian memasuki meditasi, yang dalam dan semakin dalam, sampai pikiranNya seimbang dan terfokus, lalu meninggal. Jadi, Sang Buddha, Yang Maha Sempurna, telah mencapai kebebasan akhir yang dikenal sebagai nirvana. Demikianlah ketika Sang Bhagava telah Parinibbana, tepat bersamaan dengan saat parinibbanaNya, maka terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat, menakutkan, mengerikan, dan mengejutkan disertai halilintar sambar-menyambar di angkasa. Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

"Mereka semua, semua makhluk hidup akan melepaskan bentuk kehidupan mereka kelompok batin dan jasmani. Walaupun Ia seorang Guru Jagad seperti Beliau, yang tiada taranya, yang perkasa Tathagata Sambuddha Parinibbana juga."

Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini:

"Segala yang berbentuk tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam, Setelah timbul akan hancur dan lenyap, Bahagia timbul setelah gelisah lenyap."

Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini:

Tanpa menggerakkan napas, namun dengan keteguhan batin, bebas dari keinginan dan segala ikatan, demikianlah Sang Bijaksana mengakhiri hidupnya. Walaupun menghadapi saat maut, Beliau tak gentar, batinnya tetap tenang. Bagaikan padamnya nyala lampu'
Beliau mencapai kebebasan.


Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, Ananda mengucapkan syair ini:

"Maka terjadilah kegemparan sehingga bulu roma berdiri, ketika Sang Buddha parinibbana."

Demikianlah, ketika Sang Bhagava meninggal, beberapa bhikkhu yang belum melenyapkan kesenangan napsu dengan mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: "Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan."

Tetapi para bhikkhu yang telah bebas dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung dalam batin: "Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?"

Kemudian bhikkhu Anurudha berkata kepada para bhikkhu: "Cukuplah para avuso! Janganlah berduka cita, janganlah meratap! Karena bukankah Sang Bhagava dahulu telah menyatakan bahwa segala sesuatu yang disayangi dan yang dicintai itu tidaklah kekal, pastilah ada perobahan, pergeseran serta perpisahan ? Apa yang timbul dalam perwujudan, kelahiran sebagai makhluk dalam bentuk yang berpaduan itu, pasti akan mengalami kelapukan; maka hal ini tidak lenyap. Para dewa juga sangat berduka cita."

"Tetapi, para dewa manakah yang disadarkan oleh bhante?" tanya Ananda.

"Ananda, para dewa angkasa dan bumi yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, dengan rambut kusut sambil mengangkat tangan, mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari.

Mereka meratap sambil berkata : "Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan akan lenyap dari pandangan."

"Tetapi para dewa yang telah bebas dari hawa nafsu, dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: "Segala sesuatu adalah tidak kekal bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi jika tidak demikian?"

Dikisahkan pada waktu itu, di tempat perabuan, tempat orang suku Malla asal dari keluarga yang terkemuka telah mandi dan berkemas dengan bersih lalu mengenakan pakaian-pakaian yang baru dengan pikiran: "Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava itu."

Lalu mereka berusaha mengerjakan hal itu, tetapi mereka tak dapat. Setelah itu suku Malla berkata kepada Anuruddha demikian: "Bhante Anuruddha, mengapa keempat orang dari keluarga yang terkemuka, yang telah mandi dan berkeramas dengan bersih serta mengenakan pakaian-pakaian baru mempunyai pikiran: 'Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava.' Mereka berusaha melakukan hal itu, tetapi tak dapat."

"Vasettha, kamu mempunyai satu maksud tetapi para dewa mempunyai maksud lain." "Bhante, apakah maksud para dewa itu?"

"Maksud dari para dewa adalah demikian: "Bhikkhu Maha Kassapa sedang dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, bersama serombongan para bhikkhu yang berjumlah sampai lima ratus orang. Jangan nyalakan api perabuan Sang Bhagava itu, sebelum bhikkhu Maha Kassapa tiba untuk menghormati jenasah Sang Bhagava."

"Kalau demikian, apa yang dikehendaki para dewa itu, biarkanlah terlaksana."

Kemudian di hari ke tujuh, rombongan Maha Kassapa tiba di tempat pancaka Sang Bhagava di Cetiya dari suku Malla, Makuta-bandhana, di Kusinara. Beliau lalu mengatur jubahnya pada salah satu bahunya, dan dengan tangan tercakup di muka, beliau menghormat Sang Bhagava; beliau berjalan mengitari pancaka tiga kali, kemudian menghadap pada jenasah Sang Bhagava, lalu beliau berlutut menghormat pada jenasah Sang Bhagava. Hal yang serupa itu, juga dilakukan oleh kelima ratus bhikkhu itu.

Demikianlah setelah dilakukan penghormatan oleh Maha Kassapa beserta kelima ratus bhikkhu itu, maka di pancaka Sang Bhagava lalu terlihat api menyala dengan sendirinya dan membakar seluruhnya.

Segera setelah kematian Sang Buddha, yaitu 3 bulan kemudian, diadakan pertemuan 500 arahat di Goa Satapani, Rajagraha yang dipimpin oleh YA.Maha Kassapa. Selama 2 (dua) bulan, mereka menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma. Dengan cara ini, ajaran-ajaran Sang Buddha tidak hilang, dan kita masih dapat mendengarnya sekarang.

Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma - Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma - Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravãda. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravãda dan Mahayana.
 
bacaan ini dikutip dari: http://wirajhana-eka.blogspot.com/2007/10/negara-dimana-buddha-dibesarkan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar